Skip to main content

Mencari Tepi Langit bersama Fauzan Mukrim

Bagaimana rasanya membaca buku fiksi yang ditulis oleh seseorang yang kamu kenal? Akan kau dapati banyak tokoh yang nyata adanya. Tempat yang benar-benar sesuai dan karakter-karakter kawan yang mungkin kamu kenal.

Seperti itu yang kurasa ketika membaca Novel pertama Fauzan Mukrim. Ada baiknya keperkenalkan dulu siapa Fauzan Mukrim yang kukenal. Ia adalah seniorku di jurusan Ilmu Komunikasi Unhas. Juga menjadi anggota senior UKPM tempatku mengenal pers mahasiswa. Kami bertemu waktu acara pengkaderan himpunan. Aku saat itu menjadi mahasiswa baru. Dan Ia memberi materi yang cukup berat untuk otak SMAku saat itu, Hegemoni. Ia telah jadi wartawan saat itu.

Selang berjalan, aku menyukai membaca tulisannya di blog. Kemudian ia selalu menelponku saat tengah malam dari kantornya. Kami lumayan dekat. Meski jarang melakukan diskusi-diskusi berat. Ia berasal dari Bone yang juga adalah kampungku. Meski kami beda kecamatan dan berjarak 42 km.

Pernah kami cerita berdua hingga tengah malam di bangku depan lapangan basket PKM unhas. Membahas banyak hal. Dan bercerita lucu-lucu. Kak Ochan (Sapaanku kepadanya, Dan untuk selanjutnya akan kutulis namanya sesuai panggilan akrabku padanya) adalah tipe orang yang selalu mampu memberiku kosakata-kosakata baru. Aku selalu menjiplak kata-kata yang digunakannya. Dan ….ssstttt….. aku pernah menyukainya.Pernah sempat “menembak”nya dengan terus terang.hahahaha. (Maaf Kak Desan:).

Mencari Tepi Langit bercerita tentang Senja Senantiasa, seorang wartawan yang bertemu dengan perempuan benama Horizon Santi yang memintanya untuk mencari asal usulnya. Proses pencarian yang dibumbui dengan petualangan Senja sebagai wartawan di beberapa daerah konflik.GAM, Tsunami Aceh, dan terorisme menjadi bumbu yang digunakan Kak Ochan dalam meramu Mencari Tepi langit.

Membaca Mencari Tepi Langit seperti melakukan percakapan panjang dengan Kak Ochan . Bertema berat namun selalu mampu diselingi humor-humor renyah. Bahasanya tak melulu jejeran kalimat-kalimat puitis. Sesekali diselipi sebuah joke yang kadang membuatku membayangkan gambar komik kaki-kaki berjejer dengan sbuah kata “Gubrak”.

Aku seperti disajikan sebuah kehidupan wartawan yang sebenarnya. Seperti pertentangan antara idealisme para pekerja jurnalistik dengan kepentingan perusahaan media untuk mendapatkan ratting tinggi dengan gambar cantik . Seperti di halaman 5.

“Jakarta sudah beberapa kali menelepon, menanyakan kabar dan minta “gambar cantik”. Gambar bocah sekarat pasti cantik bagi mereka”.

Buku ini menjadi semacam tour guide bagaimana proses kerja wartawan dan bagaimana jurnalistik itu terjadi. Kepentingan-kepentingan news room untuk mendapatkan gambar ekslusif demi sebuah ratting dan prestise On The Spot.Aku menemukan cerita tentang dunia lain di balik dunia jurnalistik yang hanya bisa dipirsakan lewat televisi, Koran atau radio dan internet. Kak Ochan menuturkannya dengan sangat jujur.
Tampak jelas keluasan pengetahuan penulis mulai dari teori dunia kecil, Buku George Orwells, yang ia gunakan hingga perumpamaan bugis kuno yang juga baru aku tahu (kalo kakakku kayaknya sudah tahu deh perumpamaan itu)

“Seddimi laleng tenriola. Wirring na bittarae!Hanya satu jalan yang tak bias kau tempuh, hanya tepian langit! (hal. 232).

Kak Ochan juga banyak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa jurnalistik yang mungkin bagi orang awam yang tidak mempelajari dunia jurnalistik akan terasa asing.namun istilah-istilah itu menjadi pengetahuan baru bagi pembaca.

Aku paling suka pada hal 69, Kak Ochan mendeskrpisikan sebuah mimpi (mungkin)benar-benar menjadi mimpi berjamaah para pengangguran. “Kerja sebagai prasyarat menjadi bagian kaum urban yang sukses. Pulang kerja, kemudian bergaul. Belanja di Plaza Indonesia atau Ngopi di Coffer Bean. Jika masih ingin berpikir, mungkin lanjut kuliah di luar negeri. Setelah itu pulang sebagai sosialita dan sesekali muncul di rubric free magazine”. Entah mengapa aku menyukai bagian ini, mungkin karena aku pun turut menjadi makmun untuk mimpi itu.

