Skip to main content

Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan ( Seri Buku Tempo : Bapak Bangsa)



Judul : Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan ( Seri Buku Tempo : Bapak Bangsa)
Penulis : Tim Edisi Khusus Tan Malaka (Majalah Tempo)
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia 


Sosok Tan Malaka baru kukenal saat kuliah. Itupun sebatas mengenal namanya tanpa pernah membaca buku-bukunya. Perkenalan saya dengan Tan Malaka hanya sekedar diskusi yang diadakan kawan-kawan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa ( UKPM) Unhas. 

Setiap mendengar Tan Malaka maka yang terlintas dalam pikiran saya adalah buku Madilog ( Materialisme-dialektika-Logika) karyanya yang terkenal. Buku yang sangat tebal dan masuk dalam kategori bacaan berat buat saya. Maka, saya pun tidak tertarik untuk mencari lebih jauh tentang Tan Malaka. 

Seri Buku Tempo, Tan Malaka ini memberikan gambaran kepada saya siapa Tan Malaka itu. Saya menyebut buku ini Tan Malaka for Beginners. Siapa Tan Malaka, bagaimana perjalanan hidupnya, kontribusinya terhadap Indonesia, hingga kisah cinta dan akhir hidupnya yang tragis dipaparkan dalam buku ini. 

Buku ini menarik dibaca dan ringan karena pada awalnya adalah reportase khusus majalah Tempo tentang Tan Malaka. Membaca buku ini membuat saya paham mengapa kawan-kawan di UKPM sangat mengagumi sosok ini. Pemikirannya akan Republik Indonesia dan rancang bangun republik yang dicita-citakan sangat orisionil. Republik versi Tan Malaka adalah negara yang efisien. Ia tidak mempercayai sistem parlemen yang menurutnya akan berjarak dengan masyarakat. Yang kemudian membentuk kelompok sendiri dan kemungkinan menguntungkan pemodal. 

Tak jarang Tan Malaka berselisih paham dengan para tokoh nasional seperti Soekarno, Syahrir, atau Hatta. Sikap hidup Tan Malaka adalah hasil tempaan dari perjalanan puluhan tahunnya hidup di berbagai negara, lari dan bersembunyi. Ia pun menjadi penyaksi kejamnya tentara penjajah memperlakukan rakyat dari negara yang dicita-citakannya. Sayangnya, Tan Malaka mati karena bedil tentara Republik sendiri.  

Buku ini menuntun pembaca untuk mengetahui siapa Tan Malaka. Memperkenalkan sosoknya yang cerdas dan revolusioner. Saya memberi rating 4 bintang pada buku ini. Kolom-kolom yang ditulis para peneliti dan sejarahwan yang dimuat dalam buku ini pun sangat membantu untuk memahami Tan Malaka dan buah pikirnya. 

Terakhir saya ingin mengutip kalimat Tan Malaka saat ditangkap oleh polisi Hong Kong 1932, "dari dalam kubur suara saya terdengar lebih keras daripada di atas bumi". Saya mendengar suaranya lantangnya. (*)

Bone,  3 Maret 2014

Comments

  1. Anonymous3/04/2014

    kangenku sama yg punya ini blog T___T

    by: anak buahnya bos kesayangan...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Megamind : Ketika Penjahat Menjadi Pahlawan

Bayangkan jika bayi superman tidak jatuh di lahan pertanian Mr. Kent di Amerika. Bayangkan jika bayi super itu jatuh di Rusia (Cinemags,November 2010)? Berangkat dari imajinasi itu dreamworks terilhami untuk membuat film animasi Megamind. Siapa Megamind?  Dia adalah makhluk planet lain berwarna biru sekujur tubuhnya dan memiliki ukuran kepala yang sangat besar. Seperti kepala anak pederita Hidrosepalus. Dia adalah penjahat paling keji kota Metro. Memiliki lawan tangguh bernama Metroman yang juga makhluk planet lain yang berbeda dengan Megamind. Film diawali dengan jatuhnya Megamind dari gedung tertinggi. Ia pun kemudian memikirkan bahwa itu adalah akhir hidupnya. Scene berganti dan ia pun menuturkan latar kehidupannya. Megamind kecil dimasukkan dalam rocket kapsul  bersama seekor ikan, penjaganya, bernama minion. Planet tempatnya tinggal tersedot oleh black hole di ruang angkasa.Rocket kapsulnya melesat ke angkasa. Ternyata tak cuma ia sendiri, seorang bayi dari planet ...

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yan...

Music Is Magic

Musik. Aku selalu menganggap bahwa ia adalah salah satu penemuan yang paling berpengaruh di dunia. Albus Dombledore pun bersepakat dengan itu. "Ah, music," he said, wiping his eyes. "A magic far beyond all we do here" (Harry Potter And The Sorcerer's Stone). Musik dan lagu adalah sebuah sihir yang mampu merubah banyak hal. Mood, bahagia, sedih, dan bahkan kematian pun terekam indah karenanya.  Aku tak menguasai instrumen apapun. Dan jangan memintaku menyanyi satu lagu pun. Aku menikmati musik dengan cara berbeda. Mungkin agak berbeda antara musik dan lagu. Tapi disini, aku akan menyamakannya. Disini musik adalah sebuah lagu. Yang penuh lirik singkat namun memiliki arti yang sangat dalam.  Ia tak ada bedanya dengan puisi jika berdiri dalam sebuah larik-larik bait tanpa diiringi nada. Namun, ia kemudian menjadi begitu lebih membumi ketika bait-bait itu teralunkan bersama musik. Aku agak susah menikmati puisi. Beberapa baitnya...