Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Mahavidya Neela Sarasvaty

Ara, Peppa Pig, dan Panda Taman Safari

Jam di atas TV tepat di angka 9 lewat 30 menit. Ara  masih terjaga padahal besok sekolah pagi.   Bersama Anna, me reka masih betah depan tivi menonton Peppa Pig.   Serial kartun tentang keluarga babi dan teman-temannya yang lucu. Masih sibuk beres -beres rumah sesekali saya memperhatikan layar tivi yang menampilkan adegan antara Peppa Pig dan teman baiknya,  Susi The Lamb. "Peppa sama Susi suka berkelahi ya", celetukku.  "Tapi mereka tetap temenan", kata Ara.  "Iya tapi mereka juga suka berantem.  Pernah ada episode mereka ga ngomong karena berantem", kataku ngotot. " B ut they always make it up.  Kamu aja sama ayah suka berantem but you two always make it up.  Aku sama Dita juga.  Pernah aku spill water ke bajunya Dita,  trus we are still besty. Eventhough you fight with your friends you should try to make it up",  jelasnya panjang lebar.  Saya cukup kagum mendengarkan bagaimana ia menjelaskan seb...

Ara Tamat TK

Setelah menjalani 3 tahun masa di TK, akhirnya Ara dengan bangga bisa menyebut dirinya Anak SD. Sebuah perjalanan pendidikan yang tak hanya memberi pelajaran buat Ara tapi juga buat saya. Tidak mudah memutuskan untuk memilih pada usia berapa tepatnya ia pas masuk SD, mengingat usianya yang tanggung.  Tahun lalu, ketika ia telah menyelesaikan tahun keduanya di TK dan teman-teman sekelasnya udah lanjut ke SD, dia tetap legowo untuk melanjutkan di TK B. Usianya 5,8 tahun kala itu. Godaan untuk segera menyekolahkan ke SD karena enggak enak liat teman-temannya udah SD nyata adanya. Sekolah swasta pun tak sedikit yang menawarkan menerima siswa usia di bawah 6 tahun.  Di sisi lain, pemerintah dan para psikolog anak memberikan pandangan akan usia anak-anak bermain. Pemerintah menetapkan batasan 6,5 tahun untuk masuk SD. Pakar psikologi anak menyarankan untuk tak perlu memaksa anak-anak terlalu dini untuk mengalami pengalaman duduk di kelas dan mengerjakan LKS.  ...

Drama Gigi Susu Episode 2

Before and after Udah kayak tradisi aja nih gigi tetap Ara cepat banget tumbuh sementara gigi susu masih berdiri kokoh. Saya yang sampai gemes liatin tuh gigi tumbuh dari depan. Sebelumnya gigi dua tetap yang lain tumbuh di belakang gigi susu, jadi ga ganggu pandangan saya sampai dia benar-benar keluar dari gusi. Nah yang ini tiap hari saya liatin. Macam makhluk yang mo keluar dari gusi Ara. Gemesnya sampai kebawa mimpi.  Kemudian seingat saya jadwal Imunisasi di Puskesmas, Selasa dan Jumat. Maka tadi pagi dengan semangat emak-emak "setrong", saya bareng Ara dan Anna naik ojek ke puskesmas jam 7 pagi demi nomor antrian lebih awal. Sampai di sana dapat nomor antri 1 buat KIA dan 6 untuk gigi. Tapi sepertinya ada yang salah. Ibu-ibu dengan anak bayi ga ada yang ngantri. Cek pericek imunisasi cuma pas hari selasa. Ya, at least misi cabut gigi bisa tetap berjalan.  Jauh-jauh hari saya sudah ngasih tau ke Ara kalo giginya harus dicabut dan itu harus pake suntik. ...

Dear Ara Yang Berusia 6 Tahun

Selamat ulang tahun Ara sayang. Hari ini kamu lagi senang nonton Toya, The Little Bus. Kamu mengalihkan perhatianmu dari video review game di youtube. Minecraft, Roblox, you name it . Seperti kamu mengalihkan perhatianmu dari permintaan sepeda baru, pesta ulang tahun, pinata. ,  Saat kamu bangun pagi tadi, kusapa dirimu dengan ucapan ulang tahun.  'Mana kadonya?", tanyamu.  "Aku kan ulang tahun juga. Aku dapat kado juga kan", jawabku.  Kamu terdiam lalu tertawa. Kamu lantas mengemukakan sebuah solusi. "Gimana kalo kadonya kita saling peluk?", tanyamu. Dan kita pun berpelukan.  Kamu masih TK tahun ini. Meski banyak anak seusiamu telah di sekolahkan di SD. Ada beberapa alasan mengapa saya memutuskan kamu belum lanjut sekolah dasar. Tapi alasan paling utama adalah agar saya masih bisa membawa jalan-jalan tanpa khawatir bolos sekolah. Seperti libur pulang kampung kita atau seperti perjalanan ke Bandung kemarin.  Perjalanan-perjalanan it...

Ara dan Pelajaran Puasa

Ramadan telah tiba. Usia Ara sudah 5 tahun. Teman-teman sebaya sudah mulai belajar puasa. Di sekolah pun ibu guru sudah menjelaskan padanya bahwa puasa adalah tidak makan dan tidak minum. Menurut Ara tiap kali ia tidak makan dan tidak minum, ia menganggap dirinya puasa. Juga ketika ia tertidur malam hari hingga terbangun keesokan harinya. Ayahnya berusaha menjelaskan bahwa puasa adalah menahan lapar dan haus dari adzan subuh hingga adzan magrib. Mengapa harus puasa?, tanyanya. Supaya kamu bisa bersyukur, jawabku. Kamu bisa merasakan bagaimana rasanya orang-orang yang tidak bisa makan tiga kali sehari, jawabku lagi. Bersyukur itu apa?, tanyanya. Bersyukur adalah berucap terima kasih pada Tuhan untuk segala yang dia berikan. Mainan, makanan, dan keinginan-keinginan yang terkabulkan, kataku. Kalo puasa, nanti Ara lapar dong, katanya. Iya, kamu akan lapar, jawabku. Kalo Ara lapar, terus Ara mau makan, gimana dong, tanyanya. Ya, sabar. Tunggu sampai waktu berbuka, jawabku. Ti...

