Skip to main content

Posts

Tanpa Jarak

Sender : 0818050353xx To : 0813429371xx Tanpa jarak maka entah rapat entah berantara Tanpa aksara Maka entah diam Entah bicara Tanpa ketika Maka entah sebentar Entah lama Tanpa masa Maka entah kekal Entah fana Tanpa janji Maka entah berpisah Entah bersua (TANPA JARAK-Mustofa Bisri) For Sender, Thanks for the Poem…

Belajar Dandan

Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada suatu hari aku akan belajar untuk menyapukan blush on di pipiku, melukis dengan eye shadow pada lengkung mataku. Menjepit bulu mataku dengan pelentik mata kemudian menyisirnya dengan maskara . Dan sapuan lipstick berwarna pada bibirku. Selama ini aku hanya memakai pelembab dan bedak padat sewarna kulit untuk riasanku. Hanya lip balm tak berwarna yang menyentuh bibirku. Itu saja. Tapi mulai sekarang aku harus belajar untuk memakainya. Dalam imaji masa kecilku aku tak pernah membayangkan diriku pada titik belajar ini. Aku melompatinya. Aku hanya membayangkan diriku dalam dandan cantik nan manis dalam balutan gaya wanita modern. Aku tak punya tutor handal dalam perihal dandan. Dua kakakku sama denganku, tak begitu paham dandan. Bagaimana mencari make up yang berkualitas dan bagaimana mencampur warna-warna itu dan melukisnya di wajahku. Seperti dejavu rasanya saat ini. Aku melihat Dwi kecil di kamar kakaknya dengan dua orang teman...

Kututup Hari Dengan Sedih...

Tiba-tiba saja ujung hariku yang begitu indah terkoyak karena sebuah egoisitas yang kukira bisa kutaklukkan. Aku berpikir aku sanggup mengatasinya. Aku menyangaka aku sanggup mengarahkannya. Namun yang kutemui semua berbalik arah dan menikamku Ternyata aku tak tahu aturannya. Aku tak punya navigasi untuk berjalan ke arah mana. Semua tiba-tiba menyakiti diriku akibat ulahku sendiri. Aku pikir ini sama seperti biasa. sama seperti jika aku bersama orang lain dan komunitas yang lain. Tapi ternyata, semua telah berubah. This world use a different rules. I couldn't change it. And i don't have chance to change it. Semua kecewa padaku. Tak ada lagi yang mau mendengarku. Tak ada lagi yang mau dengan sabar menemani dan mengantarku. Ya...semua telah berubah. Aku terlambat tuk menyadarinya. Pada akhirnya hanya aku yang tersakiti. Berurai air mata di sini tanpa orang-orang yang kadang kau sebut dengan bermacam-macam nama (pacar, teman, sahabat, odo-odo') yang menemani. Aku tiba di ...

Dari Cafe Ke Cafe

Hmmm…..menyenangkan. seperti band saja yang pentas dari café ke café. Seperti itu pula aku melewati dua hariku belakangan ini. Mengikuti k yusran dan k riza yang sibuk buat proposal ke jepang yang harus dikerjakan dengan cara-cara elit. Dan akhirnya, aku pun ikut juga (dengan cara sedikit memaksa dan penuh ancaman). Kemarin di Balls Cafe dan hari ini di Dunkin Donuts . Hmmmm…..nice!!!! Hari ini curi wifi gratis dari Black canyon cafe yang tepat di atas dunkin donuts Mtos…hehehehe

Malasss........

Entah kenapa,pokoknya malas banget!!!!!!!!!!!!!!

Selamat Tinggal Gigiku

Aku ke dokter gigi. HEBAT!!!! Mengapa? Karena ini pertama kalinya aku ke dokter gi gi. Sejak aku punya gigi hingga dua diantara keropos dan berlubang aku tak pernah ke dokter gigi. Mamaku tak mendidikku secara baik tentang perlunya ke dokter gigi. Saat gigi susuku terlepas, ia hanya membawa ke puskesmas dan meminta perawat untuk dicabutkan. Itu pun hanya dua kali. Setelah itu, aku mencabutnya sendiri. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak kecil jika mencabut giginya sendiri. Aku pun malas sikat gigi, saat kecil aku langganan sakit gigi. Memakan begitu banyak permen dan tak gosok gigi sebelum tidur membuat gigiku berlubang. Pipiku bahkan pernah bengkak dan lain sebagainya yang ada kaitannya dengan sakit gigi. Mamaku tidak pernah berinisiatif untuk menambal lubang gigiku. Ia hanya mengandalkan pijat refleksinya. Ia selalu bilang “ nanti kalo keropos semua, toh tidak sakit lagi”. Saat itu aku berpikir, pijat refleksi untuk membuat gigi keropos. Ia juga terkadang mengatakan bahwa...

