Skip to main content

mau nonton laskar pelangi

Lascar pelangi….

Aku baru menyadari bahwa diriku adalah sosok yang ambisius dalam hal-hal konkret yang mampu aku lihat hasilnya secara cepat. Namun untuk hal-hal abstrak, aku masih belum mampu membuat diriku seoptimis ketika aku mengejar hal-hal yang bersifat material.

Seperti film lascar pelangi ini. 130 km jarak bone-makassar, namun aku tetap berencana untuk menontonnya. Meski itu harus memohon pada Etta untuk pulang agak belakangan ke bone hanya untuk menyisihkan waktu 2 jam untuk menonton film ini.

Aku juga ingin menjadi satu dari list orang-orang yang menunggu film ini. Begitu banyak adegan yang kudapati di novel ingin aku saksikan dalam filmnya. Meski aku tahu, tak semua lembaran buku akan diterjemahkan dalam bahasa novel. Tapi biarlah aku menikmati film lascar pelangi sebagai film.

Tapi untuk menikmatinya, aku harus terlambat sehari…

Ya…sudahlah..tidak apa-apa….

Comments

Popular posts from this blog

Make Over Yang Aneh

Aku sudah mencoba. Semampuku. Tapi masih saja tampak aneh menurutku. Mataku sudah tak bisa berkompromi.Aku sudah harus tidur. Besok masih ada kerja yang menunggu diselesaikan. Mungkin minggu depan lagi aku utak atik lagi blog ini. Maafkan aku...

mau posting tapi bervirus

sedihnya...padahal dwi mau memposting tulisan tentang kampanye matikan tv di losari kemarin. tapi apa daya filenya tak bisa terbuka. jadi untuk kali ini, dwi hanya mamapu memberi foto.... aaahhhhhrrrrrrgggggg....foto pun tak bisa terupdate. ish..ish..ish....

Terseret Hunger Games

sumber : www.imdb.com Boleh dibilang saya agak telat kena demam Hunger Games. Saya belum membaca bukunya yang kabarnya masuk dalam jajaran best seller luar negeri. Ketika filmnya keluar, saya tidak antusias untuk menontonnya. Beberapa hal yang membuat saya tidak terlalu tertarik pada Hunger Games ini pertama ceritanya yang terlalu adventure. Saya tipe pembaca serial romance dan berkaitan dunia sihir. Tak heran saya tertearik pada Harry Potter, Twilight, dan serial buku karya Rick Riordan. Kedua, saya tidak begitu memperhatikan rekomendasi yang menulis tentang buku ini. Saya termasuk tipe pembaca yang tidak berpatokan pada review. Bagi saya, buku dan saya saling menemukan. Meski kadang saya berujung pada kekecewaan. Tapi bagi saya disitulah letak seni membaca. Selanjutnya, saya kurang tertarik pada sinopsis yang dituliskan di buku Hunger Games. Ya, seperti saya bilang tadi saya tipe orang yang lebih menitiberatkan pada serial romantis. Pandangan awal saya, Hunger Games terlalu ...