Skip to main content

Di Jendela Itu

Pesawat yang akan menerbangkanku ke Makassar mulai boarding. Aku mulai mengemasi travel bagku.
"Aku check in dulu y" kataku padanya.
"Sehabis check in kembali lagi ke sini y" katanya dengan wajah memelas.
Aku tersenyum mengangguk.
---
Aku sangat tahu hari ini. Hari terakhirku bersamanya. Setelah beberapa hari yang kami lalu begitu menyenangkan. Menghabiskan senja di bibir pantai. Membiarkan debur ombak menjilati kaki kami yang telanjang. Kami adalah serupa alien yang terdampar di bumi. Berbagi cinta. Meniadakan posisi kami pada hubungan-hubungan yang lain. Kami adalah sepasang manusia yang tepat, di tempat yang tepat, namun sayang waktu yang berdiri diantara kami lah yang salah. Kami harus kembali pada dunia sosial kami. Alien-alien yang harus kembali ke planetnya masing-masing. Kembali pada hari biasa dan kehidupan biasa.

Aku sangat paham setelah aku meninggalkan pulau ini semua akan menjadi kenangan. Meski kami berjanji kelak akan datang dan nengunjunginya, aku sangat paham bahwa semua takkan pernah sama. Waktu bergerak di antara kami. Dan semua bergerak bersama waktu.

---
Aku mengenggam tangannya. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami. Kami hanya berbicara lewat sentuhan. Hingga sebuah pengumuman dari wanita bersuara cantik yang memberitahukan bahwa peswat yang kutumpangi akan segera berangkat.

" Aku hanya ingin memastikan satu hal" katanya. "Apa?"Tanyaku. "Kita saling mencintai bukan?"Tanyanya. Aku mengerjapkan mata. Tersenyum dan mengangguk. "Ya, kita saling mencintai" kataku.

"Aku harus pergi" kataku lagi. Ditariknya nafasnya. Dalam dan berat. "Ya, kupikir setelah ini kita akan melanjutkan kisah kita masing-masing. Berbeda halaman mungkin. Tapi aku berharap kita masih dalam satu buku" katanya.
---
Kulepas genggamanku. Melangkah masuk ke dalam bandara. Ku tak lagi berbalik. Pintu kaca menutup otomatis di belakangku. Aku mampu merasakan jejak pandangannya tertuju kepadaku. Ke punggungku. Aku masih merasakan tatapannya di balik jendela kaca. Tatapan yang memintaku untuk berbalik sejenak. Aku bimbang. Harus kah? "Aku ingin melihatnya skali lagi" batinku.

Aku berbalik. Menemukan wajahnya di jendela kaca. Aku menghampirinya. Tersenyum padanya. Ingin kugenggam tangannya. Namun yang aku jangkau bukanlah sela-sela jemarinya. Hanya kaca jendela dingin yang tembus pandang. Tak mampu kusentuh dirinya,meski ia begitu nyata dan dekat. Aku tersenyum getir. Menguatkan hati dan kemudian melangkah menjauh. Tatap matanya masih mampu kurasakan di balik punggungku.

#15harimenulisdiblog #9 #jendela
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

  1. melankolia lagi kalo kata saya.. tapi saya suka sih yang model melankolia begini... sebutannya sih galau, mungkin... =))

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Review #1 Trilogi Jendela-Jendela, Pintu, dan Atap

Akhirnya saya menamatkan trilogi Jendela, Pintu, dan Atap karya Fira Basuki. Membaca buku ini terbilang cukup telat mengingat buku ini ditulis pada tahun 2001 dan sudah mengalami 10 kali cetak ulang.  Untuk pertama, saya ingin mereview buku Jendela-Jendela.Review berikutnya akan ditulis terpisah. Nah, sebelumnya saya bukanlah pembaca Fira Basuki. Sejauh ini saya hanya membaca buku Astral Astria dan Biru karyanya. Dua buku yang ditulis kemudian setelah menuliskan trilogi ini.  Jendela-jendela bercerita tentang seorang perempuan bernama June yang mengalami cukup banyak perubahan dalam hidupnya. Mulai dari kuliah di Amerika, menjadi editor majalah Cantik di Indonesia, kemudian menikah dan pindah ke Singapura. Menepati rumah susun sederhana dan menjadi ibu rumah tangga. Ceritanya mirip-mirip hidup saya pas bagian ibu rumah tangga. Hahaha.  Transisi hidup yang cukup glamor saat kuliah di Amerika dengan tanggungan orang tua serta limpahan hadiah mahal dari pacarnya ke kehidupan...

Hilang ..(Lagi)

Aku tak menemuinya lagi di dapur belakang.Entah di mana lagi dia kini. Mungkin di bawa seseorang tanpa permisi (lagi). Yah,ini kedua kalinya barang-barangku hilang.Kali ini aku tak yakin kapan hilangnya. Telah lama aku tak menggunakannya.aku lebih memilih untuk makanan di luar. Mungkin ini juga aksi protesnya karena tak pernah di pakai. Ya…seperti yang selalu mama bilang “mungkin ada seseorang di luar sana yang lebih membutuhkannya” Kali ini tak usah bilang pada Etta. Biarlah aku menggantinya sendiri. Nanti,ketika aku tak lagi tinggal di pondok safar…

Norwegian Wood

Cukup melelahkan membaca Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Buku yang telah kulihat wujudnya sejak tahun 2004 baru aku baca di tahun 2013. Saya tidak terlalu akrab dengan karya-karya Haruki Murakami. Buku Norwegian Wood ini adalah karyanya yang pertama saya baca.  Mengapa saya berkata buku ini cukup melelahkan? Karena buku ini bercerita tentang kematian dan sangkut pautnya dengan orang-orang yang ditinggalkan. Bukan kematian yang disebabkan sakit atau tua. Tapi kematian orang-orang muda yang memilih bunuh diri.  Bersetting tahun 1970an di Jepang, sang tokoh utama, Watanabe menceritakan kembali kisahnya. Ia bertemu kembali kekasih almarhum temannya yang memilih mati bunuh diri di usia 17 tahun. Sekalipun tidak akrab mereka selalu bersama. Berkeliling mengitari Tokyo tanpa tujuan. Hingga sang perempuan, Naoko masuk panti rehabilitasi gangguan jiwa. Ia lantas bertemu Midori, perempuan nyentrik yang selalu berkata seenak dia. Perempuan yang selalu jujur mengatakan apapun yang i...