Skip to main content

Posts

Saat Kita Membicarakan Kematian

Dear Ara... Sore ini kamu pulang main lebih pagi dari biasanya. Anak-anak masih riuh berlarian di lapangan depan rumah. Masih pukul 5 sore lebih sedikit, kamu menghampiri saya sambil menangis. "Kenapa?", tanyaku. Saya khawatir kamu terluka akibat terjatuh atau seorang kawan bermainmu menyakiti kamu.  "Ara takut. Ara tidak mau mati", jawabmu sambil sesunggukan. "Semua orang akan mati?", tanyamu lagi. Sebuah tema yang cukup berat yang kamu pilih untuk kita diskusikan sore ini.  Saya tertegun sejenak. Tak langsung menjawab pertanyaanmu. Malah bertanya balik, "siapa yang kasi tau?". "Rania sama Naura", jawabmu.  "Anak-anak, trus kakak-kakak, trus jadi nenek trus mati. Ara takut. Ara tidak mau mati", katamu lagi masih menangis.  "Semua orang akan mati? Harus nenek-nenek dulu baru mati? Ara tidak mau tumbuh besar. Ara mau anak-anak saja". Pertanyaanmu begitu sulit untuk dijawab nak, mengingat usiamu yang begitu muda dan pe...

Tuhan Ada di Mana?

Dear Ara... Siang tadi kamu sangat ingin keluar rumah. Namun, saya melarangmu. Di luar begitu panas. Listrik mati. Dan teman-temanmu masih istirahat di rumahnya masing-masing.  Kemudian, hujan turun. "Ara berdoa sama Tuhan. Biar hujannya reda pas sore nanti", kataku.  "Tuhan, hujannya berhenti ya kalo Ara mau main. Aamiiinn", doamu.  Kemudian tiba-tiba kamu bertanya, "Tuhan ada dimana?" "Dimana coba?", tanyaku balik.  "Tuhan ada di angkasa. Di langit. Di awan-awan", jawabmu. "Jadi kalo naik pesawat liat awan, bisa liat Tuhan dong", kataku lagi. Kamu cekikikan. "Tuhan ada di planet", jawabmu lagi.  "Tuhan alien dong", kataku lagi.  Kamu tidak bisa menahan tawa. Sepertinya konsep itu cukup kamu mengerti mengingat planet-planet adalah rumah para alien.  Kamu lantas terdiam. Berpikir. "Jadi Tuhan di mana".  "Tuhan ada di hatinya, Ara. Kalo Ara baik, berbahagia, tidak sedih dan marah-marah artinya...

Apakah Benar Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas?

Eka Kurniawan menyamakan Rindu dan Dendam sebagai sebuah hal yang setara serupa masalah yang butuh penyelesaian. Tapi saya agak tidak sepaham dengannya.  Rindu dan dendam ada dua variabel yang bisa disebut sama tapi juga sangat berbeda.  Semua bermuara di hati. Menganggu pikiran. Memaksa tubuh untuk melakukan tindakan. Namun jika dendam telah terbayar tuntas, hati akan terasa ringan. Pikiran mampu "move on". Sedang Rindu? Sebuah rasa yang memiliki sifat repetisi.  Jika ia terbayar tuntas, maka cobalah kembali menarik jarak. Perlahan ia bertumbuh. Seperti jamur di musim hujan. Seperti kutu air di kaki yang berkeringat. Kembali mengontrol tubuh dan pikiran. Menuntut untuk dibayar kembali.  Ah, jika saja bisa memilih, mungkin mendendam lebih melegakan dibanding merindu. Sayannya, dendam begitu identik dengan rasa benci sedang rindu berbarengan dengan rasa cinta.  Maka, tibalah saya disini dengan rindu yang penuh kebimbangan. Memaksa pulang menemuimu tapi takut untu...

Tentang Sahabat yang Berpulang

Sebuah pesan masuk ke grup WA teman-teman SMAku. Grup yang selalu ramai dengan perbincangan nostalgia, basa-basi, atau sekadar sapa menyapa dengan kawan-kawan di sekolahan dulu. Saya hanyalah silent reader di sana. Menengok sesekali meski kadang terlalu susah mengejar dan mengerti tema perbincangan saking ramainya sahut-sahutan.  Namun, pesan kali tak kuasa membuatku sekadar diam. Sebuah kabar tentang seorang kawan yang berpulang. Pesan belasungkawa mengalir. Saya sedih dan terkenang olehnya.  Ia adalah teman sedari kecil. Sejak dari SD hingga SMA, kami selalu satu sekolah. Kami tetangga kampung. Rumahnya, meski agak jauh dari rumahku, tapi sering kukunjungi dengan berjalan kaki. Saya sering main ke rumahnya.  Ia punya toko dan saya selalu membeli permen dan coklat jualannya. Soalnya kadang jualannya tidak ada di toko lain. Saya pun sering ke rumahnya jika lebaran. Di rumahnya selalu ada kue tart yang enak dan selalu disajikan saat say dan teman-teman ma'siara. ...

