Skip to main content

Tahun 2010 : Yuk Ke Museum



Museum.Sebuah tempat yang memerangkap masa lalu. Penuh dengan unsure horror dan mistik. Ia seakan menjadi portal lubang waktu yang bias membawa tiap pengunjung dalam dimensi lain kehidupan masa lalu.

Tapi museum berdiri dalam sunyi. Khususnya di Indonesia, animo orang untuk datang berkunjung, melihat-lihat dan belajar dari masa lalu di museum tidaklah begitu besar. Orang-orang lebih tertarik pada hingar bingar mall dan tempat rekereasi lainnya. Tapi tidak dengan museum. Museum identik dengan sesuatu yang kuno dan sangat tidak up to date.

Bahkan tamasya anak-anak sekolah yang sering diadakan tiap libur kenaikan lebih kelas lebih memilih untuk berekreasi ke pantai atau tempat permandian daripada harus ke museum.

Aku menyukai museum. Sejak kecil aku mulai tertarik untuk mendatangi museum. Bagiku museum begitu misterius, penuh dengan berbagai hal-hal mistik dan sangat indah.

Museum pertama yang aku datangi adalah benteng Rotterdam. Aku mengunjunginya waktu aku kelas 4 SD. Saat itu aku begitu takjub dengan segala benda di dalamnya. Padahal tak ada yang istimewa pada koleksinya. Yang paling aku ingat hanyalah sebuah patung replika salah satu pahlawan daerah Sulawesi selatan. Entah itu Hasanuddin atau bukan.


Saat mengunjungi Benteng Somba Opu, aku tak pernah membayangkan bangunan benteng itu sudah tak ada lagi. Yang ada hanyalah prototype bangunan rumah dari seluruh kabupaten di Sulawesi selatan.

Mungkin ketika aku pergi ke suatu tempat nanti, berkunjung ke museum adalah list tempat yang harus aku datangi.
Jakarta yang full museum. Boscha di Bandung. Atau sekalian ke Amerika di Washington DC. Tahun 2010 dicanangkan pemerintah untu kembali mengunjungi museum. Mungkin untuk saat ini pilihanku tidaklah terlalu jauh. Museum Kota di Makassar dan juga Bola Soba di Bone. Hanya saja aku belum punya waktu untuk diluangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Black Swan

Si angsa hitam jahat yang begitu licik merebut hati pangeran sehingga angsa putih harus mengalah dan mati dalam kesedihan. Swan lake adalah dongeng yang sering aku dengar saat kecil. Kadang pula aku nonton versi kartun berbienya di televisi. Namun, untuk versi anak-anak swan lake selalu berhasil mendapatkan cinta sang pangeran dan hidup bahagia selamanya. Sedangkan dalam film yang dibintangi Natalie Portman, Sang Black Swan menjadi benang merah cerita. Ia menjadi karakter yang menang. Seorang gadis baik-baik harus berusaha menghayati peran sebagai angsa hitam jahat agar ia mampu tampil sempurna. Setiap kita memiliki sisi black swan. Meski setiap hari berusaha menampilkan sisi angsa putih yang begitu baik, ramah, dan sopan. Tapi ada saat dimana sang angsa hitam bergerak diam-diam dari dalam diri kita. Muncul di bawah alam sadar manusia dan keluar begitu saja. Selalu ada potensi black swan dalam diri manusia. Aku menyukai karakter black swan. Ia ditakdirkan untuk jahat tanpa perlu unt...

Music Is Magic

Musik. Aku selalu menganggap bahwa ia adalah salah satu penemuan yang paling berpengaruh di dunia. Albus Dombledore pun bersepakat dengan itu. "Ah, music," he said, wiping his eyes. "A magic far beyond all we do here" (Harry Potter And The Sorcerer's Stone). Musik dan lagu adalah sebuah sihir yang mampu merubah banyak hal. Mood, bahagia, sedih, dan bahkan kematian pun terekam indah karenanya.  Aku tak menguasai instrumen apapun. Dan jangan memintaku menyanyi satu lagu pun. Aku menikmati musik dengan cara berbeda. Mungkin agak berbeda antara musik dan lagu. Tapi disini, aku akan menyamakannya. Disini musik adalah sebuah lagu. Yang penuh lirik singkat namun memiliki arti yang sangat dalam.  Ia tak ada bedanya dengan puisi jika berdiri dalam sebuah larik-larik bait tanpa diiringi nada. Namun, ia kemudian menjadi begitu lebih membumi ketika bait-bait itu teralunkan bersama musik. Aku agak susah menikmati puisi. Beberapa baitnya...

Setelah Setahun

Sore ini saya menyempatkan diri ke Watampone. Ibukota kabupaten Bone tempat saya tinggal.Berjarak 20 km dari kampungku. Tak ada maksud lain. Hanya sekedar menemani orang rumah ke sana. Melihat-lihat keramaian. Awalnya sempat kuurungkan niatku untuk ikut. Sendirian mungkin baik buatku untuk menulis. Tapi rasanya aneh juga untuk sendirian di rumah. Anggaplah sekedar jalan-jalan, pikirku. Aku tak punya kenangan masa kecil di kota ini. Selain sebuah toko di pusat kota (biasa disebut sentral) bernama Naga Sari tempatku membeli majalah bobo dan majalah remaja. Yang disampingnya dulu entah sebelah mana ada toko kaset tempat kakakku membeli kaset dari Kahitna hingga Bon Jovi. Selain itu aku tak punya lagi kenangan tentang kota ini. Saat SMA kelas dua bersama teman mengikuti sebuah lomba tingkat kabupaten. Aku pun mulai mengenal lebih jauh lagi tentang kota ini. Ada sisi kota lain selain sentral. Sisi yang lebih ramai kala malam. Yang lampunya lebih banyak dan belum tidur saat jam 9 malam. Si...