Cerita-Cerita

Banyak kisah yang perlu dituturkan Sedikit waktu untuk mengisahkan Dan anak-anak tak lagi mau mendengar dongeng sebelum tidur Tapi tunggulah... Untukmu, kisah ini akan tetap aku ceritakan Meski dengan berbisik

Kerja, Pekerjaan, Atau Apalah Namanya….

Telah 76 hari aku menyandang gelar S.Sos dan dikukuhkan dalam rapat terbuka universitas. Telah 76 hari aku menyandang gelar baru bernama pengangguran atau pencari kerja. Yang mana yang paling tepat, aku juga kurang tahu. Lumayan banyak CV telah aku tebar di seantero SulSel dan Jakarta. Banyak yang hanya menjadi koleksi divisi HR bahkan mungkin untuk yang kurang beruntung berada ditumpukan barang kantor yang harus segera disingkirkan. Ada juga yang berbaik hati mau menelponku dan mewawancaraiku. Tak sedikit yang gagal di tes psikologi. Hanya satu yang lulus sampai tahap wawancara (sejauh ini.) Tapi tak sedikit pula yang menerimaku dan mau menjadikanku karyawannya. Tapi tak sedikit pula yang aku tolak dengan alas an yang bermacam-macam. Kadang aku pikir, kerjaan itu ga gw banget deh . Atau kerjaan itu terlalu berat untukku, atau kerjaan itu tak sesuai dengan divisi yang aku inginkan. Sampai pada titik, aku kemudian bingung mau kerja apa. Telah begitu banyak perusahaan yang kukirim...

Belajar Naik Motor

Hari ini kak yusran dengan sukses memaksaku belajar mengendarai motor. Keterampilan ini sebenarnya sudah lama ingin aku pelajari. Tapi sarana dan guru tak ada. Aku hanya ingin diajari sama k yusran dan juga diajari pake motornya. Selain itu factor yang lain adalah aku lumayan takut pada ara h gerak kendaraan dan lalu lintas. Aku selalu takut tertabrak atau kecelakaan saat dibonceng, apalagi saat aku yang harus memegang kendali atas kendaraan. Ih…ngeri!!!! Dengan segala bujuk rayu, jutaan pernyataan bahwa aku akan baik-baik saja, berbagai penegasan yang mengatakan bahwa ini lebih mudah dari berkendara sepeda, k yusra n berhasil menggiringku ke bagian peternakan unhas di jalan sahabat. Di sana aku masih saja takut. Ia memegangiku dari belakang dan berusaha melepas sedikit-sedikit pegangannya, namun masih saja aku berteriak histeris dipenuhi tawa. (kombinasi yang aneh!). Untungnya menggunakan helm standar, jadi tak ada orang yang mengenaliku sore itu. Aku belum bias mensinkronkan an...

Nostalgia Bersama Bobo

Ini dua kalinya aku membeli majalah bobo ketika umurku sudah menginjak 22 tahun. Majalah anak-anak yang kukenal sejak aku kelas tiga SD. Masih kuingat saat itu ketika Etta dan Mama membawakan majalah itu dari ibukota Watampone. Dwi kecil tampak begitu berseri-seri. Binar matanya menampakkan sebuah kebahagiaan yang begitu besar. Dipandanginya sampul berwarna pmerah jambu itu. Artikel yang paling aku ingat saat itu adalah liputan tentang Kotaro Minami, pemain kesatria baja hitam yang saat itu lagi hebohnya ditayangkan di RCTI. Aku membaca tiap halamannya, bahkan iklannya sekalipun. Aku sangat senang kala itu. Seperti mendapatkan permintaan yang terkabulkan dari seorang peri. Dan yah….orang yang memberiku majalah itu memang adalah peri…. Kemarin aku kembali ingin bernostalgia bersama majalah itu. Membaca rubric ringan yang begitu menyenangkan. Menemukan dunia kanak-kanak yang selalu membahagiakan. Aku tak tahu kapan terakhir membeli dan membacanya, tapi yang au tahu pertimbangan kala it...