Kunamai Engkau, Anna Dara Makeishana

  William Shakespeare, ““What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.   Saya tak bersepaham dengan penyair terkenal itu. Nama serupa gerbang untuk mengenal seseorang. Nama juga menjadi pengingat. Nama adalah doa. Nama adalah sebuah pengharapan.  Maka ketika kamu dalam kandungan, ayahmu begitu galau mencarikanmu nama. Tapi buatku, itu tak pernah menjadi masalah. Jauh sebelum kamu dikandung, saya telah menuliskan namamu di sudut pikirku. Nama yang istimewa. Nama yang menjadi identitasmu.  Jika nama kakakmu, Ara berasal dari imaji tentang seorang dewi pengetahuan, Saraswati, maka namamu berasal dari identitas budaya yang mewakili kesukuanmu. Kelak ketika kamu ditanya oleh teman-teman ayahmu yang sering datang ke rumah, kamu bisa menjawabnya dengan bangga, bahwa namamu menjelaskan asalmu.  Meski itu, sebulan sebelum kamu lahir ayahmu masih ragu dengan nama yang akan disematkan padamu. Masih berusaha dicarinya nama-nama Sanseker...

Dear baby Anna

Aku menulis ini saat kamu berbaring di pangkuanku. Kakakmu, Ara, tertidur lelap di ujung pembaringan tempat tidur rumah sakit yang kuberbagi dengannya sembari memangkumu. Ayah terlelap di kursi panjang berbusa tipis yang tampaknya cukup nyaman karena mampu membuatnya mendengkur. Dan aku di sini masih setia memangkumu sembari menahan kantuk.  20 jam yang lalu kamu masih anteng tidur di ranjang bayi tanpa perlu dipangku. Namun, kemudian kamu mungkin belajar perbedaan antara hangatnya pangkuan,belaian, dan datar dan dinginnya tempat tidur bayi.  Maka kamu memilih untuk terus dipangku. Menangis keras saat diletakkan sekalipun di pembaringan sempit yang kita bagi bertiga dengan kakakmu.  Dan aku pun mengiyakan tingkah manjamu itu setelah aksi mogok nenenmu selama beberapa jam disertai muntah yang mampu membuatku khawatir. Aku ingin memastikan bahwa kegiatan menyusumu terjadwal rutin agar persediaan makanan di lambungmu tetap ada. Juga demi produksi ASI yang lebih banyak. ...

Perempuan Yang Mengetuk di Petang Hari

 Matahari perlahan tenggelam di horizon. Langit sore itu lebih gelap dari biasanya. Gemuruh guntur bersahut-sahutan. Pertanda hujan deras akan menghiasi langit dan membasahi bumi petang itu. Rintik hujan mulai terdengar satu-satu di atas genteng.  Pintu dan jendela kututup lebih awal meski sore belum menua. Aku menemani anak semata wayangku menonton serial favoritnya, ketika seseorang mengetuk pintu rumah. Entah siapa. Saya tidak mengharapkan kedatangan seseorang. Tak mungkin juga teman suami, karena ia sedang keluar kota.  Saya membiarkan bunyi ketukan itu menggantung di udara. Sebuah salam sayup-sayup terdengar. Saya bergeming. Menunggunya untuk berlalu. Seperti yang sering saya lakukan pada pedagang door to door yang selalu menjajakan jualannya. Tapi tak biasanya penjual door to door datang se sore ini. Rata-rata pagi atau siang hari.  Saya masih bergeming. Suara ketukan dan salam itu tidak beranjak juga. Tetap berdiri di balik pintu memohon untuk di buka. Saya ...

Dear My Baby Bump

Apa kabar bayi kecil dalam perut? Do you feel comfortable in my belly? Semoga kamu baik dan sehat selalu. Maafkan mama jika jarang menengokmu lewat USG dokter. How old are you now? Kamu terasa sudah begitu besar dalam perut. Terasa sesak apalagi kalo kamu sudah mulai gerak-gerak dan ngulik-ngulik. Meminjam istilah kakak Ara “Amazing”. Menginjak usia delapan bulanmu dalam kandungan, kami belum tahu jenis kelaminmu apa. Terakhir ketemu dokter kamu dengan misteriusnya menyembunyikan jenis kelaminmu. Mama dan ayah maunya sih kamu anak laki-laki. Sebab namun untuk anak laki-laki telah disiapkan bersamaan dengan nama kakakmu. Tapi kakakmu Ara ingin kamu jadi adek cewek.  Awalnya sih dia mau adek cowok, terus ganti maunya adek cewek. Kemudian maunya adek cowok lagi. Kalo ditanya dia bakal bilang “aku maunya dua. Brother and Sister. Kayak Dora”. Jika kamu cewek, mama dan ayah harus kreatif mencarikanmu nama. Maunya pake bahasa Sansekerta, tapi pengennya ada unsur Wolio dan Bug...