Ketika Ara Ikut Manasik Haji

Di depan miniatur Ka'bah Siang itu, sembari masih di depan pintu rumah, Ara berteriak. “Mama, tanya ke ibu guru kamis pakai baju putih. Kudung putih juga. Bawa air di botol yang pakai tali”. Sebagai mama yang kadang tidak mengerti maksud dari anaknya, saya harus pandai-pandai menebak apa yang Ara maksud. Kalo disuruh pakai baju putih dan kerudung putih artinya kegiatan manasik haji. Sesuai saran Ara, saya bertanya ke ibu gurunya via Whatsapp. Ternyata info yang benar adalah hari senin manasik haji. Sepertinya Ara menangkap kata manasik sebagai kamis. Setelah saya jelaskan, ia pun sambil mengangguk mengerti berkata “Iya, nasi haji”. Hahaha.   Bersama ibu Arjah dan teman-teman kelas B Meski dadakan dan tak ada persiapan, namun manasik haji ini perlu Ara ketahui. Tiap tahun anak TK se-Bogor memang selalu mengadakan manasik haji. Baik TK Islam maupun TK umum. Setelah terjebak macet di Pasar Anyer, gamis putih pun berhasil dibawa pulang. Ara cukup antusias ikut ma...

Saat Kita Membicarakan Kematian

Dear Ara... Sore ini kamu pulang main lebih pagi dari biasanya. Anak-anak masih riuh berlarian di lapangan depan rumah. Masih pukul 5 sore lebih sedikit, kamu menghampiri saya sambil menangis. "Kenapa?", tanyaku. Saya khawatir kamu terluka akibat terjatuh atau seorang kawan bermainmu menyakiti kamu.  "Ara takut. Ara tidak mau mati", jawabmu sambil sesunggukan. "Semua orang akan mati?", tanyamu lagi. Sebuah tema yang cukup berat yang kamu pilih untuk kita diskusikan sore ini.  Saya tertegun sejenak. Tak langsung menjawab pertanyaanmu. Malah bertanya balik, "siapa yang kasi tau?". "Rania sama Naura", jawabmu.  "Anak-anak, trus kakak-kakak, trus jadi nenek trus mati. Ara takut. Ara tidak mau mati", katamu lagi masih menangis.  "Semua orang akan mati? Harus nenek-nenek dulu baru mati? Ara tidak mau tumbuh besar. Ara mau anak-anak saja". Pertanyaanmu begitu sulit untuk dijawab nak, mengingat usiamu yang begitu muda dan pe...

Tuhan Ada di Mana?

Dear Ara... Siang tadi kamu sangat ingin keluar rumah. Namun, saya melarangmu. Di luar begitu panas. Listrik mati. Dan teman-temanmu masih istirahat di rumahnya masing-masing.  Kemudian, hujan turun. "Ara berdoa sama Tuhan. Biar hujannya reda pas sore nanti", kataku.  "Tuhan, hujannya berhenti ya kalo Ara mau main. Aamiiinn", doamu.  Kemudian tiba-tiba kamu bertanya, "Tuhan ada dimana?" "Dimana coba?", tanyaku balik.  "Tuhan ada di angkasa. Di langit. Di awan-awan", jawabmu. "Jadi kalo naik pesawat liat awan, bisa liat Tuhan dong", kataku lagi. Kamu cekikikan. "Tuhan ada di planet", jawabmu lagi.  "Tuhan alien dong", kataku lagi.  Kamu tidak bisa menahan tawa. Sepertinya konsep itu cukup kamu mengerti mengingat planet-planet adalah rumah para alien.  Kamu lantas terdiam. Berpikir. "Jadi Tuhan di mana".  "Tuhan ada di hatinya, Ara. Kalo Ara baik, berbahagia, tidak sedih dan marah-marah artinya...

Ara Merapikan Rumah

ilustrasi (sumber foto di sini) Bando-bando bertebaran di lantai. Gelang-gelang seukuran lengan kanak-kanak tak kalah berantakannya. Pensil warna tak karuan. Beberapa botol make up juga ikut andil membuat rumah berantakan. Hari ini Ara bermain jual-jualan. Dia yang menjadi penjual, saya pembeli. Saya malas menemaninya main, dia sibuk menemukan benda-benda yang menarik minatnya dari kotak di atas meja.  Benda terakhir yan menarik minatnya adalah sekaleng manik-manik yang dia simpan di telapak tangannya. Ia berteriak “Surprise” dan detik berikutnya manik-manik tersebut ia lempar ke udara dan bertebaran di lantai. *Garuk dinding* *rumah berantakan lagi*. Si anak semata wayangku cuma senyum tanpa dosa sambil terus melanjutkan aktivitas Suprisenya yang benar-benar mengejutkan. Saya memilih melipir ke kamar dan tidak peduli dengan rumah yang berantakan. Ia masih melanjutkan aktivitas bermainnya yang tidak lagi saya perhatikan karena larut dengan cerita si Jhon Snow....