Skip to main content

Rumah Kita

Aku selalu menyenangi membayangkan tentang rumah yang akan kita miliki di masa depan. Rumah kecil. Dengan pemandangan laut yang indah. Tak perlu yang terlalu besar, agar kita tak terlalu berjauhan jika tidak berada dalam ruangan yang sama. Aku ingin ia berlantai dua. Lantai pertama adalah aku ingin ada ruang tamu, kamar tamu, dapur,dan ruang tengah. Lantai duanya kuinginkan kamar kita, kamar anak-anak. Ruangan berbeda untukku dan untukmu agar ketika kita butuh waktu privacy kita tak perlu harus keluar rumah. Kita adalah dua orang yang kadang menyukai kesendirian. Dalam kesendirian kita merenung. Menulis dan berkarya.

Di bagian tengah lantai kedua, aku ingin membuat perpustakaan. Tempat kita menaruh ratusan buku-buku kita. Buku-buku yang beranak pinak setiap kita berada di sebuah tempat dalam kurun waktu lama. Tak perlu ada kursi di ruangan itu. Aku membayangkan meja-meja pendek dengan bantal-bantal duduk yang empuk. Serta jendela-jendela kaca yang besar. Agar cahaya matahari puas masuk memenuhi ruangan. Di ruang pribadi kita masing-masing pun kaca jendelanya harus besar. Bukankah laut menjadi pemandangan di luar rumah kita. Akan sia-sia jika tak menikmatinya dengan puas. Aku ingin ada teras di lantai dua. Pas menghadap ke laut. Jika malam kita mampu menikmati lautan, ombak, dan angin yang berhembus.

Ada halaman kecil di depan. Satu pohon mangga besar yang berbuah manis tiap musim hujan. Tumbuhan bunga yang asri. Pohon itu tempat anak-anak kita memanjat-manjat. Biarlah mereka memanjat,asal tak jatuh saja.

Kubayangkan menungguimu pulang dari kantor. Memasakkan makan siang untukmu. Menemani anak-anak bermain dan belajar di rumah. Sesekali mengundang teman-temannya membaca dongeng. Jika sore tiba kita akan bersepeda bersama. Aku, kamu, dan anak-anak kita. Kemudian kita pulang jelang sore membawa begitu banyak cerita.

Saat malam kita melewatkan malam sambil bercengkrama di teras rumah. Menikmati teh hangat sambil ngobrol random tema.Memandangi bulan dan menghitung bintang. Indah bukan rumah kita?

Selalu ada hangat di sana. Tempat kita melepas semua lelah dari hingar bingar dunia. Tempat kita me-recharge kembali tenaga kita.

Rumah itu mungkin memang belum berdiri kini. Tapi hangatnya telah terasa di hati. Dimana pun kamu, hangatnya selalu bersamamu. Bersama cinta yang selalu melingkupinya.

#15harimenulisdiblog #13 #rumah
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

Popular posts from this blog

Solo dan Cerita Tentangnya

               Saya membayangkan Solo sebagai kota kabupaten yang sederhana. Kental unsur Jawa dan batik menjadi sumber penghidupan bagi para warganya. Ketika berkunjung ke kota ini pekan lalu saya menemukan cerita yang lain.  Solo menjadi kota yang sangat ingin saya kunjungi setelah beberapa tahun lalu mengunjungi Yogyakarta. Yogyakarta yang sangat Jawa, warung di sepanjang jalan, padat, dan penuh bule. Saya membayangkan Solo adalah kebalikan dari segala hingar bingar Yogyakarta.  Saya, suami, dan anak merencanakan berangkat hari jumat sore.  Sayangnya, kami kehabisan tiket kereta di stasuin gambir. Catatan penting, jangan merencanakan melakukan perjalanan dengan membeli tiket kereta perjalanan jauh di stasiun di menit terakhir akan berangkat. Tiket habis. Bahkan untuk tiket kereta eksekutif yang harga sekitar 450ribu perorang. Kami lantas memilih untuk menggunakan moda transportasi pesawat terbang yang harganya relatif sama dengan...

Chinese New Year's Story (Just For Fun)

Amani : Si Ne Er Kuai Le Ara : Gong xi Gong Xi  Ara : Let's ask for angpao Amani : That's a great idea                                 After a while....... Ara  : i got cellphone Amani  :  i just got rundown program of chinese new year Ara : maybe there's money inside the paper Amani : I hope so Amani : What are you doing? Ara : I'm Checking my facebook Amani : Do you have facebook? Ara : Absolutely  Amani : let me see Ara : Wait, i wanna twit our picture   Amani : Do u also have a twitter? Ara : Sure. Do you have?  I will follow u Amani : i should ask for cellphone instead of  piece of paper Ara : Yes, you should...hahaha Ara : Anyway, let's play around. I don't know how to use cellphone Amani : oke...

Stoples Bekas Selai Untuk Jar of Heart

Jar of heart :D Sebuah ide tiba-tiba muncul ketika membaca postingan mbak Winda Krisnadefa tentang toples bekas (baca disini ). Idenya sederhana, yaitu menuliskan best moment yang kamu alami sepanjang tahun 2013. Tulis singkat-singkat di kertas kecil kemudian masukkan dalam toples atau wadah apa saja yang kamu mau. Maksud dan tujuannya adalah biar selalu mensyukuri hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah, mumpung Januari belum berlalu maka tidak ada salahnya untuk memulai kegiatan ini. Menuliskan setiap best moment yang kita alami. Saya pribadi mendefinisikan best moment bukanlah hal-hal glamor yang terjadi sekali seumur hidup. Bagi saya best moment adalah moment-moment sederhana yang membuat kita bersyukur akan hidup. Misalnya menyelesaikan satu tulisan yang telah lama tidak selesai. Menemani anak bermain-main. Hal-hal sederhana yang membuat saya selalu bersyukur. Saya menyimpan toples bekas selai beberapa waktu lalu. Awalnya saya tidak tahu hendak menggunakannya ...