Skip to main content

Sekali Lagi : Alasan Lain Tentang Menulis

Mengapa menulis? Aku menemukan alasan yang lain dari menulis. Menjadi oleh-oleh yang abadi untuk anakku kelak. Mengapa?

Aku selalu ingin tahu apa yang dipikirkan mamaku dulu ketika ia seumuran denganku. Apa yang menjadi mimpinya, bagaimana pria yang ia idamkan. Kapan pertama kali ia jatuh cinta.Bagaimana ia melihat kehidupan bergerak disekitarnya. Dan ingin mendengarkan bagaimana pendapat ia tentang hidup.

Sampai ia meninggal aku hanya mengenalnya sebagai ibu yang melahirkanku. Aku tak pernah mengenalnya sebagai manusia yang lain. Aku tak pernah tahu sisi hidupnya yang lain. Hanya sesekali ia tuturkan lisan padaku. Dengan cerita-cerita yang sama saja. Aku ingin mendengarnya dalam versi lain. Versi bahwa ia seorang manusia dan merefleksikan hidup yang bergerak di sekitarnya.

Aku selalu berharap ia punya catatan-catatan harian saat ia remaja hingga ia menjadi ibu bagiku. Tapi aku tak pernah bisa mengetahuinya. Takkan pernah.

Karena itu aku ingin kelak anak-anakku bisa membaca diriku dari sudut pandang yang berbeda. Agar kelak pun ia melakukan hal yang sama untuk cucu-cucuku kelak.

Comments

Popular posts from this blog

Aku Berprasangka Baik

Allah SWT berfirman : "Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada diri-Ku. Aku bersamanya setiap kali ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat - Ku ketika ia sendirian, maka Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kelompok, niscaya Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mengingat - Ku dalam jarak sejengkal, maka aku mendekatinya dengan jarak satu hasta. Jika ia mendekat kepada-Ku dalam jarak satu hasta, Aku akan mendekat padanya dalam jaran satu depa. Apabila ia datang kepada - Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari-lari kecil. (HR Ibnu Majah ; hadist sahih).

Bertemu Kawan Lama

Aku bertemu kawan lama. Seseorang yang padanya aku pernah iri akan cara penulisannya. Kami pernah belajar sama-sama tentang bagaimana menulis itu. Ia akan beranjak pergi. Meninggalkan Makassar dan menjadi orang yang dituntut oleh dunia kerja.Seperti aku yang juga telah beranjak. Tapi kami berjanji untuk terus menulis. Sebuah upaya yang paling merdeka yang masih kami punya semagai manusia merdeka. Yang menjadi tameng kami melawan lupa.

Pertemuan

Adakah pertemuan begitu penting? Ketika seorang manusia bertemu dengan manusia lain maka aksi reaksi terjadi. Aku bertemu denganmu dan kamu bertemu denganku. Kita berdua kemudian berbagi tentang diri kita. Nama, pekerjaan, hobi, alamat, semacam sebuah curriculum vitae lisan. Kita berbagi banyak hal. Kesamaan dan juga perbedaan. Kita akan meminimalisir perbedaan. Menggali banyak kesamaan. Namun sesekali kita akan mengungkapkan perbedaan agar kita saling memahami dan mengerti bahwa perbedaan bukanlah sebuah halangan. Dari perbedaan itu pula kita akan saling berbagi pengetahuan. Mengisi kekosongan pengetahuan. Di akhir pertemuan kita akan berkata selamat tinggal atau mungkin berkata sampai ketemu lagi. Beberapa pertemuan hanya terjadi sekali. Beberapa manusia hanya terjalin pada satu interaksi. Aku kadang bingung yang bertemu meski sekali itu adalah sebuah yang perlu disyukuri atau tidak. Mungkin si A mengenal si B, entah lewat sarana apa. Namun si ...