Skip to main content

Jazz di Rotterdam

Jazz Di Rotterdam
Baru kali pertama aku menonton Jazz. Dan aku jatuh cinta pada musik ini. Minggu malam di Rotterdam diadakan acara Pra Makassar Etnojazz. Sebuah acara yang diadakan oleh komunitas jazz di Makassar untuk persiapan acara Jazz di Makassar. Seminggu lalu juga diadakan Jazz at Fort Rotterdam, sebuah pentas jazz tahunan yang dihadiri oleh musisi jazz nasional. Tapi saat itu tidak sempat hadir.

Acara ini seperti sebuah oase bagiku yang telah lama ingin menonton acara Jazz. Menyenangkan rasanya mendengar lagu dalam bahasa Bugis Makassar disajikan dalam alunan jazz yang bercampur dengan instrument music lokal. 

Malam menjadi tua. Langit bertabur bintang di atas Rotterdam. Angin berhembus dingin. Tapi music jazz terasa menghangatkan. Alunan musiknya membuat para penikmat tak diam menggoyangkan kepala atau kakinya ,mengikuti alunan ritme yang harmoni dalam sebuah keteracakan.

Comments

Popular posts from this blog

Make Over Yang Aneh

Aku sudah mencoba. Semampuku. Tapi masih saja tampak aneh menurutku. Mataku sudah tak bisa berkompromi.Aku sudah harus tidur. Besok masih ada kerja yang menunggu diselesaikan. Mungkin minggu depan lagi aku utak atik lagi blog ini. Maafkan aku...

mau posting tapi bervirus

sedihnya...padahal dwi mau memposting tulisan tentang kampanye matikan tv di losari kemarin. tapi apa daya filenya tak bisa terbuka. jadi untuk kali ini, dwi hanya mamapu memberi foto.... aaahhhhhrrrrrrgggggg....foto pun tak bisa terupdate. ish..ish..ish....

Terseret Hunger Games

sumber : www.imdb.com Boleh dibilang saya agak telat kena demam Hunger Games. Saya belum membaca bukunya yang kabarnya masuk dalam jajaran best seller luar negeri. Ketika filmnya keluar, saya tidak antusias untuk menontonnya. Beberapa hal yang membuat saya tidak terlalu tertarik pada Hunger Games ini pertama ceritanya yang terlalu adventure. Saya tipe pembaca serial romance dan berkaitan dunia sihir. Tak heran saya tertearik pada Harry Potter, Twilight, dan serial buku karya Rick Riordan. Kedua, saya tidak begitu memperhatikan rekomendasi yang menulis tentang buku ini. Saya termasuk tipe pembaca yang tidak berpatokan pada review. Bagi saya, buku dan saya saling menemukan. Meski kadang saya berujung pada kekecewaan. Tapi bagi saya disitulah letak seni membaca. Selanjutnya, saya kurang tertarik pada sinopsis yang dituliskan di buku Hunger Games. Ya, seperti saya bilang tadi saya tipe orang yang lebih menitiberatkan pada serial romantis. Pandangan awal saya, Hunger Games terlalu ...