Skip to main content

My Me Time


Me time adalah sebuah waktu yang cukup berharga dan jarang saya lakukan. Sejak bersama Ara yang kami miliki adalah our time. Waktu bermain-main bersama sepanjang hari. Sepanjang waktu berdua. Those are wonderful times, tapi kadang saya merindukan waktu saya sendiri dan melakukan hal yang saya sukai. Bentuknya boleh macam-macam. Baca buku, nonton tivi, jalan-jalan di mall sendirian, atau sekedar melamun. Cukup susah dilakukan semenjak Ara hanya nyaman bersama saya. 

Dan sebuah keajaiban datang ketika ayahnya mau menemani Ara bermain-main sembari saya menonton Catching Fire di bioskop. Bioskop menjadi tempat yang sangat jarang saya kunjungi sejak Ara mulai aktif bergerak, tidur siangnya yang sedikit, dan lebih suka menjelajah kemana-mana dibanding duduk diam dan menonton tanpa ribut. Kunjungan terakhir saya ke bioskop cukup buruk. Saya dan ayahnya menonton film The Hobbit di Athena Grand, Athens, dan ayahnya harus mengalah untuk keluar menemani Ara main-main karena ia mulai jenuh dan ingin bermain. Sejak saat itu nonton di bioskop tak pernah lagi menjadi pilihan untuk berekreasi. Yang kami lakukan hanya mengunjungi toko buku dan melipir ke games center demi Ara. 

Kegandrungannya akan games center menjadikan pilihan untuk ayahnya menemani Ara bermain sembari saya nonton film. Menonton pun harus benar-benar tepat waktu. Kalo telat masuk tidak masalah, asal keluarnya on time pas habis film. Padahal dulunya saya sangat anti nonton film yang sudah main beberapa menit. Saya lebih milih menunggu pemutaran berikutnya. Dan saya suka menunggu sampai semua penonton keluar duluan saat film habis dan menunggu kredit title film selesai. But, dengan Ara semua harus mengikuti jadwalnya. 

Saat nonton film pun handphone harus ON. Nda boleh mati. Membalas pesan sesegera mungkin jika berkaitan dengan Ara. Dan jika Ara rewel harus rela buat keluar dan meninggalkan film yang ditonton. Pun di dalam bioskop saya tidak tenang. Berharap filmnya cepat habis agar tiba tepat waktu sebelum Ara mencari saya. 

Catching fire adalah satu-satunya film yang sangat ingin saya nonton dari begitu banyaknya film yang lumayan bagus untuk ditonton. Saat pacaran dulu, kami selalu menonton semua film. Sayangnya sekarang, kami harus pisah nonton dan memilih film yang prioritas. Ayah Ara sudah memilih nonton film Soekarno sehari sebelumnya dan saya pun memilih untuk menonton Catching Fire. 

Film yang diangkat dari Buku berjudul sama dari tetralogi The Hunger Games cukup berkesan di kepalaku meski waktu itu saya membaca seri bahasa inggrisnya. Saya baru mengerti alur ceritanya saat menonton lagi filmnya. Asyik nonton film yang diangkat dari buku adalah ketika kita tidak lagi mengingat detail dalam buku. Sehingga menonton film merefreshkan ingatan kita. Nah, film ini cukup bagus menurut saya. Meskipun sisi romantis saat Peeta dan Katnis melihat matahari terbenam di atap sebelum hari pertandingan tidak divisualisasikan. Menurutku itu satu dari sedikit sekali bagian romantis antara Katnis dan Peeta. Membuat seri ini tidak mengumbar sisi romantis yang bikin perempuan meleleh. 

Saya senang akhirnya menonton Catching Fire, saya bahagia bisa Me time. Tapi disisi lain meninggalkan Ara dua jam rasanya begitu lama dan membuat saya kangen. Ah, besok-besok kami harus menonton film bersama. Bertiga. Mungkin bisa dimulai dari film How to Train Your Dragons 2 di musim panas tahun depan. I think at that time Ara will understand how to watching movie in theatre properly ;). (*)

Bone, 25 Desember 2013

Comments

Popular posts from this blog

Tahun 2010 : Yuk Ke Museum

Museum.Sebuah tempat yang memerangkap masa lalu. Penuh dengan unsure horror dan mistik. Ia seakan menjadi portal lubang waktu yang bias membawa tiap pengunjung dalam dimensi lain kehidupan masa lalu. Tapi museum berdiri dalam sunyi. Khususnya di Indonesia, animo orang untuk datang berkunjung, melihat-lihat dan belajar dari masa lalu di museum tidaklah begitu besar. Orang-orang lebih tertarik pada hingar bingar mall dan tempat rekereasi lainnya. Tapi tidak dengan museum. Museum identik dengan sesuatu yang kuno dan sangat tidak up to date. Bahkan tamasya anak-anak sekolah yang sering diadakan tiap libur kenaikan lebih kelas lebih memilih untuk berekreasi ke pantai atau tempat permandian daripada harus ke museum. Aku menyukai museum. Sejak kecil aku mulai tertarik untuk mendatangi museum. Bagiku museum begitu misterius, penuh dengan berbagai hal-hal mistik dan sangat indah. Museum pertama yang aku datangi adalah benteng Rotterdam. Aku mengunjunginya waktu aku kelas 4 SD. Saat itu aku beg...

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yan...

Hujan Yang Menjadi Monster

Aku tak pernah benar-benar menyukai hujan. Rasanya begitu becek dan basah. Tapi aku tak pernah benar-benar membenci hujan. Karena hujan seperti sebuah berkah. Selalu ada banyak orang yang berbahagia jika hujan datang.Di kampungku, banjir serupa barang langka. Air meluap hanya di pengairan irigasi atau di sungai-sungai. Tak pernah sampai masuk dan menggenangi rumah. Tanah dan pohon selalu mampu meresap tetesan air yang melimpah itu. Tapi di sini, di Jakarta, musim hujan serupa monster yang begitu menakutkan. Ia menimbulkan rasa was-was, kekhawatiran, dan juga gerutuan yang panjang dari semua orang. Bukan hujannya yang bermasalah. Namun akibat yang timbul dari hujan itu. Banjir. Atau kalo meminjam bahasa pemerintah untuk sebuah penghalusan "air yang menggenang". Seumur hidup aku belum pernah melihat banjir yang benar-benar menggenang. Mengetuk pintu rumahmu dan berkata "permisi, saatnya banjir". Tapi di sini, banjir seperti ketika tetangga datang bergosip di rum...