Skip to main content

Dialog Tangan

Ara : (Sibuk menggosok-gosok mukanya dengan tangan secara serampangan)

Mam : Ara sayang, tangan itu untuk makan, menulis, pegang buku. Bukan buat gosok-gosok muka sampai merah.

Ara : (Menatap serius dan mengeluarkan nada protes) Oooo

Mam : Ara, perempuan itu harus cantik. Kelak dunia akan menilaimu dari penampilan pertamamu tak peduli kamu sepakat atau tidak.

Ara : (Tetap menggosok-gosok muka dengan tangan. Mengosok matanya hingga merah. Beberapa bekas cakaran mulai tampak).

Mam : (Dengan cepat menghentikan aktivitas menggosok-gosok itu).

Ara : (Memandang tajam dan berprotes lebih keras). Ooooo Ooooo Oooo

Mam : Mungkin nanti kamu tidak sepakat pada dunia tentang segala macam bentuk kecantikan. Tapi dunia adalah juri nak. Kelak akan banyak produk-produk kecantikan yang ditawarkan untukmu. Kamu boleh tak memakainya. Tapi jangan memberikan bekas parut di wajahmu. Perempuan sejatinya indah, jadi jangan merusak wajah yang diberikan Tuhan kepadamu.

(Too late...sisi hidung bagian bawah telah mengeluarkan setitik cairan merah. Satu luka kecil lagi dari aktivitas si tangan)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

  1. araaa..penasaran banget sama ara yang semakin perempuan -kata ayahnya-. ^_^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hilang ..(Lagi)

Aku tak menemuinya lagi di dapur belakang.Entah di mana lagi dia kini. Mungkin di bawa seseorang tanpa permisi (lagi). Yah,ini kedua kalinya barang-barangku hilang.Kali ini aku tak yakin kapan hilangnya. Telah lama aku tak menggunakannya.aku lebih memilih untuk makanan di luar. Mungkin ini juga aksi protesnya karena tak pernah di pakai. Ya…seperti yang selalu mama bilang “mungkin ada seseorang di luar sana yang lebih membutuhkannya” Kali ini tak usah bilang pada Etta. Biarlah aku menggantinya sendiri. Nanti,ketika aku tak lagi tinggal di pondok safar…

Feeling Sick

Hari ini betul-betul merasa sakit. Otak dan hati tidak jalan. Rasanya mengingat pun mampu membuatku muntah. Apa yang aku butuhkan? Entahlah. Lupa mungkin. Lupa bahwa ini adalah sakit. Lupa bahwa dunia tidaklah begitu kejam.  Kadang harus belajar tidak memaksa diri. Atau membiarkan hati terasa sakit. Berpikir pun rasanya begitu menyakitkan. Ada sesuatu yang harus diselesaikan. Tapi rasanya ia begitu sulit. Meninggalkannya pun adalah sebuah hal yang salah.  Atau mungkin cuaca bumi tidak lagi cocok denganku. Oksigennya telah membuatku sesak. Aku butuh zat lain untuk bernafas. Aku selalu meyakini bahwa aku baik-baik saja. Tapi sepertinya aku sedang tidak baik-baik.   

Imajinasi Kekuasaan Pada 1984

Judul : 1984 Penulis : George Orwell Penerjemah : Landung Simatupang Penerbit : Bentang Harga : Rp. 67.000 Di masa depan di tahun 1984 (merujuk pada tahun ditulisnya novel ini 1949) negara-negara hanya terbagi dalam tiga kawasan besar Eurasia, Eastasia, dan Oceania. Oceania terpusat di daratan Inggris dan menjadi kekuatan besar. Dengan slogan Peperangan adalah damai, Kebebasan adalah perbudakan, kebodohab adalah kekuatan Oceania menjaga kontinuitas peperangan dengan Eurasia dan Eastasia. Partai menjadi penguasa yang dipimpin oleh Bung Besar. Menegakkan aturan-aturan untuk menjaga kekuasaan. Kendali kuasa tak berbatas geografis tapi juga pada bahasa, waktu dan pikiran.  Siapa  yang menguasai masa silam menguasai masa depan. Siapa yang menguasai masa kini menguasai masa lalu. Partai menjadi penguasa masa kini memiliki kuasa penuh pada masa silam dengan mampu mengubah sejarah masa lalu tanpa pernah mendapat protes. Segala masa lalu dapat dengan mudah diciptakan. Baik menciptakan ...