Bersekolah di Tunas Mulia

acara kartinian di Tunas Mulia Setahun sudah Ara bersekolah di Taman Kanak-Kanak Islam Tunas Mulia, Bogor. Tahun kemarin ia duduk di kelas A1. Tahun ini dia bakal duduk di kelas B. Setahun lalu di pertengahan tahun seperti sekarang ini, rasanya begitu galau mencari sekolah buat Ara. Di Bogor ini bertaburan sekolah Taman Kanak-Kanak. Mulai dari yang pakai bilingual, sekolah alam, hingga Islam Terpadu. Belum lagi uang pangkalnya yang memiliki tingkatan yang mulai dari yang murah, menengah, hingga mahal bingits. Beberapa sekolah yang cukup menarik perhatian pas di kurikulum tapi kemahalan di harga. Ada yang mematok harga uang pangkal 10 juta dengan SPP perbulan bisa mencapai angka satu juta rupiah. Nominal rupiah yang cukup bikin kantong menangis untuk sebuah sekolah taman kanak-kanak. Kriteria sekolah yang saya dan suami cari sih sebenarnya sederhana. Ga perlu belajar baca tulis hitung dulu yang penting belajar ngaji aja. Soalnya mencari guru ngaji itu susah. Di sekolah-se...

Hamil dan Puasa. Why Not?

Sanggup tidak ya ga makan seharian pas hamil?  Lapar sedikit saat hamil udah kayak mo pingsan aja, apalagi kalo harus puasa? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup menganggu pikiran sesaat sebelum memasuki bulan puasa tahun ini. Kehamilanku sudah memasuki usia 7 bulan.  Beberapa hari sebelumnya sempat mengalami semaput, penglihatan menggelap, mata berkunang-kunang karena kekurangan asupan makanan. Bisa nda ya puasa? Saya tidak pernah menjalani puasa saat kehamilan pertama. Ara keburu lahir pada hari pertama puasa. Jadinya mau ga mau ya tidak puasa karena nifas. Bulan puasa kali ini terasa berbeda. Dengan perut semakin membuncit dan pengalaman kepayahan hampir pingsan karena kelaparan membuat saya ragu untuk berpuasa. Tapi, berbekal niat untuk berpuasa dan keinginan untuk menguji daya tahan tubuh, maka saya pun ikut berpuasa di hari pertama Ramadan. Alhamdulillah, tidak ada halangan sama sekali. Tak merasa kepayahan hingga mata berkunang-kunang. Janinnya pun anteng ...

Perempuan Yang Mengetuk di Petang Hari

 Matahari perlahan tenggelam di horizon. Langit sore itu lebih gelap dari biasanya. Gemuruh guntur bersahut-sahutan. Pertanda hujan deras akan menghiasi langit dan membasahi bumi petang itu. Rintik hujan mulai terdengar satu-satu di atas genteng.  Pintu dan jendela kututup lebih awal meski sore belum menua. Aku menemani anak semata wayangku menonton serial favoritnya, ketika seseorang mengetuk pintu rumah. Entah siapa. Saya tidak mengharapkan kedatangan seseorang. Tak mungkin juga teman suami, karena ia sedang keluar kota.  Saya membiarkan bunyi ketukan itu menggantung di udara. Sebuah salam sayup-sayup terdengar. Saya bergeming. Menunggunya untuk berlalu. Seperti yang sering saya lakukan pada pedagang door to door yang selalu menjajakan jualannya. Tapi tak biasanya penjual door to door datang se sore ini. Rata-rata pagi atau siang hari.  Saya masih bergeming. Suara ketukan dan salam itu tidak beranjak juga. Tetap berdiri di balik pintu memohon untuk di buka. Saya ...

Korean Cool : Resep Rahasia Korea Meracik Hallyu

Suatu waktu Emma Stone diundang ke Conan Show. Ia membincangkan tentang film terbaru, karir, hingga lagu favoritnya. Dengan penuh percaya diri ia menyanyikan sepenggal lirik lagu sambil berjoget-joget. Ia tidak menyanyi dalam bahasa Inggris. Ia malah menyanyikan satu hits dari girls’ generation yang sama sekali ia tak paham artinya. “Saya hanya mengulang pada bagian yang berbahasa Inggris. Selebihnya saya tidak paham. Tapi saya menyukai musik dan koreografinya”, katanya. “ It so addictive ” tambahnya.  Phenomena budaya Hallyu atau Korean Wave mewabah di seluruh dunia.   Pria-pria bercelak mata dan bergoyang penuh harmoni. Gadis-gadis dengan kaki jenjang yang putih dan tampak cantik. Drama-drama bertabur actor aktris rupawan dengan cerita cinta yang menggemaskan, serta hidangan sawi putih yang difermentasi.  Mari melihat ke belakang sejenak. Korea Selatan tahun 1980an tidak ada bedanya dengan Negara dunia ketiga lainnya.   Imunisasi di sekolah dengan j...