Skip to main content

Posts

Menanti Hujan

Matahari masih memanggang bumi dengan terik. Tanah-tanah mulai retak berdebu. Hari ini hari kedua bulan oktober. Tapi hujan tampaknya belum menampakkkan tanda-tandanya. Belum ada awan hitam yang menggumpal di atas langit. Atau hembusan angina dingin penanda badai akan segera datang. Langit masih berwarna biru cerah. Tak ada awan hitam penanda hujan akan turun. Tetumbuhan layu. Pepohonan mongering. Berdebu dan tampak menguning.Kembang di teras depan rumah melemah dan batangnya lembek. Mungkin karena kasihan, Bapak menyiramnya tiap sore. Bau tanah kering tersiram air seketika merekah membawa kesegaran. Bau tanah yang begitu kurindukan ketika hujan pertama kali bercumbu dengan bumi penanda kemarau telah pergi. Apakah hanya aku yang merindukan hujan?Terik matahari masih menjadi penyelamat bagi para petani yang memanen padinya. Gabah-gabah ditebar diatas tikar. Dipanggang di bawah matahari agar kering. Agar bisa dijual untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya anak-anak sekolah. Anak-anak pun m...

Dingin

Hujan telah turun Angin menjadi dingin Tanah menjadi dingin Pepohonan dan Tumbuhan menjadi dingin Udara mengangkasa dalam dingin Kusentuh hatiku Ia pun telah menjadi dingin Butuh hangatmu mungkin

Penyimak Hujan

Ada yang diam diam menyimak hujan sore ini Merengkuh hangatnya tanah yang berbau lembab Mengirimi infuls ke sarafsaraf otaknya yang berkata "Hai, Kamu akhirnya datang. Telah lama rindu ini melahar di hati" Ia telah lama menunggu hujan Ada yang masih diam menyimak hujan sore ini Mencari dalam rak rak imaji dongeng masa kecilnya tentang peri peri langit berpesta di atas awan Rindu itu membuncah kini Ketika titik air pertama mencumbu bumi Ada yang menyimak hujan sore ini Menyelusup dalam diam di hatinya yang sunyi "Aku merindukanmu"bisiknya lirih

Aku Mencintaimu, Tapi Kamu Menyakitiku Sayang

Aku memulai rutinitasku. Menanti hari dari senin dan berharap jumat. Menghitung 120 jam yang harus aku lalui. Menunggui detik beranjak dari titik nolnya hingga ke detakke 7200nya. Duniaku berotasi pada poros rutinitasnya.pada poros yang telah kutandatangani 6 bulan silam. Aku tak pernah sanggup meninggalkanmu. Tapi kau sapa aku dengan lembut dan kau katakan padaku “Kita perlu belajar menggapai hari. Dan sesekali kamu perlu merasakan moment meninggalkanku”. Aku pergi. Berjarak 420 km dari titik berpijakmu. Aku masih terus berotasi dan kutemukan bahwa kaulah poros itu. Rutinitasku penuh oleh bayangmu. Bayangbayang yang selalu menemani tiap kerjaku. Menjadi penyemangat kala ada salah dan marah menyelusup dalam rutinitasku. Menemaniku 120 jamku hingga datang jumat sore. Hari di mana aku dengan bebas menghubungimu meski raga kita taksempat bersentuh. Menunggui suaramu di ujung telepon meski hanya suara. Lintang dan bujur kita tak berubah jauh.meski rotasiku masih berporos padam...

