Skip to main content

Kamu 9 Bulan dan Kita "Bertengkar"

Kamu 9 bulan. Apa yang kamu bisa? Merayap dengan gesit. Berguling-guling ke sana kemari. Duduk sendiri sekehendakmu. Tempat tidur telah kita preteli. Yang bersisa hanyalah kasur alas tidur kita yang melekat di lantai. Agar kamu bebas berguling dan merayap tanpa perlu khawatir gaya tarik bumi menarikmu. Hobiku adalah membiarkanmu bermain di lantai. Dari kasur turun ke ubin dingin. Sesekali memakai tikar, tapi akhir-akhir ini aku malas melakukannya. Lagian daya jangkaumu lebih luas dari tikar 2 x 2 meter.

Kamu masuk hingga ke kolong meja. Tak tahu mencari apa. Tak jarang kamu membenturkan kepalamu. Di ubin atau dimana saja. Kubiarkan. Ukuranku adalah jika tidak membuatmu menangis artinya kamu tidak merasa sakit. Sakit itu ditentukan oleh diri sendiri. Saya hanya tak ingin memanjakanmu dengan mengasihimu untuk sebuah sakit yang bisa kamu hadapi sendiri. Mama keras padamu? Bisa jadi.

Kamu mulai banyak keinginan. Mulai memperjuangkan egomu. Menangis jika Khanza merebut mainan dari tanganmu. Berteriak jika saya menahan laju baby walkermu. Pokoknya segala keinginanmu dituruti. Untungnya perhatianmu masih bisa dialihkan jika kamu menangis sehingga kamu batal menangis.

Kamu mulai mengenali diriku sebagai seseorang yang paling dekat denganmu. Ketika kamu bertemu orang yang tidak kamu kenali, kamu harus memastikan bahwa ada saya disampingmu. Orang-orang yang mau menggendongmu tidak lagi bisa seenaknya membawamu kemana-mana. Kamu harus melihat saya. Menenangkanmu bahwa orang yang menggendongmu mama kenal. Kamu tidak lagi seperti waktu umur 6 bulanan yang rela digendong siapa saja. Sekarang kamu 9 bulan dan kamu telah mengenali lengankulah yang paling nyaman dan aman bagimu. Tak peduli seberapa keras tangismu, asal sudah dalam gendonganku seketika itu pula kamu berhenti menangis.

Kita "Bertengkar"
9 bulan dan kita bertengkar. Ini kali pertama saya memarahimu. Keras. Membuatmu menangis berurai air mata. Entah mengapa kamu mogok makan bubur. Mulutmu kamu katup rapat. Sendok kamu bentengi dengan bibir. Pagari dengan gigi. Tak sampai di situ kamu akan menggelengkan kepala ke kanan dan kiri. Segala cara kamu lakukan agar sendok itu tidak menyentuh mulutmu. Tidak masuk ke lidahmu. Tak jarang kamu kibas hingga isinya berjatuhan. Saya kesal. Susah payah saya memasak buatmu. Membelikanmu ayam. Membuatkanmu kaldu. Bahkan mendobrak aturan untuk tidak memberi perasa pada makananmu. Tapi tetap saja kamu ngeyel.

Saya memarahimu. Membuatmu menangis sesunggukan. Tapi tetap saja ketika kamu menangis kamu menggapai padaku.Mencari hangatku untuk ketenanganmu. Maafkan mama. Telah membuatmu menangis. Tapi aksimu tidak makan membuatku sedih. Saya mungkin yang terlalu mengharapkanmu menjadi bayi ideal. Bahkan terkesan menjadi obsesi. Berat badanmu berkurang 500 gr. Dan rasanya agak susah menaikkan berat badanmu di usia 9 blnmu. Berat badan idealmu harus 11 kg hingga kamu 1 tahun. Dan sekarang kamu dikisaran 8 kg. Saya takut beratmu berkurang lagi. Apalagi jika habis melakukan perjalanan.

Maafkan mama yang tidak bisa menjagamu. Kamu tidak salah. Bayi sejatinya memang seperti itu. Mama yang harusnya kreatif memberikanmu mpasi. Sepertinya bubur tidak lagi mempan buatmu. Teknik selanjutnya adalah baby lead weaning. Memberikanmu finger food karena kamu lebih nyaman jika menyuapkan sendiri makananmu. Hanya saja saya harus kreatif mencarikan resep yang sehat untukmu.

Akhir-akhir ini saya selalu senang memperhatikanmu tidur. Damai. Tak ada mimpi dan begitu tenang. Berguling ke sana ke mari sambil menutup mata. Tak perlu galau hingga insomnia.