Ode buat Kevin

Kaki kecilnya sudah lama mencumbu tanah dan debu Telah banyak parutan di kulit kaki dan tangannya Sebuah sayatan silet telah membekas di atas bibirnya Meski kata masih sedikit-sedikit terapaldari mulut kecilnya Meski larinya telah begitu kuat, tak sanggup ku kejar Mesk tangisnya lebih keras lagi dari waktu ia kecil Ia mulai mengenal dunia, merasakan cinta dan membagi cinta Ia telah mampu memaknai keluarga, rasa bersama, dan wangi khas ibu Ia telah dua tahun kini menapaki jalannya Masih sering terjatuh Tapi bukankah hidup adalah tentang jatuh dan bangkit kembali Dan ia masih akan terus berjalan.. (Selamat ulang tahun sayang… 5 Maret 2008)

Kangen Sama Kamu...

Lama sudah aku menyia-nyiakannya. Mulai jarang aku menegok. Memberinya sapa atau berbagi cerita dengannya. Aku berada di titik merenung. Aku hanya diam memandangi stengah rajutanku dan benang yang ada di pangkuanku.... Aku hanya bisa berkontemplasi dengan ini semua. Pikiranku masih belum bisa membuatnya menjadi kata-kata. Aku lelah....aku hanya mampu diam..... Aku hanya bisa memandangnya dan membisikkannya kalimat "Aku kangen kamu"

Hmmm.....

Seperti jalan yang harus ditapaki....tajam, berkerikil, penuh debu Tapi menyenangkan....selalu ada bintang yang menemani Ini adalah hidup

I'm Looking For Someone

Aku mencari seseorang yang bisa membaca fiksi. Yang tidak mengenalku. Yang bisa mengomentari dan mengkritisi karyaku. Aku mencari seseorang yang bisa memodaliku membuat jasa binatu di sekitar kampus. ANDAKAH ORANGNYA??? Silakan kirim email ke terasimaji@yahoo.co.id jika anda adalah salah satu diantara keduanya. (sertakan data diri anda dan juga posisi yang anda minati. tapi dengan catatan ini proyek non profit. kecuali untuk modalin laundry. bisa bikin kontrak)

My 2nd Magic Box

Aku punya kotak ajaib lagi. Isinya masih seperti kotak ajaibku pertama. Kebanyakan diary. Tapi tak ada lagi kertas-kertas ujian dari berbagai mata pelajaran dan surat cinta aneh. Tak ada lagi pasir-pasir atau ilalang kering dalam plastik kecil. Aku seperti menatap diriku di dua kotak itu. Kotak pertama, adalah cerminan aku yang masih culun, penuh dengan mimpi. Belum mampu membedakan realitas dan mimpi. Duniaku tak berujung saat itu. Duniaku penuh dengan mimpi-mimpi besar seorang gadis remaja. Kotak kedua adalah diriku yang berproses menuju kematangan. Tulisan-tulisan dalam diaryku lumyan kritis dengan diksi yang lumayan menyenangkan. Beberapa bercerita tentang kisah cinta yang konyol tapi dihalaman lain juga bercerita tentang cinta yang sejati. Ada sebuah janin yang terkandung dalam kotak itu, tapi aku masih menjaganya dan memeliharanya agar ia bisa lahir menjadi anak yang membanggakan. Aku masih gadis pemimpi sekarang. Tapi kali ini aku telah mampu melihat batas dunia nyata dan imaji....

Scene-Scene Di 72 Jam Terakhirku

Scene pertama (minggu 15 februari 2009) Minggu siang, tak ada kerjaan. Hari ini ada family gathering komunikasi UH, tapi aku beranjak juga dari kamarku untuk bersiap-siap. Aku malas ke acara ngumpul-ngumpul bareng senior, entahlah sense of sosialitaku lagi ngadat. Aku lagi memanjakan tubuhku untuk tidak bertemu dengan pak matahari lama-lama. Tumpukan inputannya k riza pun masih setia menunggu tanganku untuk menjamahnya. Klipingan peta politik dari Koran Kompas untuk Kak Riza akhirnya bisa aku selesaikan. Tapi ternyata ia membutuhkan waktu hampir seluruh siangku untuk itu. Tapi tak apalah, setidaknya satu kerjaan terselesai. Bapak bersuara gabungan bas dan tenor, penagih setia koranku datang hari ini. Datang di saat aku sama sekali tak punya uang sepeser pun. Tapi untungnya Kak Riza mau membayarkannya untukku, karena ia punya kepentingan data dari Koran-koranku. Sore (pukul 16.45) Ettaku menelpon, katanya ia di Panaikang. Seperti biasa saya harus ke sana dan bermalam. Seperti itu ritua...