Lorong Panjang Jalan kita

Apakah ini adalah cerminan jalan yang akan kita jalani kelak ketika kita sama-sama telah memiliki rumah yang bisa kita klaim bahwa itu rumah kita bersama. Apakah jarak akan selalu menjadi tempat kita bersua. Terhubung oleh koneksi digital dan selalu tergantung pada teknologi. Aku selalu bermimpi kita seperti sepasang traveler. Mendatangani tiap tempat.menjejakkan kaki-kaki kita ditiap jengkal tanah di bumi ini. Mengumpulkan kisah kisah dari berbagai tempat. Menuliskan berlembar lembar cerita yang kita dapat dari tiap jengkal bumi itu. Aku selalu menunggu saat itu. Saat dimana kita tak lagi dipisahkan oleh jarak. Jarak tak perlu menjadi lubang dalam ikatan ini. Aku ingin kita menjadi cerita dalam sebuah halaman yang tak terpisahkan. Jika mungkin spasi tak ada antara kita pun aku akan lebih bahagia. Tapi rasanya lorong panjang itu belum akan kita lalui bersama. Waktu belum berpihak pada kita. Dan jejak kita di lorong itu hanyalah jejak ku dan mungkin jejakmu yang tak berjalan bersi...

Sabtu Yang Indah

Ketika mimpi menjadi nyata betapa bahaginya hati. Dan sabtu lalu adalah ketika mimpiku telah jadinya. Bukankah kita selalu menerka bagaimana hidup kita kelak ketika kita telah memiliki rumah dan aku telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi denganmu. Kita berandai kelak aku akan menemanimu turun di lapangan. Menjadi pendampingmu saat engkau melakukan penelitian lapangan. Menjadi “tim Pengacau” yang selalu manja padamu. Ngambek meski tahu bahwa saat itu dirimu dalam kondisi bekerja dan aku menepatkan diri sebagai pelancong yang menikmati daerah penelitianmu. Dan sabtu lalu adalah ketika semua pengandaiannya itu menjadi nyata. Sengkang-Soppeng menjadi tempat pertama dimana mimpi itu menjadi nyata. Mengikuti tim penelitianmu dan aku menjadi bagian tersendiri yang independent sebagai tim pengacau khusus untukmu. aku selalu terpesona ketika kau melakukan sebuah penelitian. Pengetahuan-pegetahuan yang kau eksplor dan kau tautkan dengan pengetahuan ilmiahmu selalu membuatmu tampak begi...

Sekali Lagi : Alasan Lain Tentang Menulis

Mengapa menulis? Aku menemukan alasan yang lain dari menulis. Menjadi oleh-oleh yang abadi untuk anakku kelak. Mengapa? Aku selalu ingin tahu apa yang dipikirkan mamaku dulu ketika ia seumuran denganku. Apa yang menjadi mimpinya, bagaimana pria yang ia idamkan. Kapan pertama kali ia jatuh cinta.Bagaimana ia melihat kehidupan bergerak disekitarnya. Dan ingin mendengarkan bagaimana pendapat ia tentang hidup. Sampai ia meninggal aku hanya mengenalnya sebagai ibu yang melahirkanku. Aku tak pernah mengenalnya sebagai manusia yang lain. Aku tak pernah tahu sisi hidupnya yang lain. Hanya sesekali ia tuturkan lisan padaku. Dengan cerita-cerita yang sama saja. Aku ingin mendengarnya dalam versi lain. Versi bahwa ia seorang manusia dan merefleksikan hidup yang bergerak di sekitarnya. Aku selalu berharap ia punya catatan-catatan harian saat ia remaja hingga ia menjadi ibu bagiku. Tapi aku tak pernah bisa mengetahuinya. Takkan pernah. Karena itu aku ingin kelak anak-anakku bisa membaca diriku dari...

Seragam Jilbab

Aku beruntung telah melalui SD, SMP, dan SMA. Mengapa? Karena anak-anak sekolah sekarang telah diwajibkan memakai jilbab untuk seragam sekolahnya. Seragam lengan pendek dan rok selutut telah menjadi sebuah romantisme. Tak ada lagi yang boleh memakainya, khususnya di kabupatenku, bone. Bahkan siswa non muslim pun harus memakai rok panjang, baju lengan panjang, minus jilbab. Seragam itu menurutku menjadi paksaan bagi mereka untuk mengikuti syariat islam. Yang dimana ketika mereka berada diluar jam sekolah dengan bebas memakai baju ketat dan rok pendeknya. Jilbab itu tak lagi dari hati. Aku tiba-tiba mengingat seorang kawan yang telah menjadi guru SD di Palu. Sejak SMA kelas satu ia telah memakai jilbab atas kemauannya sendiri. Bahkan ketika aktivitas diluar sekolah pun ia masih memakai jilbab. Inilah yang kumaksud dengan berjilbab dengan hati. Jika seandainya aku menjadi siswa sekolahan sekarang, mungkin aku pun akan seterusnya memakai jilbab. Apakah ini keberutungan atau karma tapi samp...

