Skip to main content

Kost Idaman

Sudah tiga hari aku menjalani sebuah kerja yang setahun ke depan (untuk saat ini) menjadi rutinitasku. Masih terlihat ringan sekarang. Entahlah nanti. Tapi aku tak ingin ini mejadi lebih berat. Aku ingin menikmatinya seperti sebuah arena bermain. Yang di dalamnya hanya ada tawa berderai derai dan selalu ada hal yang menyeangkan.

Waktuku mungkin akan banyak tersita, tapi aku tak mau tahun ini aku melupakan mimpiku. Aku harus membuatnya ada setidaknya menjadi janin yang bentuknya sudah terlihat.

Aku butuh tempat untuk mengeraminya, memeliharanya. Tapi di sini, di daerahku sendiri aku tak begitu mengenalnya. Kota ini begitu asing. Semua tempat begitu penuh. Semuanya begitu jauh, dan tak cukup representative untuk ukuranku. Telah sering kota ini mengecewakanku dan menjadi trauma tersendiri buatku. Namun,kali ini aku harus menaklukkannya.

Aku butuh tempat untuk diriku sendiri.di tempatku sekarang pada dasarnya baik, tapi ada kesungkanan yang selalu muncul dan aku hanya tak mau itu terjadi. Sungkan akan mengkrangkeng semua kreativitasku.

Adakah yang ingin menunjukkan sebuah tempat yang nyaman bagiku. Cukuplah ia dengan kamar mandi di dalam kamar, tempat tidur, lemari, dan sebuah dapur kecil. Dan berada dalam jarak yang relatif dekat dalam defenisiku..

Somebody, help me…..

Comments

Popular posts from this blog

Dongeng Kita

Siang ini aku terjaga dari tidur panjangku. Seperti seorang putri tidur yang terbangun ketika bibirnya merasakan hangat bibir sang pangeran. Tapi, aku terjaga bukan karena kecupan. Namun karena aku merasakan indah cintamu di hariku. Mataku tiba-tiba basah. Aku mencari sebab tentang itu. Namun yang kudapati haru akan hadirnya dirimu. Memang bukan dalam realitas, namun pada cinta yang telah menyatu dengan emosi. Kita telah lama tak bersua. Mimpi dan khayal telah menemani keseharianku. Tiap saat ketika aku ingin tertidur lagu nina bobo tidak mampu membuatku terlelap. Hanya bayangmu yang selalu ada diujung memoriku kala kuingin terlelap. Menciptakan imaji-imaji tentangmu. Kadang indah, kadang liar, kadang tak berbentuk. Tapi aku yakin ia adalah dirimu. Menciptakan banyak kisah cinta yang kita lakoni bersama. Aku jadi sang putri dan dirimu sang pangeran itu. Suatu imaji yang indah...

Tak Ada Resolusi

New year celebration in New York (reuters.com) Mungkin agak basi jika menuliskan tentang tahun baru. Hari ini sudah dua Januari. Di belahan bumi lain sudah memulai 3 Januari. Puncak tahun baru adalah 31 Desember tengah malam dan Januari pertama. Tapi kupikir tak ada salahnya menuliskan tentang tahun baru. Penumpang bus masih tetap saling mengucapkan selamat tahun baru sekalipun penanggalan tak lagi pada angka satu. Seperti tahun baru yang lalu tak ada gegap gempita perayaan atau sekedar menyalakan kembang api. Sekalipun dirayakan di negara berbeda. Perayaan adalah pilihan pribadi. Segala riuh rendah tergantung individu. Tahun baru kemarin tak ada perayaan istimewa. Hanya berkunjung ke rumah teman Indonesia dan makan bersama. Pulang sebelum malam larut. Sebelum kalender berganti bilang. Resolusi selalu menjadi trending topik saat tahun baru. Mungkin seperti anak tangga baru yang harus ditapaki. Memulai dari awal. Menjadi awal baru untuk hati yang sedang sedih. Meyakinkan hati ...

Empat Mei

Diam-diam kita menyimpan luka dan parut masing-masing. Kita simpan di ruang paling gelap dan kelam yang bahkan kita pun tak mampu melihat. Luka dan bekas parut tidak untuk dilihat dan dipajang. Sedapat mungkin tak terasa. Tapi kita tak pernah mampu lari luka kita sendiri. Bekas parut yang kita miliki tak pernah menjadi milik orang lain.  Kenangan-kenangan yang tidak indah  lekang lebih lama dari jejak-jejak ingatan yang baik. Angka -angka pada kalender berganti, namun kita sering terkenang pada peristiwa yang menjauh ke belakang. Sambil bergumam "telah menahun kenangan itu memberi luka parut di hati". Satu buku tahun tertutup, luka masih terasa sakit, sebuah maaf yang dusta untuk hati yang mengiba. Tapi luka itu tak pernah mampu sembuh. Parutnya membekas. Garisnya menandai sebuah peristiwa.  Adakah ingatan kita hari ini membawa kita ke masa lalu? Adakah ia menyentakkan jiwa seraya berkata hari ini di masa lalu, aku menyakiti hatinya. Kita saling menyakiti. Sumpah serapah ...