Saya berharap selalu mampu mensyukuri tiap detik bersamamu. Tiap orang yang melihatmu akan berkata, kamu sudah besar. Waktu berlalu begitu cepat di antara kita. Bayi kecil dipangkuan mama yang selalu tertidur dan tak banyak goyang. Kini sudah bisa berguling dan duduk. Besok-besok kamu berlari dan mulai malu dicium mama. Ah, rasanya waktu tak pernah cukup Ara. (*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

  1. Hihi, pipi ara chubby sekaliii :)

    Ah dwi kau bikin iri saja, kalau bisa melompati masa saya ingin cepat2 menulis dimana kata mama menjadi kata ganti untuk saya.

    manisss :)

    ReplyDelete
  2. kenapa saya yang berlinang airmata baca ini kak? hiksss..hikss...seperti cerpen dakam buku berjudul "Sarasvaty"


    oke di foto ini Ara kayak Mamam #sekian

    ReplyDelete
  3. kenapa saya yang berlinang airmata baca ini kak? hiksss..hikss...seperti cerpen dakam buku berjudul "Sarasvaty"


    oke di foto ini Ara kayak Mamam #sekian

    ReplyDelete
  4. hihihihih.. dedeknya lagi males makan ya Mbak? sabar aja :)

    ReplyDelete
  5. pakek jilbab ya sayang.... Love

    ReplyDelete
  6. Salam buat Ara dari Jayapura ;)...

    ReplyDelete
  7. Ara makin cantik.. Salam sayang dari jayapura..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebelum Salju Mencair

Dua hari ini Athens diselimuti awan hitam. Mendung. Cuaca menjadi dingin. Hujan pun turun. Kemarin cuaca mencapai titik minus. Titik hujan jatuh ke bumi menjadi butiran salju. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon pinus tunduk patuh pada gerak angin. Tengah malam kristal-kristal beku itu mencumbui tanah Athens. Jutaan butir yang bertumpuk menutupi tanah, jalan, dan segala permukaan yang dijangkaunya. Permadani putih seketika terhampar menyelimuti bumi. Seperti kepompong yang menyelubungi ulat untuk menjadikannya kupu-kupu. Ini salju nak, coba yuk! Hingga pagi hujan salju masih belum reda. Butiran es itu seolah bersuka cita turun ke bumi. Meliuk-liuk mengikuti gerak angin hingga mendarat dengan sempurna di tanah. Mereka seakan berpesta dan enggan mengakhirinya. Hingga siang, butiran-butiran itu seakan tidak jenuh untuk terus meninggalkan jejak. Kulihat seseorang menuntun anjingnya bermain di tengah salju, Bodoh pikirku bermain-main di salju yang dingin. Bikin frosty ternyata s...

Dunia Kafka, Dunia Surealis Murakami

Judul : Dunia Kafka ( Kafka On The Shore) Penulis : Haruki Murakami Penerbit : Alvabet Kafka Tamura, anak laki-laki 15 tahun memutuskan pergi dari rumahnya di Nakano meninggalkan ayahnya. Dengan tujuan menjauh dari ayahnya yang tidak lagi peduli dengannya dan mencari ibu dan kakak perempuannya. Ia lari ke Takamatsu dan tinggal di sebuah perpustakaan.  Nakata, pria paruh baya yang karena sebuah peristiwa pada saat perang kehilangan kemampuannya untuk membaca, menghitung, namun menguasai bahasa kucing. Hingga suatu hari ia harus membunuh seseorang untuk menyelamatkan sebuah kucing.  Dua tokoh ini memiliki cerita berbeda pun memiliki keterlibatan secara tidak langsung. Dengan label surealis pada sinopsis buku ini, maka pembaca harus siap menemukan cerita yang tidak mampu diterima logika. Dunia di luar materi, yang tidak terikat waktu.  Tapu bukan Murakami namanya kalo tidak menyisipkan renungan panjang dalam ceritanya. Menurut pembacaan saya, Murakami mencampur bumbu kegalau...

Urus Paspor, Kupikir Jadi Lebih Baik. Nyatanya...

Saya kembali harus berkutat dengan pengurusan paspor di kantor Imigrasi klas 1 Makassar. Kali ini paspornya Ara. Bayi kecil yang belum cukup setahun itu belum juga punya KTP tau-taunya sudah harus mengurus paspor. Mengurus paspor untuk anak dibawah 17 tahun tak ada bedanya dengan orang dewasa. Kartu keluarga, akte lahir, ditambah surat pernyataan dari orang tua dan KTP orang tua. Surat pernyataan biasanya diperoleh saat mengambil formulir pengajuan paspor. Sebenarnya untuk formulir tidak dikenakan tarif. Tapi entah kenapa di imigrasi makassar satu lembar formulir dikenakan harga 20.000 rupiah (formulir,sampul paspor, dan Map). Sedangkan jika ditambah surat pernyataan maka totalnya 28.000 rupiah. Awalnya estimasi waktu pengurusan kupikir akan cepat. Namun ketika memasukkan berkas, KTPku tidak sesuai dengan alamat di Kartu keluarga. KTPku masih KTP bone sedangkan kartu keluarga beralamat Baubau. Jadilah menunggu resi KTP dari Baubau. Mengurus paspor tidaklah seperti mengurus KTP...