Skip to main content

Review #2 Trilogi Jendela-Jendela, Pintu, Atap


Kupikir Pintu tetap bercerita tentang sosok June, ternyata tidak. Pintu mengambil tokoh pria bernama Bowo yang adalah kakak June. Bowo terlahir sebagai anak yang memiliki keistimewaan. Waktu lahirnya sangat istimewa dan saat lahir dia diselubungi oleh lapisan plasentanya sendiri. Menurut mitos mereka yang lahir diselubungi seperti itu adalah mereka yang mampu melihat alam gaib. 

Bowo pun demikian. Dia mampu melihat jin dan mampu melihat Aura. Ia belajar membuka mata batinnya dan mempelajari ilmu dalam. Cerita Bowo berlanjut ke masa kuliah ketika ia terlibat perkelahian dan menewaskan satu orang. Ia pun terpaksa ke luar negeri melanjutkan kuliahnya. Disana ia bertemu Erna, perempuan yang menyukainya hingga menjebaknya untuk menikah. Menghancurkan hubungannya dengan Putri, pacarnya di tanah air. Dia juga bertemu Paris, perempuan Prancis yang telah menikah namun jatuh cinta padanya. 

Buku kedua ini cukup banyak bercerita tentang hal-hal mistis yang malah membuatku suka membaca. Fira Basuki tampaknya cukup menguasai tema ini terbukti dengan dituliskannya juga buku Astral Astria yang bertema sama. 

Cara bertutur Fira di buku Pintu berubah, jika boleh saya katakan menjadi lebih enak dibaca. Pola menulisnya pun mengalir tanpa membuat saya sadar pada peralihan paragraf yang cukup kasar seperti yang saya temui di buku pertama

Pintu menjadi buku yang paling saya sukai diantara tiga buku ini. Mungkin karena Fira basuki sangat pandai bertutur sebagai tokoh pria. Juga tentang kota Chicago yang menawan. Lagi-lagi serupa sinkronitas membaca setelah sempat berangan-angan akan tinggal dekat kota Chicago. Hehehe. 

Pintu disini dimaknai sebagai sebuah jalan memasuki ruang yang lain. Semisalnya ruang jiwa atau pun ruang hati. Pengandaian ini cukup baik diambil oleh Fira setelah Jendela-jendela yang dapat diartikan tempat untuk melihat keluar atau melihat tempat lain. 

Yah, saya merekomendasikanmu membacanya. (*)

Bengo, 30 Juli 2013

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dongeng Kita

Siang ini aku terjaga dari tidur panjangku. Seperti seorang putri tidur yang terbangun ketika bibirnya merasakan hangat bibir sang pangeran. Tapi, aku terjaga bukan karena kecupan. Namun karena aku merasakan indah cintamu di hariku. Mataku tiba-tiba basah. Aku mencari sebab tentang itu. Namun yang kudapati haru akan hadirnya dirimu. Memang bukan dalam realitas, namun pada cinta yang telah menyatu dengan emosi. Kita telah lama tak bersua. Mimpi dan khayal telah menemani keseharianku. Tiap saat ketika aku ingin tertidur lagu nina bobo tidak mampu membuatku terlelap. Hanya bayangmu yang selalu ada diujung memoriku kala kuingin terlelap. Menciptakan imaji-imaji tentangmu. Kadang indah, kadang liar, kadang tak berbentuk. Tapi aku yakin ia adalah dirimu. Menciptakan banyak kisah cinta yang kita lakoni bersama. Aku jadi sang putri dan dirimu sang pangeran itu. Suatu imaji yang indah...

Chinese New Year's Story (Just For Fun)

Amani : Si Ne Er Kuai Le Ara : Gong xi Gong Xi  Ara : Let's ask for angpao Amani : That's a great idea                                 After a while....... Ara  : i got cellphone Amani  :  i just got rundown program of chinese new year Ara : maybe there's money inside the paper Amani : I hope so Amani : What are you doing? Ara : I'm Checking my facebook Amani : Do you have facebook? Ara : Absolutely  Amani : let me see Ara : Wait, i wanna twit our picture   Amani : Do u also have a twitter? Ara : Sure. Do you have?  I will follow u Amani : i should ask for cellphone instead of  piece of paper Ara : Yes, you should...hahaha Ara : Anyway, let's play around. I don't know how to use cellphone Amani : oke...

Solo dan Cerita Tentangnya

               Saya membayangkan Solo sebagai kota kabupaten yang sederhana. Kental unsur Jawa dan batik menjadi sumber penghidupan bagi para warganya. Ketika berkunjung ke kota ini pekan lalu saya menemukan cerita yang lain.  Solo menjadi kota yang sangat ingin saya kunjungi setelah beberapa tahun lalu mengunjungi Yogyakarta. Yogyakarta yang sangat Jawa, warung di sepanjang jalan, padat, dan penuh bule. Saya membayangkan Solo adalah kebalikan dari segala hingar bingar Yogyakarta.  Saya, suami, dan anak merencanakan berangkat hari jumat sore.  Sayangnya, kami kehabisan tiket kereta di stasuin gambir. Catatan penting, jangan merencanakan melakukan perjalanan dengan membeli tiket kereta perjalanan jauh di stasiun di menit terakhir akan berangkat. Tiket habis. Bahkan untuk tiket kereta eksekutif yang harga sekitar 450ribu perorang. Kami lantas memilih untuk menggunakan moda transportasi pesawat terbang yang harganya relatif sama dengan...