Skip to main content

Aku Selalu Berimajinasi Tuhan itu Perempuan

Ara, hari ini adalah hari ibu. Kamu belum mengerti apa-apa. Usiamu baru empat bulan. Saat kutulis tulisan ini kamu sedang tertidur. Kutulis diam-diam dengan tuts-tuts di handphoneku. Sesekali kamu menggeliat, mencoba untuk berbaring miring,bahkan kebablasan hingga tengkurap dalam tidur. Matamu terbuka sejenak. Menatap sekeliling dan terkantuk-kantuk. Mencoba untuk kembali tertidur meski dalam keadaan tengkurap. Jika mulai sulit bernafas karena hidungmu mencumbui kasur maka aku pun harus mengubah posisi tidurmu kembali terlentang. Ara, dirimu menjadikanku seorang ibu. Aku bahagia memilikimu.

Kali ini ingin aku ceritakan tentang mamaku. Perempuan yang selalu aku ingat kerut diujung matanya karena selalu tersenyum. Tak pernah kuingat ia menangis. Ia selalu tertawa. Dan kerut-kerut di ujung matanya selalu membuatku ikut bahagia. ia adalah perempuan paling kuat yang pernah kutemui.

Yang aku punya tentangnya adalah kenangan-kenangan yang tak terkikis waktu. Waktu kecil saat usia 5 tahun aku selalu tidur dengan mama dan etta. Kamar paling belakang di rumah panggung. Tempat tidurnya melantai. Yang ada cuma kasur. Kami berkelambu. Menyenangkan ketika ada acara sepakbola di TVRI dan etta mengangkat televisi masuk ke kelambu. Rasanya seperti main rumah-rumahan bersama etta dan mama. Aku suka pendar-pendar cahaya dari kotak televisi di dalam kelambu. Ribut suaranya yang mampu melenakanku dalam tidur disamping mama yang juga tertidur dan etta yang menonton sepakbola.

Moment tidur adalah moment yang terasa dekat dengan mama. Saat semua pekerjaan rumah selesai, ia akan cuci muka dan sikat gigi. Memakai bedak bayi merek okana di wajahnya. Sedikit tebal. Tidur di sampingku. Baunya bedaknya bercampur dengan bau daster mama. Hmmm...wanginya tak ada yang mengalahkan. Bahkan parfum paling wangi sedunia pun. Kami tidur depan televisi. Ketika aku terlelap ia akan menggendongku masuk di kamar. Kadang aku terbangun. Di dalam kelambu aku mencari mama. Memeluk lengannya. Dan mengemut telinganya. Kebiasaan waktu kecilku. Aku tak pernah tahu mengapa. Tapi aku menyukainya. Cuping telinga mama dingin dan lembek. Telinga itu seperti jalan memasuki dunia mimpi. Ketika kuemut maka aku akan melihat biskuit Mari besar, lorong waktu Doraemon, dan aku telah berada di dunia mimpi. Terlelap di samping mama.

Kala pagi Mama bangun sebelum subuh. Mengepulkan asap di dapur. Memasak nasi dari arang. Selalu nikmat dan wangi. Kadang aku menangis saat tak menemukannya di pembaringan. Jadinya mama berinisiatif menggendongku ke dapur. Lengkap dengan sarung dan bantal. Agar aku kembali terlelap dan ia tetap bisa beraktivitas. Paling menyenangkan adalah terbangun dan mendapati nasi goreng dan the hangat buatan mama. Aku selalu menyukai nasi goreng buatannya. Tak pernah kudapati rasa yang seenak itu di restoran manapun. Bahkan jika aku membuatnya sendiri dengan bumbu yang sama tetap tak sama. Aku merindukan nasi gorengnya. Nasi goreng yang selalu cukup untuk semua keluarga meski tak pernah cukup sebakul nasi.

Jika menu sarapan adalah nasi, maka mama akan mengambilkan seporsi nasi yang paling atas di panci. Coppo' nanre, nasi yang berada di puncak. Diharapkan bisa menjadi pemimpin kelak. Masih mengepul uapnya dan wangi. Dibagi bertiga dengan kakak-kakakku. Masing-masing mendapat sesaji.

Mamaku seorang guru. Aku bersekolah di sekolah tempatnya mengajar. Bahkan saat belum sekolah pun aku telah mengecap bangku sekolah. Waktu kecil aku hanya tahu angka dua. Saat mengajar di kelas mama juga mengajariku. Memberikan soal-soal matematika kepadaku. "1 + 1 berapa" tanyanya. Kujawab "dua". "5-3?", "dua","100:50?", "dua". Seisi kelas heran aku bisa menjawab pertanyaan ratusan saat aku masih belum bersekolah. Yang pandai sebenarnya adalah mamaku. Dia yang membuat soal yang semua jawabannya adalah dua.

Waktu kelas 1 SD, aku datang ke kantornya usia pelajaran olahraga. Menangis sedih. Uang jajan yang kusimpan di laci meja hilang. Dia hanya tersenyum dan berkata "Sudahlah. Biarkan saja. Tak usah dipikirkan". Mamaku

Waktu kelas 5 SD saat mengikuti lomba siswa teladan di kabupaten, saat itu aku ditemani mamaku. Aku selalu senang jika bersamanya. Apalagi jika jauh dari rumah. Dimana saja asal bersama mama aku selalu merasa aman. Monster sekalipun datang mengganggu aku selalu tahu aku berani. Karena ada mama.

