Skip to main content

Posts

Uji Keberanian

Apa jadinya aku tanpa teknologi? Tanpa internet dan handphone. Mungkin akan terdengar mustahil. Aku pun menyangsikan hal tersebut. Internet dan handphone sama pentingnya dengan sandang,pangan,papan. Tapi ia pernah menjadi bukan apa-apa dan hidup teruslah berjalan. Nah kali ini beberapa faktor membuatku ingin mengembalikan harmoni hidupku (wkwkwk,seperti rohanian saja). Aku ingin tidak tergantung pada handphone yang sesekali kuintip namun juga tak berubah bentuknya. Jarang ada pesan masuk,telepon masuk, dan diriku pun bukan orang penting yang perlu mengaktifkan handphone. Ketika ia tak lagi jadi sarana komunikasi maka kuubah fungsinya menjadi portal dunia maya. Mengintip fesbuk yang lambat laun tak ada gunanya. Melihat profil orang-orang dan menganggap mereka penting. Padahal bukan tidak mungkin kalo mereka tak peduli apakah aku peduli dengan kehidupan mereka atau tidak. Menghabiskan waktu dan pulsa hanya sekedar mengintip tapi tak ada niat ikut nimbrung. Mungkin aku perlu beralih jej...

Aku Sangat Rindu

Mei hadir dalam dingin yang menyengat.Ada tirai-tirai hujan yang menjuntai dari langit.Membasahi tanah,menggenangi jalan,dan menggerus tanah-tanah di pot tanaman cabe.Rumput-rumput dalam pot bertumbuh subur.Pasir halaman rumah pun tak lagi kering dan berdebu.Kursi plastik selalu basah.Dan tak ada lagi ritual memandangi sore ditelan malam. Mei membawa sedih.Dalam hujan yang dingin selalu kutemui suram yang berujung sedih.Ada rindu di sini yang kutahu takkan berbalas.Sekeras apapun aku meneriakkannya.Rindu itu telah beralamat pada dimensi lain.Dimensi yang membuka empat tahun silam.Dimensi yang selalu membawa kabut di mataku dan juga mendung di hatiku. Aku merindukannya.Seperti anak kecil yang tak pernah memahami arti kehilangan.Aku ingin dia segera hadir ketika aku menangis dan meneriakkan namanya.Aku ingin ia tidak beranjak.Jika perlu ia kembali pulang ke sini dan memelukku.Memberikan hangatnya yang dulu selalu menyenangkan seberapapun buruknya dunia di luar sana.Aku menangis tapi ...

Huh,Jengkel!!!

Jengkel!!!Ada dua tulisan yang ingin aku upload di blog ini.Tapi sayangnya internet dan laptop bersekutu untuk tidak memihakku.Jadinya aku harus menunggu netbook punya kakak Ipah.Tambah satu lagi, listrik di rumah rusak gara-gara arus pendek.Jadinya nda bisa ngenet di kamar.Hiks

Surat "Cinta" No 2

Dear kamu.... Apa kabar duniamu? Apakah hujan masih membasahi tanah-tanahmu. Menggenangi pot-potmu dan membuat tanaman-tanamanmu kebanjiran air. Ataukah adakah matahari mengeringkan tanah-tanahmu. Membuat kuning dedaunan di pohon.Menjadikan debu-debu beterbangan di langitmu. Telah cukup lama kita tak berbagi kabar. Bertukar cerita. Jarak membentang di antara kita. Dan hati pun tampaknya mulai memiliki pola geraknya masing-masing. Tapi setiap hari aku masih memiliki waktu untuk mengingatmu. Menggantung tanya di benak tentang apa yang sedang kamu lakukan. Adakah dirimu telah berubah? Rambutmu yang mungkin kian memanjang. Atau malah lebih pendek karena telah kamu potong. Apakah berat badanmu bertambah. Ataukah telah tumbuh otot-otot bisepmu karena berolahraga. Semua pertanyaan itu mungkin takkan kamu jawab. Atau aku terlalu cerewet untuk menanyakan segala hal remeh temeh tentang dirimu. Jika kamu tak berkenang menjawabnya, aku takkan memaksamu. Biarlah imajinasiku yang menjawabnya...