It’s Vals Day

Benda apa yang paling laku beberapa hari terakhir ini? Coklat, bunga (baik asli maupun palsu), ornamen dan hiasan berbentuk hati, dan tentu saja kertas kado. Yah, it’s valentine day. Salah satu hari istimewa di luar perayaan sebuah kepercayaan yang dirayakan di seluruh dunia. 14 februari selalu penuh dengan ikon hati dan berwarna pink dan merah. Mayoritas orang tiba-tiba romantis memberikan kejutan-kejutan kecil kepada orang yang dikasihinya. Aku tak menganggap hari ini begitu istimewa. Tiap hari menurutku adalah hari kasih sayang. Ia tak hanya untuk sekali setahun tapi ia adalah tiap detak napas yang dihirup. Aku juga bukan golongan orang yang membenci valentine. Valentine salah satu hari untuk mengingatkan kita bahwa kasih sayang adalah napas yang membuat bumi berputar, matahari, bulan, dan bintang bersinar. Kasih sayang yang membuat kita bisa bernapas. Kasih sayang yang membuat mahkluk sel satu berevolusi menjadi jagad semesta raya. Kasih sayang tak hanya pada orang yang saling menc...

This Is My Starting Point

Well done baby!!!! Kataku dalam hati. Finally I decide to stay cool. Aku menikmati saja semua yang ada. Tak perlu ngotot tapi juga tak pernah lelah mengasah diri. Seperti para broker yang menggunakan metode wait and see, menunggu kapan waktu yang tepat untuk trading, dan terus menganalisa pergerakan pasar. Seperti itulah bertarung dalam hidup. Tidak gegabah, menunggu waktu dan terus mengasah pedang. Beberapa waktu lalu, aku terlalu cemas pada kondisiku. Pada kondisi tak punya kerja dan menjadi anggota KPI (komunitas Pengangguran Indonesia). Tapi pada kenyataannya, hal itu membuatku tak bias focus pada jalan yang akan mengantarkanku pada tujuanku yang utama. Aku kagum pada dua orang perempuan yang tak begitu aku kenal. Menurutku, mereka hebat. Tapi mereka telah menanamnya jauh-jauh hari. “Dan apakah salah jika aku baru menanam sekarang?”fikirku dalam hati. Tak ada kata terlambat. Bahkan di usia 70 tahun pun seorang perempuan tua bias melahirkan seorang anak. 22 tahun masih usia yang beg...

Don't Panic

Hidupku lurus-lurus saja...kurasa. tapi ternyata aku dalam kepanikan besar, menurutnya. Aku berada dititik bahwa tak ada kerjaan artinya aku mati. Dan ternyata pola pikir seperti itu haruslah dienyahkan dari sudut fikirku. Kemarin aku wawancara di stasiun tv lokal, grup dari MNC. Aneh juga ceritanya. Lamaran yang kukirim jumat lalu beralamat yang salah. Aku pun bahkan bingung mengapa sampai lamaran itu terkirim ke tempat tujuannya. Aku familiar dengan kru stasiun itu. beberapa bahkan lumayan aku kenal. Serasa de javu. Suasana kantor khas keredaksian sebuah media. Gunakan aturanmu sendiri. Semua santai, bercanda bersama direkturnya dan sangat jauh dari kondisi perkantoran. Aku menilai cara berpakaianku hari ini, hmmmm... hanya aku yang paling rapi di sini. Ia mewawancaraiku, yang sebenarnya lebih kepada memintanya mengetikkan aplikasi untuk fellowshipnya ke luar negeri. pake bahasa inggris dan dengan pengetahuanku sendiri. jujur, aplikasi itu jauh dari grammarnya mas william. ia p...

Tak Semua Sempurna

Akhirnya kudapati juga cela yang tak begitu aku sukai dari Edward Cullen. Ia tidak memiliki sense of humor yang begitu tinggi. Padahal aku sangat menyukai pria yang selalu bisa membuatku tersenyum. Tak ada yang benar-benar sempurna. Tapi hari ini aku begitu bahagia menyadari arti kehidupanku. Sejauh ini perjalanan yang kutempuh belumlah begitu jauh, tapi aku cukup bahagia dengan semua ini. hidupku tak juga terlalu monoton dan juga tak begitu tragis. Kisah kehidupanku pun lumayan cukup untuk cerita biografi, kiah percintaanku pun cukuplah untuk laku untuk beribu eksemplar. Aku cukup imajinatif, aku cukup realistis. Aku mampu terbang tinggi dan tak pernah lupa bahwa kaki harus tetap berpijak di bumi.Sejauh ini aku bisa menapaki tangga-tangga mimpiku. Sedikit-sedikit memang, tapi itu adalah tujuan terakhirku dari kehidupan ini..... Meski tak begitu sempurna, tapi aku sangat yakin hidupku begitu HEBAT!!!!