Teruslah Bermain Nak!

Tangan kecilnya memainkan mobil-mobilan berwarna biru yang ujungnya telah patah. Aku yang membelikan mobil-mobilan itu dulu. Sudah lama. Senyum kecilnya tampak begitu ceria. Meski ia sempat merengek karena aku tak menjawab panggilannya. Sebuah panggilan yang ia berikan khusus dari mulut kecilnya. Hasil dari mulut cadelnya yang belum mampu memanggil namaku dengan benar. “Pumi”. Begitu ia memanggilku. Ia begitu merdeka dengan hidupnya. Melakukan semua hal mengikuti aturannya. Aturannya adalah menangis. Dan semua orang akan tunduk di bawah tangisnya. Tiap detiknya adalah bermain. Berimajinasi dengan segala hal yang dlihat dan yang dirabanya. Bahasanya hanya ia yang mampu mengerti. Kami hanya mampu berusaha menginterpretasikan tiap ucap yang dia komunikasikan. Kelak ketika ia dewasa hidup tak lagi menurut apa yang ia mau. Hidup akan memaksanya mengikuti aturan yang berlaku. Ketika ia mampu membuat hidup sesuai dengan aturannya, ia tleah menjadi manusia yang hebat. Tapi itu belum saatnya, n...

Janji Yang Teringkari

Pagi pertama di bulan November. Udara masih saja terasa dingin di kampungku. Bau oksigen pagi terasa dingin dalam hidungku. Meski matahari telah bersiap dengan sinarnya penanda musim masih belum berganti. November. Dua bulan terakhir sebelum penghujung tahun. Apakah ini begitu penting?tampaknya semua sama saja. Waktu berputar 24 jam sehari. 60 menit dalam sejam dan tak berubah dalam 60 detik dalam semenit. Bumi hanyalah menuntaskan tugasnya mengelilingi matahari bertawah dan tertasbih sesuai hukum Pencipta di semesta. Tak cuma bumi, tapi juga seantero galaksi dan seluruh benda langit. Apa yang penting dari itu. Bukankah itu telah terjadi jutaan tahun lalu. Bahkan sebelum manusia belajar menerka tentang hukum dan aturan benda semesta. Apa yang penting dari itu? Dalam mikro semesta hatiku, November tahun ini adalah penanda bahwa sebuah janji yang harusnya ditepati oleh hati kembali terlanggar. Kembali teringkari oleh kompromi yang bodoh. Tak ada jejaknya sedikit pun dalam file-file kompu...

Make Over Yang Aneh

Aku sudah mencoba. Semampuku. Tapi masih saja tampak aneh menurutku. Mataku sudah tak bisa berkompromi.Aku sudah harus tidur. Besok masih ada kerja yang menunggu diselesaikan. Mungkin minggu depan lagi aku utak atik lagi blog ini. Maafkan aku...

Perlu Make Over

Tampilan blog ini sudah mulai bosan aku di mataku. Dulunya aku tak ingin merubahnya tapi nyatanya perubahan itu perlu kata Kompas. Mungkin aku harus merubah skin-nya dan membuatnya lebih menarik. Nantilah aku buat ia lebih cantik.......

Etta dan Menulis

Saat menulis paling menyenangkan di rumah adalah kala pagi dan sore hari. Tanpa harus ada Kevin mengganggu di rumah. Pagi sebelum matahari begitu terik. Saat embun masih belum kering benar, sambil menyeruput teh hangat. Susahnya kala pagi adalah begitu banyak tugas rumah tangga yang harus diselesaikan sehingga menjadi beban pikiran saat menulis. Jadinya tidak focus. Kala sore ketika tak ada lagi tugas rumah yang harus dikerjakan, sambil duduk menikmati senja dan memeprhatikan anak-anak bermain layangan atau para petani Pulang dari sawah, saat-saat seperti itu pun adalah moment-moment yang baik buat moodku. Seperti sore ini. Tak ada Kevin yang menganggu. Semua tugas rumah telah selesai. Matikan Televisi dan mari bercinta dengan notebook. Kegiatan soreku ini dikomentari oleh Etta yang sibu k menyiram tanaman. Ia memeprhatikanku duduk dan menulis begitu banyak kata di layar computer. Komentarnya “kau hapal yang kau tulis?”. Aku jawab iya. “trus kenapa harus dituliskan lagi ka...