Ketika Kuterlelap

Ketika kuterlelap,aku ingin kamu disampingku. Membelai lembut kepalaku dan mengucap selamat malam sambil mengecup keningku. Aku ingin kamu mengelus punggungku Memastikan aku nyenyak dalam selimut mimpi indah Ketika kuterlelap,aku ingin kamu berbaring disampingku Mengusap ubun-ubunku Membelai rambutku yang berantakan Memperhatikan aku yang tertidur Memastikan keningku tak berkerut karena mimpi buruk Ketika kuterlelap, berbaringlah di dekatku Agar ketika kuterjaga kudapati dirimu Biar kudekap tubuhmu

Laptop Dan Diriku

Finally home,setelah di Makassar berhari-hari.Tanpa laptop dan jarang mengakses internet.Kecuali fesbuk via handphone.Agak susah juga mengumpulkan semangat menulis di Makassar.Perlu suasana yang private untuk menulis dan itu hanya aku temui di rumah atau kamarku.Antara aku dan diriku.Dan akhirnya aku di sini di tempat yang kusebut rumah. Namun yang kudapati adalah laptop yang tiba-tiba menampilkan tampilan yang seenaknya.Mengganggu mood menulisku dan aktivitas onlineku.Tak ada laptop cadangan.Kakak Ipah membawa netbooknya buat pelatihan.Laptopku dodol dan diriku pun sakit. Flu yang telah 2 minggu belum sembuh-sembuh,hari ini sampai pada titik deritanya.Membuatku susah bernafas,batuk berdahak,hingga terasa sakit diantara telinga hingga kepala saat menelan.Ujung-ujungnya adalah pening yang begitu menyiksa. Tak ada kekuatan untuk bangkit.Rasanya berat pula untuk berpikir.Bernafas saja rasanya begitu menyiksa.Aku ingin tidur saja rasanya.Namun untuk tidur dengan tenang pun aku hanya ...

Kali Ini Aku Ingin Menang

Ada kamu di ujung benak Menggantung dan tak tertuliskan  Ada halaman kelima yang butuh untuk dilanjutkan Masih tetap kamu yang menjadi trending topiknya Harusnya kamu sedikit terharu  Aku menulis ini untukmu Kadang sampai perih mataku memikirkannya Otakku berair karena mingran memplototinya Aku tak yakin apakah nanti ia akan selesai Rasanya aku sudah berada diujung tebing Sisa menjatuhkan diri agar menemukan kata tamat Tapi aku selalu membayangkan ekspresi kalahmu ketika membacanya Aku ingin menang kali ini Aku cukup lelah untuk angkuh dan selalu kalah Kali ini aku ingin menang....

Fotomu Di Sampul Bukuku

Ilustrasi Aku selalu berharap memiliki satu potret bersamamu. Berdua saja. Jika kamu keberatan ada wajah kita terpampang, cukup foto tangan kita berdua. Jika juga kamu masih keberatan cukup foto bayangan tangan kita saja yang saling bertaut. Kelak aku ingin menjadikannya salah satu sampul bukuku. Kelak paragraph ini akan disisipkan dalam sebuah bab di bukuku.....

Teru-Teru Pink

Jimat penangkal hujanku sudah mencoba menjajal tempat yang bagus buat menggantung diri. Hehehehehe. Itu takdirnya untuk digantung. Bukan aku yang begitu tega. Nah, aku memilihkan satu tempat untuknya. Di pohon kelor depan rumah. Bertetanggaan dengan pohon sukun dan pohon pepaya. Tapi dia terlalu cantik untuk menggelantung di atas pohon kelor yang langsung terpapar matahari. Sejak awal april, hujan tak lagi turun di sini. Padahal aku merindukan dinginnya pagi yang menyenangkan, atau sore yang melelapkan. Jadi si Teru-teru Pink aku pindahkan ke jendela kamar. Nongkrong di situ, temaniku menulis. Kata Etta, kalo loncengnya lebih besar, bagus di gantung di sawah buat usir burung pipit. Hahahahahaha. Ini juga yang menjadi obrolanku dengan yang mengirimiku teru-teru semalam. Harusnya di budaya bugis dibuat juga ya jimat seperti ini. Tapi sepertinya bebegig atau orang-orang sawah sudah seperti Teru-Teru Bozu versi gede :).

