Skip to main content

Posts

meet riri riza

Hari ini anak kosmik bikin acara seminar media dan pendidikan. Dengan pembicara riri riza dan A.Makmur Makka. seminar ini menjadi follow up figur buat anak 2007 dan juga atas kerjasama IMIKI (ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia). tulisan ini, tidaklah untuk meriview ulang diskusi tentang media. pada dasarnya fungsi media sebagai pendidikan tidaklah dilihat dalam artian sempit. namun haruslah diteropong lebih jauh. media mungkin telah kebablasan dan yang harus diciptakan adalah upaya untuk membuat audience mampu melek terhadap media. KPI dan Media watch menjadi pendukung utama dalam upaya mengembalikan media kefungsinya semula. membaca film pun seperti itu juga adanya. lahirnya beragam film dengan genre horor, sex, dan drama percintaan yang laku dipasaran menjadi sebuah tanda tanya dari kebangkitan film indonesia. apakah film kemudian betul-betul menjadi manifestasi kultural atau ia hanya menjiplak mentah-mentah genre hollywood? sekali lagi upaya literasi un...

aku dan ponakanku

ini aku dan ponakanku.... jangan pikir macam-macam ya.... (kemarin dititip di kampus, bundanya lagi kerja) hehehehe (photo taken by triyudha)

please...don't leave me

sekali lagi....dan akan berkalikali lagi. ditinggalkan.... sebuah kata yang tak kusuka.selalu menyisakan ruang kosong di hati. menyesakkan dan menyakitkan. butuh waktu untuk memulihkan hati dan mengisi kekosongan itu. aku hanya takut, kekosongan itu tak diisi lagi olehmu... aku akan merindukanmu aku akan menyayangimu aku akan mencintaimu aku masih merindukanmu aku masih menyayangimu aku masih mencintaimu aku selalu merindukan aku selalu menyayangimu aku selalu mencintaimu (still????.....always!!!!!) cepatlah pulang...kuingin membuat pahatan itu lagi bersamamu...

realistis

"sudah saatnya realistis". ( itu kata yang paling tepat untukku ) pagi ini kulangkahkan kaki dengan semangat 45 untuk ngurus seminarku.tapi tak kutemuka ibu ida loket akademik jurusan. mataku iseng membaca tempelan-tempelan pengumuman di dinding kaca akademik jurusan. pengumuman-pengumuman yang dulunya tak pernah menarik aku baca. tiba-tiba saja kertas kusam itu membuatku terjaga. aku tak mampu mengejar bulan enam.terlalu banyak prosedural yang harus aku penuhi dan ujian terakhir padatanggal 16 Mei. padahal aku sudah membuat time schedule untuk mengejar bulan enam. tapi sepertinya bulan enam taklah berjodoh denganku. aku harus realisitis. target selesai adalah bulan sembilan. and no more excuse. bab 2-kutelah selesai 80%.begitu pula bab 3. untuk bab 4, aku perlu sedikit kerja keras. tapi tak apalah. sedikit menyelam dan meminum air, tak apalah. semua harus bisa diselesaikan.Aku tak ingin bertemu Gengeng di Baruga. Dwi harus duluan selesai dibanding dirinya. enak aja ( hehehe...

Dimana posisi mahasiswa ilmu komunikasi?????

Aku menulis tulisan ini ketika mulai larut dalam perdebatan antaran pewarta warga dan pewarta professional. Larut dalam dilaketika akan setiap orang adalah wartawan. Merujuk pada semua bahan bacaan yang telah aku baca, setiap orang adalah pewarta. Tak ada hal yang mengkhusus pada seorang wartawan. Semua orang bisa menjadi wartawan. Bhakan dalam kuliah studi kasus pun kesimpulan yang diambil bahwa wartawan bukanlah sebuah profesi. Geliat citizen Journalism pun makin memperkokoh pendapat tersebut. Tak perlu belajar 4- 7 tahun di universitas dengan program studi jurnalistik untuk menjadi seorang wartawan. Dengan berbekal ijazah SMA pun seseorang telah mampu menjadi wartawan. Cukup pelatihan jurnalistik dasar paling lama 3 bulan, mendapat penjelasan tetang 5 W + 1 H dan melakukan praktek penulisan , seseorang sudah dengan legal mengantongi kartu pers. Jadi dimana letak posisi mahasiswa komunikasi khususnya konsentrasi jurnalistik. Selalu ada anggapan bahwa jurnalistik hanya mencetak w...

