Skip to main content

Kuberharap Memutar Waktu

Jika mengenalmu adalah sebuah peluit pertanda pertandingan, maka aku sangat berharap mampu memutar waktu dan mundur dari arena. Aku tak pernah tahu bahwa pertandingan yang kita mulai membawaku kepada kekalahan yang menyakitkan. Kekalahan hati yang jatuh cinta padamu.

Kupikir awalnya ini hanyalah seperti bermain gunting batu kertas. Kita adalah orang asing yang bertemu dalam sebuah kebetulan. Saling menyapa sekedar formalitas. Tapi entah mengapa perkenalan biasa itu menjadi akrab dan intim. Jauh sebelum permainan ini mulai serius aku telah mampu meprediksi diriku akan kalah. Tapi daya tarikmu begitu kuat dan aku tunduk dan patuh. Mengikuti alur permainanmu.

Kudapati diriku disesaki cinta kepadamu. Namun tak pernah kuyakini besaran cinta yang sama dari dirimu. Kita tak pernah benar-benar berbicara tentang hati. Yang kita punya adalah gairah yang menggetarkan saat bersentuhan. Aku memaknainya dengan cinta, tapi kamu tak pernah meyakinkan diriku bahwa getar yang kau miliki adalah cinta.

Aku melawan ingatan. Berusaha untuk lupa. Namun tiap kali aku melawan sakitnya serupa ribuan sembilu di hati. Pertandingan telah berakhir. Kau pergi dengan sejumput kemenangan dari hatiku yang telah kuserahkan sepenuhnya. Mencari petarung yang lain,mungkin.

Kau meninggalkan luka yang menganga yang perlahan berusaha kusembuhkan dengan rapal mantra kebencian untukmu.

Di tiap malam, kala kuterjaga dari mimpi tentangmu aku harus menyeka air mata. Menguatkan diriku. Merapalkan mantra mantra ke langit kutujukan khusus untukmu. Urusan tak boleh mengutuk, biar menjadi urusan antara aku dan Tuhan. Aku perlu menambal hati. Mungkin bahkan mencari gantinya. Karena kuyakin kau telah merusaknya dengan sangat hebat.

Aku masih berusaha menebak mengapa Tuhan mempertemukan kita. Jika bisa kuputar waktu aku ingin kita tak perlu bertemu dan saling berkenalan.

Ps : untuk diikutkan pada #15harimenulisblog
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

Popular posts from this blog

Sebelum Salju Mencair

Dua hari ini Athens diselimuti awan hitam. Mendung. Cuaca menjadi dingin. Hujan pun turun. Kemarin cuaca mencapai titik minus. Titik hujan jatuh ke bumi menjadi butiran salju. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon pinus tunduk patuh pada gerak angin. Tengah malam kristal-kristal beku itu mencumbui tanah Athens. Jutaan butir yang bertumpuk menutupi tanah, jalan, dan segala permukaan yang dijangkaunya. Permadani putih seketika terhampar menyelimuti bumi. Seperti kepompong yang menyelubungi ulat untuk menjadikannya kupu-kupu. Ini salju nak, coba yuk! Hingga pagi hujan salju masih belum reda. Butiran es itu seolah bersuka cita turun ke bumi. Meliuk-liuk mengikuti gerak angin hingga mendarat dengan sempurna di tanah. Mereka seakan berpesta dan enggan mengakhirinya. Hingga siang, butiran-butiran itu seakan tidak jenuh untuk terus meninggalkan jejak. Kulihat seseorang menuntun anjingnya bermain di tengah salju, Bodoh pikirku bermain-main di salju yang dingin. Bikin frosty ternyata s...

Dunia Kafka, Dunia Surealis Murakami

Judul : Dunia Kafka ( Kafka On The Shore) Penulis : Haruki Murakami Penerbit : Alvabet Kafka Tamura, anak laki-laki 15 tahun memutuskan pergi dari rumahnya di Nakano meninggalkan ayahnya. Dengan tujuan menjauh dari ayahnya yang tidak lagi peduli dengannya dan mencari ibu dan kakak perempuannya. Ia lari ke Takamatsu dan tinggal di sebuah perpustakaan.  Nakata, pria paruh baya yang karena sebuah peristiwa pada saat perang kehilangan kemampuannya untuk membaca, menghitung, namun menguasai bahasa kucing. Hingga suatu hari ia harus membunuh seseorang untuk menyelamatkan sebuah kucing.  Dua tokoh ini memiliki cerita berbeda pun memiliki keterlibatan secara tidak langsung. Dengan label surealis pada sinopsis buku ini, maka pembaca harus siap menemukan cerita yang tidak mampu diterima logika. Dunia di luar materi, yang tidak terikat waktu.  Tapu bukan Murakami namanya kalo tidak menyisipkan renungan panjang dalam ceritanya. Menurut pembacaan saya, Murakami mencampur bumbu kegalau...

Urus Paspor, Kupikir Jadi Lebih Baik. Nyatanya...

Saya kembali harus berkutat dengan pengurusan paspor di kantor Imigrasi klas 1 Makassar. Kali ini paspornya Ara. Bayi kecil yang belum cukup setahun itu belum juga punya KTP tau-taunya sudah harus mengurus paspor. Mengurus paspor untuk anak dibawah 17 tahun tak ada bedanya dengan orang dewasa. Kartu keluarga, akte lahir, ditambah surat pernyataan dari orang tua dan KTP orang tua. Surat pernyataan biasanya diperoleh saat mengambil formulir pengajuan paspor. Sebenarnya untuk formulir tidak dikenakan tarif. Tapi entah kenapa di imigrasi makassar satu lembar formulir dikenakan harga 20.000 rupiah (formulir,sampul paspor, dan Map). Sedangkan jika ditambah surat pernyataan maka totalnya 28.000 rupiah. Awalnya estimasi waktu pengurusan kupikir akan cepat. Namun ketika memasukkan berkas, KTPku tidak sesuai dengan alamat di Kartu keluarga. KTPku masih KTP bone sedangkan kartu keluarga beralamat Baubau. Jadilah menunggu resi KTP dari Baubau. Mengurus paspor tidaklah seperti mengurus KTP...