Skip to main content

Ketika Ara Belajar Ngoceh

Ara dan Ayah duet di dapur
"Lalalalalaala...au....baaaa". ia berdiri disampingku. berpegangan pada kursi sambil memegang pisang yang sebari tadi dimakannya. sambil juga berusah berjalan mengitari kursi. Sambil makan ia sesekali ngoceh. "awawawawa" yayaiyaiyai". Ia jarang bersuara. Jika keluar dan berjalan-jalan ia lebih memilih diam mengamati. Tanpa ada suara apapun. Merekam dengan mata. begitu pula jika banyak orang. Ia lebih memilih diam dan memperhatikan.

Oang-orang menyebutnya pendiam. kupikir ia imajinatif. Saat sendirian dan harus bermain dengan mainannya ia akan mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya. serupa menyanyi mungkin. bersenandung tepatnya. Jika sedang demikian, selalu dipastikan bahwa suasana hatinya sedang senang. Kecuali jika ia hendak melakukan sesuatu namun tak sanggup ia lakukan maka ia akan merengek meminta pertolongan. Jika ingin menunjukkan sesuatu ia akan mengangkat benda yang dimaksud dan berkata "aubaci' atau "mbah". Mungkin terjemahannya ini apa.

Akhir-akhir ini ia suka menggumam kata ayayayayaya yang selalu membuat ayahnya GR. Setiap Ara berkata "aya", sang ayah dengan cepat menjawab "iya". Padahal Ara cuma sekedar mengoceh dan tak ada niatan untuk memanggil ayahnya. Tapi ayah yang mana tidak bakal senang jika mendengar namanya dipanggil.

Ara malah sangat jarang memanggil Mama. Saya tak pernah lagi mendengar ia memanggil "mamamaama". Mungkin ia sudah bosan menggunakan kata tersebut dan lebih senang ngoceh "ayayayayaya". (*)

Comments

Popular posts from this blog

babel

Sebenarnya tak ada planing untuk menonton film. hanya karena kemarin arya dan kawan-kawan ke TO nonton dan tidak mengajakku. Dan kemudian menceritakan film 300 yang ditontonnya. Terlepas dari itu, sudah lama aku tak pernah ke bioskop. Terkahir mungkin sam kyusran nonton denias 2 november tahun lalu. (waa…lumayan lama). Dan juga sudah lama tak pernah betul-betul jalan sama azmi dan spice yang lain J Sebenarnya banyak halangan yang membuat kaimi hampir tak jadi nonton. Kesal sama k riza, demo yang membuat mobil harus mutar sampe film 300 yang ingin ditonton saudah tidak ada lagi di sepanduk depan mall ratu indah. Nagabonar jadi dua, TMNT, babel, dan blood diamond menjadi pilihan. Agak ragu juga mo nonton yang mana pasalnya selera film kami rata-rata berbeda. Awalnya kami hampir pisah studio. Aku dan echy mo nonton babel atas pertimbangan sudah lama memang pengen nonton. (sebenarnya film ini udah lama aku tunggu, tapi kemudian gaungnya pun di ganti oleh nagabonar dan 300). Serta pem...

Dapat Kiriman Moneygram

Ini adalah pengalaman pertama saya mendapatkan kiriman uang dari luar negeri. Sedikit norak dan kampungan sih. Tapi tak ada salahnya membaginya di sini. Setelah saya googling di internet kurang yang mau berbagi pengalaman tentang transferan luar negerinya. Nah, karena Kak Yusran yang bersekolah di Amerika berniat mengirimi saya uang buat tiket ke Bau-Bau, maka dia akhirnya mengirimkan uang. Dalam bentuk dollar lewat jasa layanan Moneygram yang banyak tersedia di supermarket di Amerika. Moneygram sama seperti Western Union. Tapi Western Union lebih merakyat. Mereka bekerja sama dengan kantor Pegadaian dan kantor pos. Sehingga di kampungku pun ada fasilitas Western Union (tapi saya belum tahu berfungsi atau tidak). Moneygram sendiri setahu saya hanya bekerja sama dengan beberapa bank. Saya belum pernah tahu kalo Moneygram juga sudah bekerja sama dengan kantor pos, meskipun informasi dari teman-teman di twitter mengatakan demikian. Jasa layanan pengiriman uang macam Moneygram dan Western ...

Melayani dan Terlayani

Saya seorang customer service. Memberi pelayanan sudah menjadi kewajiban saya. Ketika saya memberikan pelayanan maksimal dan nasabah terpuaskan maka target pencapaian dari resultku adalah 100%. Dan itu adalah sesuatu yang sangat biasa. Tak ada yang menjadi istimewa di kondisi itu. Karena tugas customer service adalah tugas pelayan. Menanyakan apa permintaan nasabah dan menghadirkan kondisi tersebut dengan cepat, tepat, dan akurat. Namun tak jarang, customer berada di titik ekspektasi terlalu tinggi, sedangkan kenyataan di lapangan pelayan nasabah tak mampu memberikan hingga mencapai titik ekspektasi tersebut. Perbedaan antara das sein dan das solen inilah yang kadang membuat customer merasa tak terlayani. Level kepuasan mereka tak mencapai titik tertinggi. Bahkan di titik paling ekstrem, terkadang nasabah melakukan langkah taktis berupa penarikan secara besar-besar hingga berhenti menggunakan jasa yang diberikan karena hilangnya sebuah kepercayaan. Semua disebabkan pada sebuah pelayana...