Hal Menyenangkan Malam Ini

Teru Teru Bozu VS Tau Sa ko Malam ini senang sekali. Aku mendapatkan dua hal yang menyenangkan. Pertama kue jaman dahulu kala yang akhirnya bisa aku cicipi kembali. Teman-teman menyebutnya kue purba. Waktu kecil, saat membelinya di warung dekat rumah, aku tak pernah tahu apa nama kue itu. Namun beberapa waktu lalu, seorang teman di fesbuk memposting fotonya yang di dapat di warung kecil di sebuah daerah. Wow, jadi kangen. Nama kue itu Ta Sa Ko. Kue cina yang dibuat dari kacang hijau bercap buah delima. Beberapa waktu lalu aku sempat menemukan kue-kue itu masuk di Mall. Di bungkus dalam satu paket isi empat biji di brandol dengan harga Rp.10.000. Padahal waktu SD sebungkus cuma harga Rp.100. Semakin kuno semakin mahal dan semakin dimanfaatkan kapitalis. Namun pas mo beli lagi tuh kue Swalayannya lagi direnovasi, di mall diamond Panakukang Mall. Terus jalan-jalan lagi di Mall Ratu Indah. Eh, nemu di Hero. Parahnya sebungkus,isi sepuluh buah seharga Rp.40.000.Waaah, makin kapitalis ...

Gadis Kecil Di Blog

Aku punya penjaga blog. Gadis cilik berbaju hangat warna pink. Aku suka dia berdiri di terasimajiku dan menyapa para pembaca. Namun, beberapa orang mengkomplain keberadaannya. Mereka agak terganggu dengan kehadirannya berdiri menghalangi tulisan-tulisan di blogku. Sampai saat ini ada tiga orang yang mengajukan protes. Mereka semua menggunakan netbook untuk mengakses blog ini. Tampilan blogku di laptop ukuran 14 inci atau lebih besar dari netbook memang cukup berbeda. Untuk Di laptop biasa, kehadiran gadis kecil itu tidaklah masalah. Karena ada ruang kosong yang ditempatinya sehingga tidak mengganggu tulisan-tulisanku. Namun pada netbook, tampilan blogku sedikit berubah. Ruang koong tersebut menjadi hilang. Layar terlihat padat dan gadis kecil itu pun harus berdiri menghalangi tulisan-tulisan di blog.  Beberapa mata pembaca agak kesulitan dengan itu. Aku pun harus memperhatikan saran para pembaca. Meski blog ini sifatnya pribadi, namun aku tak ingin setiap orang yang berkunjung ...

Susahnya Mengajari Anak Kecil

Khanza yang bermain air penuh tanah saat berkebun Setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. ( Sosaku Kobayashi- Kepala Sekolah Tomoe Gakuen) Setelah membaca Totto Chan, aku berpikir untuk memberikan pendidikan rumah seperti yang diajarkan kepala sekolah Tomoe Gakuen, Sosuka Kobayashi kepada anakku kelak. Pelajaran yang paling penting adalah memahami dunia kanak-kanak. Mereka adalah manusia-manusia yang memiiki rrasa ingin tahu yang begitu besar. Tak ada ketakutan. Mengecap semua ilmu pengetahuan dengan menggunakan inderanya. Mata, Telinga, hidung, mulut, dan kulit dengan sangat sempurna. Mereka tak sekedar bertanya tapi juga mencari jawaban. Hanya saja para orang-orang dewasa terlalu sok pintar untuk memberikan peniaianterhadap semua tingkahnya. Setiap yang tak sesuai dengan pikiran mereka selalu dianggap salah. Dan anak kecil pun berhenti belajar di sana. Tumbuh dengan keingintahuan...

