Skip to main content

Tak Ada Resolusi

New year celebration in New York (reuters.com)
Mungkin agak basi jika menuliskan tentang tahun baru. Hari ini sudah dua Januari. Di belahan bumi lain sudah memulai 3 Januari. Puncak tahun baru adalah 31 Desember tengah malam dan Januari pertama. Tapi kupikir tak ada salahnya menuliskan tentang tahun baru. Penumpang bus masih tetap saling mengucapkan selamat tahun baru sekalipun penanggalan tak lagi pada angka satu.

Seperti tahun baru yang lalu tak ada gegap gempita perayaan atau sekedar menyalakan kembang api. Sekalipun dirayakan di negara berbeda. Perayaan adalah pilihan pribadi. Segala riuh rendah tergantung individu. Tahun baru kemarin tak ada perayaan istimewa. Hanya berkunjung ke rumah teman Indonesia dan makan bersama. Pulang sebelum malam larut. Sebelum kalender berganti bilang.

Resolusi selalu menjadi trending topik saat tahun baru. Mungkin seperti anak tangga baru yang harus ditapaki. Memulai dari awal. Menjadi awal baru untuk hati yang sedang sedih. Meyakinkan hati yang patah untuk move on. Melukis cita-cita baru. Beberapa mungkin benar-benar terwujud. Tapi tak jarang hanya seperti list belanjaan yang tak kunjung terbeli. Tak pernah mudah memang untuk mewujudkan resolusi. Mencetaknya sebatas otak begitu menyenangkan. Tapi menggerakkan semua indera untuk mewujudkan adalah sebuah perjuangan. Aku masuk dalam orang-orang yang sekedar mencatat resolusi dan hanya kembali membacanya di penghujung desember. Kemudian berkata pada diri sendiri "waktu begitu cepat berjalan".

Karenanya saya tak pernah lagi membuat resolusi. Terlalu banyak resolusi kadang bikin kecewa untuk orang seperti saya. Mungkin karena terlalu banyak mainnya. Hahahaha. Karenanya, tahun ini tak ada resolusi. Biarkan hidup bergerak seperti udara, mengalir seperti sungai. Ia akan menemukan jalannya sendiri.

Selamat tahun baru 2013 teman-teman..(*)

Comments

  1. idem nggak beresolusi mbak :)

    ReplyDelete
  2. yang penting jalani hidup gan hehehe

    ReplyDelete
  3. Asslm,

    Apa kareba? saya baru singgah ke teras ta' :)
    Sepertinya kita punya cerita hidup yg sedikit mirip: berasal dari desa kecil yg dikelilingi pegunungan, punya suami orang buton, punya anak gadis umur 1 tahunan, skrng lagi mengalami musim dingin di negeri orang (ikut suami sekolah yg sekolah). Dan owya, kita punya 'mutual friends' ternyata: mulai dari Surdat (teman SMP di Sorowako), Nyomnyom (seniorku di HI).

    Salam kenal :)
    Shanti

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebelum Salju Mencair

Dua hari ini Athens diselimuti awan hitam. Mendung. Cuaca menjadi dingin. Hujan pun turun. Kemarin cuaca mencapai titik minus. Titik hujan jatuh ke bumi menjadi butiran salju. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon pinus tunduk patuh pada gerak angin. Tengah malam kristal-kristal beku itu mencumbui tanah Athens. Jutaan butir yang bertumpuk menutupi tanah, jalan, dan segala permukaan yang dijangkaunya. Permadani putih seketika terhampar menyelimuti bumi. Seperti kepompong yang menyelubungi ulat untuk menjadikannya kupu-kupu. Ini salju nak, coba yuk! Hingga pagi hujan salju masih belum reda. Butiran es itu seolah bersuka cita turun ke bumi. Meliuk-liuk mengikuti gerak angin hingga mendarat dengan sempurna di tanah. Mereka seakan berpesta dan enggan mengakhirinya. Hingga siang, butiran-butiran itu seakan tidak jenuh untuk terus meninggalkan jejak. Kulihat seseorang menuntun anjingnya bermain di tengah salju, Bodoh pikirku bermain-main di salju yang dingin. Bikin frosty ternyata s...

Dunia Kafka, Dunia Surealis Murakami

Judul : Dunia Kafka ( Kafka On The Shore) Penulis : Haruki Murakami Penerbit : Alvabet Kafka Tamura, anak laki-laki 15 tahun memutuskan pergi dari rumahnya di Nakano meninggalkan ayahnya. Dengan tujuan menjauh dari ayahnya yang tidak lagi peduli dengannya dan mencari ibu dan kakak perempuannya. Ia lari ke Takamatsu dan tinggal di sebuah perpustakaan.  Nakata, pria paruh baya yang karena sebuah peristiwa pada saat perang kehilangan kemampuannya untuk membaca, menghitung, namun menguasai bahasa kucing. Hingga suatu hari ia harus membunuh seseorang untuk menyelamatkan sebuah kucing.  Dua tokoh ini memiliki cerita berbeda pun memiliki keterlibatan secara tidak langsung. Dengan label surealis pada sinopsis buku ini, maka pembaca harus siap menemukan cerita yang tidak mampu diterima logika. Dunia di luar materi, yang tidak terikat waktu.  Tapu bukan Murakami namanya kalo tidak menyisipkan renungan panjang dalam ceritanya. Menurut pembacaan saya, Murakami mencampur bumbu kegalau...

Menulis Blog Sama Dengan Menabung

Tak ada yang salah dari ngeblog. Saya baru menemukan keasyikannya. Menulis di blog saat kamu sedang on mood tanpa writer's block serupa menabung uang koin yang kelak akan berguna ketika kamu membutuhkannya. Ini terjadi pada saya. Saya tipe orang yang agak moody soal menulis. Tapi jika menulis memang berada diambang gregetan biasanya hasilnya cukup menyenangkan. Biasanya kalo ada lomba-lomba menulis yang diadakan website tertentu, saya malas menulis ulang. Yang saya lakukan hanyalah mengobrak obrik isi blog ini. Tema-tema yang ada sangkut pautnya dengan yang dilombakan biasanya bisa didaur ulang. Malah untuk beberapa lomba, penyelenggara lebih suka yang sudah terupload di blog. Beberapa tulisanku yang kuikutkan dalam beberapa partisipasi menulis biasanya adalah tulisan lama. Karena kadang kalo disodori tema dengan deadline waktu yang sempit rasanya semua ide melayang hilang. Hehehehehe. Sisa ambil koin ditabungan. Dan...tadddaaaa....ikut berpartisipasi menulis deh. Begitulah, men...