Skip to main content

Hadiah Buku Ammacaki



Adalah menyenangkan ketika seseorang menghubungimu dan memintamu memilih buku apa saja yang kamu inginkan dan ia bersedia membayarkannya untukmu. Rasanya seperti mendapatkan kejutan yang sangat menggairahkan. 

Saya mengalaminya seminggu lalu. Seorang kawan tiba-tiba mengirimi saya pesan via Whatsapp dan menanyakan buku apa yang ingin saya miliki dengan nominal yang cukup besar. Seketika saya blank. Buku apa yang saya inginkan? Keinginan memiliki suatu judul buku selalu terbersit manakala saya membaca resensi atau seseorang merekomendasi buku dengan judul tertentu. Namun, tak jarang buku yang diinginkan tidak lagi dicetak atau agak susah ditemukan di toko buku besar. Maka ketika saya ditanya buku apa yang saya inginkan, maka saya tidak tahu sama sekali. Untungnya satu judul buku menjelma terang di pikiranku. Serial Lord of The Ring, versi booksetnya yang belum ku koleksi. Segera saja saya menyebutkan buku tersebut. Kemudian masih tersisa satu quota buku lagi. Semua buku yang saya sebutkan tidak tersedia, untungnya kawan saya ini menawarkan buku yang memang telah lama saya dengar namun belum saya baca, George Orwel, 1984. Koleksi buku-bukuku bertambah lagi, senangnya. 

Siapa yang begitu baik hati membelikan saya buku? Nah, namanya Ammacaki. Ammacaki adalah komunitas review buku di Makassar dengan aturan masing-masing anggota membaca dan menulis review dari buku yang dibaca lewat blog atau catatan fesbuk. Yang membaca dan mereview buku terbanyak setiap bulannya menjadi pemenang dan masing-masing anggota wajib menyumbang Rp.10.000 sebagai hadiah untuk pemenang. Hadiahnya berbentuk buku yang dipilih oleh pemenang. 

Sangat gampang bergabung di komunitas ini. Cukup mention di twitter @Ammacaki dan menuliskan link blogmu atau gabung di facebook #bacaituseru. Tiap bulan Ammacaki mengadakan kopdar di Makassar sembari ngobrol dan diskusi buku. Tiap bulan ada bacaan wajib yang menjadi bahan diskusi untuk kopdar berikutnya. Asyik kan kegiatannya? Kapan lagi bisa baca buku dan mendapatkan reward buku juga.

Terima Kasih Ammacaki, buku-buku tebalnya berat tapi tampak indah berjejer di rak buku. Pasti lebih asyik lagi pas dibaca ;). (*)

Bone, 6 Mei 2014

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...

Inflasi 101 for Ara

Belakangan ini Ara suka nanyain berapa banyak uang di tabungannya. Uang tabungan hasil salam tempel dari Etta, salam tempel karena puasanya full, hingga uang yang dia dapat kalo berhasil "ngejualin" gambar-gambar bikinannya ke Emaknya. Awalnya tabungan itu pengen dia pake buat beli handphone. Karena selama ini handphone yang dia pakai hanyalah bekas dari bapak emaknya. Dia pengen ngerasain punya handphone baru yang aplikasinya unduhan dia sendiri. Folder fotonya ga penuh dengan foto dan video dari konser boyband. Tapi karena pas ulang tahun ke 10 kemarin, Bapaknya ngadoin handphone baru dia ga jadi bongkar tabungan.  Pernah juga dia terobsesi untuk membeli konsol Nintendo. Entah yang model yang mana. Yang pasti bukan model terbaru. Karena ia berhasil menjelaskan kepada saya kalo harganya ga lebih dari dua juta. Dia kepengen main game Tomodachi yang hanya bisa dimainkan dikonsol itu. Sampai sekarang saya belum ngijinan dengan alasan uang tabungannya belum cukup. Dia pun lama-k...

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yan...