Petak Umpet

Ilustrasi Sore tadi menemani Khanza main-main sore, ia memilih untuk berjalan menyusuri lorong depan rumah menuju jalan raya. Ia menarik tanganku lebih keras untuk terus berjalan hingga pinggiran jalan besar. Aku pun berkeras untuk tidak menuruti keiinginannya. Aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Untungnya di halaman mesjid banyak anak-anak main petak umpet. Aku pun menggendongnya untuk berdiri di pagar agar tak lelah oleh beban tubuhnya. Anak-anak itu bermain dengan riang. Ada lebih dari sepuluh anak di sana. Yang kutahu paling tua diantara mereka adalah siswa SMP. Seingatku waktu SMP, aku tidak lagi main petak umpet.Hehehehehe. Beberapa anak laki-laki juga ikut main. Mereka mengelilingi halaman mesjid dari muka hingga belakang hanya untuk bersembunyi dan berusaha memegang tiang penjaga dengan cepat dan tidak terlihat oleh anak yang giliran jaga. Yang jaga pertama adalah seorang anak perempuan. Kuperkirakan anak kelas 6 SD. Ia berhasil melihat dan menemukan semua teman-temann...

Totto Chan : Gadis Cilik di Jendela

Totto Chan adalah anak kecil periang yang selalu memiliki rasa ingin tahu besar. Di sekolah dia berdiri di jendela dan memanggil pemusik jalanan. Membuat keributan di sekolah. Gurunya menanggapi bahwa perbuatannya diluar batas. Ia tak bisa duduk diam dan mengikuti pelajaran. Hingga akhirnya ia dikeluarkan di sekolah. Ia tetaplah gadis kecil yang selalu penuh rasa ingin tahu hingga ia bersekolah di Tomeo Gakuen. Di sekolah ini ia menemukan gerbong- gerbong kereta yang dijadikan kelas, memiliki mata pelajaran jalan-jalan dan memasak bersama, berenang telanjang, teman-teman yang menyenangkan, mata pelajaran yang boleh dipilih sesukanya, serta seorang kepala sekolah yang begitu senang mendengar ceritanya selama empat jam di hari pertamanya, Sosaku Kobayashi. Di Tomeo inilah Totto Chan tumbuh menjadi anak melakukan segala hal sesukanya, belajar tentang persahabatan, kepeduiian, etika, serta tanggung jawab. Sekolah Tomeo adalah sekolah dasar yang menggunakan system pendidikan diluar kurik...

Balada Putri Penggembira

Hanya diundang kala sepi datang menghadang Pada pesta penghujung malam, ketika para tetamu telah beranjak pergi Yang tersisa untuknya hanyalah lelah yang menggantung Namun tak pernah ia berhenti hadir Karena pangeran adalah bahagianya Meski hanya tersisa sedikit menit untuknya hingga ia berucap "Tidurlah, tubuhmu begitu kuyuh" Dan ia tetap setia menunggu undangan pesta membunuh sepi itu Meski ia tahu sepi kian menipis dan kelak Ia akan dicampakkan dan tak diingat lagi sebagai putri penggembira

Menulislah Sebelum Bobo

Aku mendapati tulisan ini di lapak kompasiana milik Om Jay. Menulislah sebelum bobo. Sebuah resep yang bagus sebenarnya. Menulis sebelum tidur adalah upaya untuk mempertahankan otak tetap waras. Setelah seharian lelah dengan hiruk pikuk yang memusingkan. Mungkin menulis itu seperti layaknya berdo sebelum tidur. Bercerita pada Tuhan. Mengucap syukur dan kemudian merapalkan dengan lirih pemohonan dan harapan tentang esok hari. Hari ini tak banyak yang aku punyai. Biarlah aku meneruskan ujian Aprilku yang lumayan menyesakkan. Semoga aku berhasil menyelesaikan satu proyek idealis yang tak begitu bagus namun cukup memanjakan diri. Semoga aku bisa menyelesaikannya setidaknya untuk diriku sendiri. Tak peduli hasil akhirnya bagaimana. Setidaknya aku ingin meniti di titian jembatan dan sampai di ujungnya.  Semoga benar-benar bisa selesai.Amin!!!!!