Skip to main content

Babakan Pertama

Dipeluknya.
Ia merasakan detak jantung yang tegas. Nyata. Berdetak.
Setiap detaknya seperti hujaman pisau di telinga.
Begitu nyata.

Dadanya sesak. Apakah oksigen telah berkurang? Tidak. Semua normal. Bahkan sangat normal.
Hanya saja ia berharap ada di dunia yang tidak normal.
Dimana segala hal mampu berada di luar imajinasi.
Agar pisau itu tidak menghujamnya.
Agar detak itu terdengar merdu tanpa memekakan telinga.

Ia berusaha beradaptasi dengan sekelilingnya. Juga pada dada yang dipeluknya.
Meski asupan oksigen ke otaknya begitu sedikit. Cukup mampu melumpuhkan otak.

Dipejamkannya matanya. Menahan perih yang mendera. Hanya karena sebuah detakan jantung.

Dibisikkannya sebuah kalimat "aku merindukanmu". Lirih. Sekali.
Tapi hatinya merapal itu berkali-kali. Serupa tasbih untuk sang Pencinta. Ia meyakini tiap hal di dunia memiliki ukuran dan batas.
Cinta sekali pun. Pun juga rindu.

Ia ingin menghabiskan jatah rindu yang ia miliki untuk pemilik jantung yang berdetak itu. Pemilik dada yang dipeluknya.

Ia ingin kelak tak perlu lagi rindu. Agar ia bisa kembali menjadi biasa. Menjadi manusia normal.

Tapi ia sangsi mampu menghabiskan jatah rindu itu.

"Aku merindukanmu" ucapnya lagi. Serupa bisikan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

Popular posts from this blog

Aku Berprasangka Baik

Allah SWT berfirman : "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku. Aku bersamanya setiap kali ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat - Ku ketika ia sendirian, maka Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kelompok, niscaya Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mengingat - Ku dalam jarak sejengkal, maka aku mendekatinya dengan jarak satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku dalam jarak satu hasta, Aku akan mendekat padanya dalam jaran satu depa. Apabila ia datang kepada - Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. (HR Ibnu Majah ; hadist sahih).

Bertemu Kawan Lama

Aku bertemu kawan lama. Seseorang yang padanya aku pernah iri akan cara penulisannya. Kami pernah belajar sama-sama tentang bagaimana menulis itu. Ia akan beranjak pergi. Meninggalkan Makassar dan menjadi orang yang dituntut oleh dunia kerja.Seperti aku yang juga telah beranjak. Tapi kami berjanji untuk terus menulis. Sebuah upaya yang paling merdeka yang masih kami punya semagai manusia merdeka. Yang menjadi tameng kami melawan lupa.

Pertemuan

Adakah pertemuan begitu penting? Ketika seorang manusia bertemu dengan manusia lain maka aksi reaksi terjadi. Aku bertemu denganmu dan kamu bertemu denganku. Kita berdua kemudian berbagi tentang diri kita. Nama, pekerjaan, hobi, alamat, semacam sebuah curriculum vitae lisan. Kita berbagi banyak hal. Kesamaan dan juga perbedaan. Kita akan meminimalisir perbedaan. Menggali banyak kesamaan. Namun sesekali kita akan mengungkapkan perbedaan agar kita saling memahami dan mengerti bahwa perbedaan bukanlah sebuah halangan. Dari perbedaan itu pula kita akan saling berbagi pengetahuan. Mengisi kekosongan pengetahuan. Di akhir pertemuan kita akan berkata selamat tinggal atau mungkin berkata sampai ketemu lagi. Beberapa pertemuan hanya terjadi sekali. Beberapa manusia hanya terjalin pada satu interaksi. Aku kadang bingung yang bertemu meski sekali itu adalah sebuah yang perlu disyukuri atau tidak. Mungkin si A mengenal si B, entah lewat sarana apa. Namun si ...