Aku Dan Sebuah Rencana Yang (Belum) Terlaksana

Mungkin aku adalah satu dari sedikit orang yang begitu senang melihat komenku di cetakan pertama Perahu Kertas-nya Dee. Cukup membuatku tertegun sejenak. Siapalah aku yang hanya menjadi satu dari begitu banyak penyuka tulisan Dee. Siapalah aku yang kemudian bias ikut nampang nama di bukunya yang begitu menyenangkan di baca. Aku merasa seperti para penulis atau orang-rang terkenal yang memberi testimony pada karya tulisan seseorang. Mungkin sejenak aku perlu berbangga. Tapi apakah aku harus berpuas pada sekedar komen di buku se popular Dee. Aku pun harus bias menuliskan sebuah cerita yang suatu saat nanti Dee berkomentar di dalam lembarannya. Aku pun harus memiliki setidaknya satu buah karya orisionil yang datang dari hati tanpa beban tugas bahwa ini sebuah persyaratan lulus kuliah laiknya skripsi. Ratusan ide bekelebat diotak kecilku. Tiap saat, tiap waktu. Tapi aku selalu tak mampu melihat wujudnya dalam sebuah tulisaan panjang yang bertutur. Aku tak mau hanya berpuas diri dalam kumpu...

Why Worry ???

If everything has been written down, so why worry??? Sepenggal lagu Dee begitu tepat untuk suasana hatiku saat ini. Bukankah manusia telah bersepakat pada Tuhan sebelum tangis pertama manusia di dunia untuk tiap langkah, materi, bahagia, sedih dan jutaan hal yang akan Tuhan berikan pada manusia di dunia. Mengapa khawatir? Jawabnya adalah khawatir sifat manusiawi. Sifat yang mencirikan manusia berbeda dengan penciptanya. Khawatir dan takut takkan pernah bisa hilang. Karena ia adalah paket yang terberi dari Tuhan. Seperti aku, kamu pun akan pergi kawan. Perbedaannya adalah jalannya tak lagi begitu sama. Jalan yang akan kita tempuh berbeda kali ini. Tiap dari kita akan menempuh jalan yang takkan sama lagi. Hidup seperti jalur maze yang kita temui di majalah anak-anak atau di buku-buku dongeng dan serial Harry Potter. Tiap kita diberi pilihan untuk memilih jalan hingga sampai di tujuan. Dalam perjalanan itu akan banyak kejutan-kejutan yang akan ditemui. Akan banyak makhluk-makhluk yang me...

Narcissa Dwiagustriani

Tiap orang yang mengenalku pertama kali akan mengganggapku orang jawa. Penilaiannya mungkin dari namaku dan juga cara bicaraku. Ketika aku menjelaskan bahwa aku orang bugis asli mereka akan mengatakan “ kok tidak ada bugisnya?”. Mereka pun akan mengetes sedikit bahasa bugis kepadaku. Kalo pun mereka tak puas dengan jawabanku mereka menanyaiku lagi, ada sedikit jawanya mungkin dari orang tua?, dan aku pun akan menjawab dengan senyum dan gelengan kepala. Dan terakhir mereka akan bertanya “pernah tinggal di jawa”, dan sekali lagi aku akan menjawab dengan gelengan kepala yang pasti”Tidak”. Terkadang ada juga orang yang bilang, aku mirip Asti Ananta. Sejak SMA kelas 1, guru dan temanku pun selalu mengatakan kami mirip. (tapi, salah kali. Asti Ananta yang mirip dengan Aku…hehehehe). Hanya sedikit orang yang mampu menebak mengapa namaku Dwiagustriani. Itu pun hanya menjawab “ Pasti orang tuanya guru, jadinya pintar pilih nama”. Orang-orang selalu menganggap Dwi berarti anak kedua. Padahal...

