Skip to main content

Belajar Mencintai

Hidup adalah fana. Segala benda yang ada di semesta hanyalah materi yang akan hilang suatu saat kelak. Daging yang membungkus tubuh akan menyusut dan kemudian kembali ke asal. Semua akan menjadi debu. Dan debu menjadi tiada.

Lantas mengapa kita selalu sedih pada setiap kehilangan? Mungkin jawabnya karena cinta adalah abadi. Dan ketika cinta adalah abadi, apakah ia tak lagi mampu tumbuh dan berkecambah. Menjadi pohon-pohon cinta yang lain? Aku yakin cinta takkan pernah mati. Ia kekal dan melingkupi tiap benda di semesta. Ia ada dan terus berkembang. Bertumbuh dan berjumlah seluas semesta.

Kehilangan memang menyakitkan. Memantik rasa di hati. Membuat senyum berubah ke derajat 180. Membuat mata kehilangan binar. Membuat wajah tak berona. Membuat hari menjadi suram dan tak bersemangat. Tapi hati punya penawar. Ia bernama waktu. Biarkan waktu menyembuhkan sakit. Biarkan waktu mengeringkan airmata.

Karena waktu bisa mencarikan pengganti. Waktu bisa member ikan cinta yang lain. Manusia akan belajar mencintai pengganti. Dan mampu memaafkan masa lalu. Karena manusia yakin dengan cinta yang dimilikinya semua hal telah mengekal di dalamnya.
Dan selalu ada cinta yang dimulai dari rasa suka….
Selamat mencintai

(Saat Cepol tersayangku hilang.Aku belajar mencintai penggantinya, tapi ketika aku mau memposting tulisan ini, ternyata cepol itu tertinggal di warnet. Dan ia telah kembali lagi ke tanganku…horreee!!!!)

Comments

Popular posts from this blog

jurnalistik siaran, pindah kost-kostan, dan "capek deh!"

Akhirnya, kembali bisa menyempatkan diri sejenak ke Teras Imaji. Sedikit berbagi kisah lagi dengan diri sendiri. Sekedar untuk sebuah kisah klasik untuk Saraswati dan Timur Angin kelak. Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa bertahan sampai saat ini.meski tugas kuliah menumpuk. Keharusan untuk pindah pondokan. Kewajiban lain yang belum terselesaikan.Problem hati yang menyakitkan. Serta kontrak yang tersetujui karena takut kehilangan peluang meski tubuh ini harus sudah berhenti. Siang tadi (15 nov 06) seharian ngedit tugas siaran radioku. Tak enak rasanya pada teman-teman, memberatkan mereka. menyita waktu yang seharusnya untuk hal lain. Tak enak hati pada Pak Anchu, penjaga jurusan. yang tertahan hanya menunggu kami menyelesaikan tugas itu. Dengan modal suara fals nan cempreng toh aku pun akhirnya harus sedikit PD untuk membuat tugas itu. Meski hanya menguasai program office di komputer, toh aku harus memaksakan belajar cool-edit (yang kata teman-teman yang udah bisa merupakan sesuatu...

tentang buku

"...u can buy many book,but u can't buy a knowledge" 081383118xxx pesan itu sampai ke ponselku beberapa saat setelah aku mengeluh pada seseorang tentang buku "detik-detik menentukan" BJ.Habibie yang tak berhasil aku peroleh dari peluncuran bukunya di hotel clarion hari ini. iya mungkin benar...aku terlalu mengharapkan buku yang ditulis mantan presiden ketiga ini.padahal ku punya begitu banyak buku yang bertumpuk di kamar. Belum pernah aku jamah sedikit pun. aku tak tahu beberapa hari terakhir ini aku begitu jauh dari buku. jauh dari para pengarang-pengarang besar dengan segala masterpiece-nya. akuy begitu malas membaca. malas membuka tiap lembar buku tebal itu dan memplototi huruf-hurufnya yang kecil. "tahu tidak...buku bisa membawa kesuatu tempat tanpa kamu harus bergesr se-inci pun" kata-kata itu selalu keluar jka aku mengeluh sedang malas baca buku... entahlah aku begit malas mengetahui tiap isinya. aku hanya terpesona pada banyak tumpukannya di kam...

Pride and Prejudice : I’m Bewitched

Tak pernah kusangka saya akan jatuh cinta pada film Pride and Prejudice. Waktu kuliah dan masa-masa belum punya anak, saya tidak pernah tergerak untuk menonton film ini. Prasangka saya terhadap film ini sudah tumbuh sejak memiliki versi Film India di tahun sebelumnya. Mungkin karena hal itu saya kemudian tidak tertarik menontonnya.   Namun karena episode-episode drama korea yang aku nonton udah habis, ditambah kebosanan pada topik medsos yang masih heboh dengan pilpres, dan juga pengaruh hari valentine yang menyebabkan algoritma lapak streaming merekomendasi film-film romantis menjadi sebab akhirnya saya menonton film ini Semuanya berawal dari ketidaksengajaan menonton Atonement yang diperankan oleh Kiera Knightley. Film ini cukup bagus, meski di tengah jalan saya udah kena spoiler via wikipedia dan rada senewen dengan endingnya. Tapi kecantikan Kiera Knightley tetap mampu membuat saya menyelesaikan film itu sampai detik terakhir. Saking senewennya dengan ending Atonement, sa...