Ending yang dibuat menggantung mungkin sedikit menggemaskan. Tapi ini adalah ciri khas Fauzan Mukrim yang kukenal. Penggambaran UKPM dan PKM Unhas benar-benar membuatku rindu akan tempat itu.

Overall, buku ini membangkitkan minatku kembali untuk menggeluti dunia Jurnalistik. Namun ia masih pada sebatas mimpi. Aku memetik satu hal dari buku ini “Bebaskan ikatanmu dalam menulis”. Dan sekali lagi ia membangkitkan semangatku untuk memulai menuturkan kisah.

Thanks Kak Ochan untuk note kecil di halaman depan
"Untuk Dwiagustriani Akhmad yang meminta dituliskan sebuah puisi
padahal dirinya sendiri adalah puisi..."

(Rumah 28 Mei 2010)

Comments

Popular posts from this blog

Peri Biru dan Kesatria Putih Dalam LOTR

Aku baru menonton film Lord Of The Rings (LOTR). Please, don’t look me like that. Aneh memang baru menonton film sekeren Lord of The Rings di jaman sekarang. Dwi seperti manusia dari jaman batu yang baru sadar akan peradaban. Jangan mentertawakanku kalo aku pun harus mengakui belum membaca ketiga buku JR.R. Tolkien ini. Ayolah kadang seseorang perlu terlambat mengetahui sesuatu. Agar arah hidupnya tetap baik-baik saja dan tetap menjejak di bumi. Btw, LOTR-The Fellowship Of The Rings. Bercerita tentang sebuah cincin yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Adalah Frodo seorang hobbit (manusia bertubuh pendek) yang diwarisi cincin bertuah dari pamannya Bilbo Baggins.Cincin tersebut ternyata memiliki kekuatan yang kelam dan sangat besar. Aku tak perlulah panjang lebar untuk menjelaskan cerita ini padamu. Aku yakin kamu telah tahu. Dan kalaupun kamu belum tahu, nontonlah sendiri. Beberapa kali aku berupaya untuk menyelesaikan film ini. Tapi selalu saja tidak berhasil hingga selesai. Kada...

Peri Biru dan Pangeran Hippo

Pagi masih berembun. Matahari belum sepenuhnya terbit. Awan masih menggantung di langit. Penduduk di Negeri Rawa Air belum sepenuhnya terbangun. Pasar di alun-alun belum terlalu ramai. Peri biru merenggangkan tubuhnya. Di kerajaan ini dia akan tinggal untuk beberapa saat. Ia harus bertemu penyihir bijak, kakeknya untuk berguru sihir dan cara menunggang naga. Dilangkahkannya kakinya menuju pusat kerajaan. Pasar tetap sepi padahal matahari sudah sejengkal di atas kepala. Kerajaan pun tampak sunyi. Seperti ada sesuatu yang terjadi di kerajaan ini. Peri biru melangkahkan kakinya menuju tempat tinggal penyihir bijak. Diketuknya perlahan pintu kayu rumah yang terbuat dari batu gunung itu. Tok…tok…tok….belum ada jawaban. Sekali lagi Peri biru mengetuk pintu. Terdengar sesuatu yang meringsek dari dalam rumah. Lubang kecil di atas pintu yang biasa digunakan untuk mengetahui tamuyang dating tergeser. Sosok tubuh tua mengintip di baliknya. “Kakek penyihir, ini Peri Biru “ katanya saat melihat ...

mozaikku....

backstreet boys datang ke jakarta..... waahhhhh????? kok bisa dwi tidak tahu ya????? mereka pernah mengisi tiap lembar mimpi-mimpiku. tiap halaman. pangeran yang selalu menungguku di ujung jalan sana adalah nick carter. aku selalu suka berimaji. membayangkan bertemu mereka. menjadi temen kuliah dari mereka. menjadi bagian dari hidup mereka. aku percaya akan kekuatan mimpi. seperti Arai. 'bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". aku membangun mimpi-mimpi itu bersama mereka. tiap halaman catatan harianku selalu tentang mereka. aku selalu bahagia dengan mimpi-mimpi itu. rasanya indah dan begitu nyata. semua itu yang bisa membuatku bertahan hingga sekarang. rasanya semua itu sudah bertahun-tahun lalu. aku tak punya lagi mimpi-mimpi itu. mimpi-mimpi yang selalu aku urai di langit-langit desaku. yang selalu aku bayangkan dari rumah kayu tempatku dibesarkan. entahlah, sudah lama aku tak mengurai mimpi-mimpi itu lagi. sudah lama aku tak menemukan bahagia yang berasal dari...