Apakah Sopan Santun Mulai Terkikis?

Apakah sopan santun sudah mulai mengikis? Apakah manusia-manusia modern adalah manusia-manusia yang hanya bercengkrama dengan teknologi dan tak lagi mengenal orang-orang di sekitarnya. Manusia yang tersetting individual dan capital. Mengandalkan uang dalam interaksinya dengan manusia yang lain. Seorang ibu tua menceritakan kisahnya saat berkunjung ke sebuah rumah. Anak-anak tuan rumah itu tak mengenalnya. Istri sang tuan rumah pun tak pula menyapanya. Sang tuan rumah yang terbaring sakit yang hendak dikunjunginya pun tak lagi mengenalnya. Ia hanya duduk di teras depan rumah, tanpa seorang pun yang mengajaknya masuk di rumah. Mungkin realitas itu tak hanya berlaku bagi anak-anak tuan rumah itu. Itu pun (mungkin) terjadi pada hamper seluruh orang- orang muda yang tak lagi mengenal orang-orang di sekelilingnya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan seumuran mereka. Tanpa harus merasa peduli pada interaksi-interaksi dengan para orang tua. Hal itu pun terjadi padaku, aku pun telah ter...

Keep On Dreaming

Seorang teman berkata padaku, aku tak pernah bermimpi karena aku tak pernah tidur.(vampir kali , ga pernah tidur). Apakah mimpi itu hanyalah ada saat kita tertidur. Apa sebenarnya definisi mimpi itu. Apakah mimpi hanya sebatas bunga tidur yang hanya mampu kita “alami dan rasakan” saat kita tertidur. Aku memiliki pendapat lain.Mimpi itu tak hanya hadir saat kamu tertidur. Mimpi adalah imaji bawah sadar yang tak hanya dirasakan dan dialami saat tertidur. Mimpi adalah sebentuk tempat berlari saat realitas jauh dari pengharapan ego. Mimpi adalah keinginan terpendam dalam jiwa yang mengaltar dalam ego. Ia selalu menjadi ujung jalan kita dalam berproses. Ia menuntun kita dalam setiap gerak kita. Mungkin ia menjadi tujuan akhir. Ia kadang tak disadari. Ia muncul perlahan dan kemudian menjadi sebuah bentuk utuh yang terus kita phat dalam imaji. Bermimpi tak perlu butuh tidur. Tiap manusia memilikinya. Ia tak perlu dipelajari. Ia adalah sisi manusiawi yang telah dipaketkan oleh Tuhan. A...

Lebaran Yang Sunyi

Ramadhan ke 29. Ramadhan kali ini tak sampai 30 hari. Waktu aku kecil, aku selalu sedih jika ramadhan tak cukup 30 hari. Rasanya tak lengkap. Tapi kali ini aku tak mempersoalkannya lagi. Ramadhan kali ini meyakinkanku bahwa aku adalah hidup yang terus bergerak dan berubah. Ia meyakinkanku bahwa berubah adalah sebuah kewajaran. Hidup adalah sebuah siklus dinamis yang akan terus berputar. Ketika aku berharap dan meminta agar semuanya tak berubah. Artinya aku melarang hidup bekerja sesuai tugasnya. Dan itu sebuah kemustahilan. Idul fitri ini adalah idul fitri tersunyi yang aku jalani seumur hidupku. Ini adalah ramadhan kedua yang kulalui tanpa mamaku. Harusnya Ramadhan lalu aku mendengar nyanyi sunyi ini, tapi baru kali ini sakit itu menohokku. Tak ada iar mata yang membuat mataku perih.Aku hanya merasa semua begitu berubah. Dan tak ada daya ku berharap agar semua tidak berubah. Karena aku masih di sini dan masih hidup. Lebaran kali ini kulalui hanya berdua dengan Etta. Kedua kakakku memi...