Jika acara kemah 17an, mama selalu ikut kemah. Karena ia jadi pembina pramuka. Kemah sekalipun rasanya tetap di rumah karena dia. Pernah sekali saat malam terakhir perkemahan, ada renungan malam. Isinya renungannya membuat sedih. Membuatku membayangkan jika pulang kemah dan mamaku tiada. Aku pulang dan menangis sedih skali. Kehilangan mama merupakan hal yang sangat menakutkan.

Saat mengikuti lomba siswa teladan tingkat SMP rasanya sedih sekali. Karena saat itu mama tidak lagi menemani. Padahal kala itu aku sangat butuh dukungannya. Tiga hari ikut lomba,tiga hari juga aku harus menguatkan diri. Rasanya saat itu begitu cengeng.

Menginjak SMA aku mulai bisa mandiri. Mama pun tak melarangku melakukan aktivitas extrakurikuler sekolah. Saat kuliah pun dia tak mempermasalahkan pilihanku mengambil jurusan komunikasi, sospol. Pesannya cuma satu,belajar yang rajin. Kemudian kuliah dan sesekali pulang kampung. Mengirim kabar yang ujungnya minta uang karena persediaan uang menipis.

Ia tak pernah sempat melihatku wisuda sarjana. Apalagi menikah dan melahirkan. Rasanya sangat ingin ia berada di sini. Melihatmu bertumbuh dan mendengarkan cerita tentangku waktu aku bayi.

Ara, aku pernah bertanya pada mamaku tentang Tuhan. Bagaimana wujud? Ia menjawab "tak ada satu makhluk pun yang tahu mengenai wujud Tuhan". Lantas aku yang masih kecil saat itu kemudian berkata "mungkin Tuhan berwujud setengah dari segala benda yang ada di dunia".

Tapi jika aku mengkhayalkan wujud Tuhan saat ini, aku mengimajinasikan sosokNya adalah perempuan. Ia termanifestasi pada ibu. Aku merindukan mamaku, nak.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

  1. Selamat hari ibu yah mama Ara

    ReplyDelete
  2. terharu kak!!!!! deskripsi yang begitu mengharukan

    ReplyDelete
  3. Sama .___. aku juga selalu membayangkan sosok perempuan jika “melihat” Tuhan :)
    Ahh setidaknya mamanya kak dwi bisa melihat kakak masuk kuliah :) Andi’ ku bahkan sudah tiada sebelum saya lulus SMP

    ReplyDelete
  4. Selamat hari ibu teman2.selamat menyayangi!!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kenshin Sang Batossai

Rurouni Kenshin Saya bukan penggemar manga. Tapi kalo sekedar tahu lumayan sih. Meski kadang juga nda tau. Tapi untuk serial Samurai X saya lumayan tahu dari serial kartun yang pernah ditayangkan di salah satu tivi swasta di Indonesia meski nda terlalu ngikutin. Yang pasti saya pernah nonton serial kartunnya episode pertama dan terakhir. Hahahaha. Saya cukup malas untuk mengikuti semua episodenya meskipun kakak ipar saya punya koleksinya dan suami saya pernah cukup intens menonton serialnya. Nah, pas tahu kalo Samurai X ini dibuat live action, maka segeralah saya mendownloadnya. Mumpung berada di negara dimana mendownload tak membuat saya harus menangis saking lambatnya, maka dengan hati yang riang dan beberapa kali klik Rurouni Kenshin sudah menari-nari di depan mata saya sambil mengibas-ngibaskan Katana tumpul miliknya. Ceritanya tidak berbeda dengan serial kartunnya. Dibuka dengan akhir peperangan Bakumatsu di awal era Meiji, Kenshin memutuskan untuk berhenti menjadi samurai...

Cowok Cakep Yang Merasa Cakep Itu Bikin Ilfil

sumber :  lockhartfanclub.livejournal.com Judul postingannya panjang dan jelas. Cowok cakep yang merasa cakep itu bikin ilfil. Saya menarik kesimpulan entah sejak kapan. Mungkin sejak kuliah. Saya pernah punya pengalaman tentang cowok cakep yang merasa cakep yang makin mengukuhkan kesimpulanku itu. Waktu semester akhir kuliah, saya sering membantu senior saya menjadi front office di setiap acara yang diadakan LSMnya. Karena LSM ini fokusnya pada bidang demokrasi dan politik maka yang peserta pelatihannya adalah kalangan anggota Dewan atau anggota partai. Nah, pernah suatu hari yang menjadi peserta pelatihan adalah orang-orang muda berbagai parpol. Maka berdatanganlah para anak-anak muda yang kutaksir umurnya sekitar 25 sampai 30an tahun. Beberapa sekampus dengan saya. Tugas saya adalah memastikan mereka mengisi daftar hadir dan membagikan seminar kit. Isinya buku catatan, polpen, dan bahan materi. Karena kerjaan saya sekedar front office maka selesai membagikan seminar k...

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...