untitled

dari seseorang yang tak romantis....tak pernah romantis..... tulisan ini pun saya curi dari laptopnya postingan terakhirku pun tidak dia suka benci....

Bab 2 : sebuah tinjauan yang bisa ditulis dengan menutup mata

Sebuah perkembangan. Aku telah berani untuk menekan tuts-tuts komputerku untuk sebuah bab 2. Sama seperti kemarin waktu ku berjibaku dengan bab 1. Aku pun pusing. Kak Yusran selalu bilang “bab 2 itu gampang”. Bab 4 yang susah (aduh…jangan menakut-nakuti dan …). Kak Riza ikut menimpali, “Bab 2 dan bab 3 itu bisa dikerjakan dengan menutup mata”. Kali ini aku pun lantas memberanikan diri. Apakah memang bab 2 itu segampang menutup mata?????? Tunggu kabar selanjutnya….

Dapur dwi : sayur santan pertamaku

Masak sayur…untuk yang satu ini aku hanya bisa menjelaskan satu hal “sayur bening”. Hanya sayur ini yang bisa aku buat. Tak ada yang lain. Sayur soup : terlalu bnayak hal yang harus dipotong. Terlalu banyak bumbu yang harus diulek dan sangat repot. Sayur santan? Aku tak tahu memasaknya. Pusing. Takaran santannya pun bikin pusing. Trus mengapa hari ini aku masak sayur santan? Merujuk pada keuanganku yang kian menipis dan untuk bertahan hidup saja sudah begitu susah maka aku memutuskan untuk memasak. Telur semakin mahal dan telah berhari-hari aku mengonsumsinya. Bongkar-bongkar rak piring, ternyata ada ikan kering yang selalu mama selipkan kalau mengirim sembako ke pondokanku. Nda tau namanya apa. Tapi ikan ini sangat enak kalo di goreng dan makan saat panas. Aku pun membayangkan memakannya dengan sayur labu yang bersantan. Pasti sangat enak. Dengan kursus kilat dari mama lewat telepon, pagi ini aku pun memberanikan diri membeli labu dan kelapa parut. Penjual sayur ke...

Ilmiah populer vs ilmiah kaku

Proposal itu telah sampai di tangan pembimbingku. Banyak kritikan. Wajarlah….:) Judul sedikit nge-feature mungkin, karenanya perlu diganti. Bahasa tulisanku terlalu bertutur. Terlalu ilmiah populer. Waaaahhhhh…… Haruskah aku mengubahnya…??? Itu sudah caraku menulis. Apakah tidak boleh menuliskan sesuatu ilmiah (dalam kasus ini penelitian) dengan gaya ilmiah popular? Bukankah bahasa ilmiah kaku yang membuat sebagian besar orang tak menyukai buku-buku daras. Pada kebanyakan orang, bahasa bertutur adalah bahasa yang begitu mudah dimengerti. Bahasa yang membumi dan tak perlu berulang kali membacanya untuk dimengerti. Itulah mengapa buku ciklit, teen-lit, metropop adalah jejeran buku terlaris yang selalu menempati ruang depan sebuah toko buku. Sedangkan buku-buku daras selalu berada di sudut terbelakang. Berdebu. Tak pernah tersentuh apalagi terbaca. Penjualannya pun tak begitu banyak. Sehingga sangat sedikit saya melihat buku-buku teks berlabel “best seller”. Aku sempat menanyakan hal ini ...

patahan imajiku

ini adalah patahan imajiku. andrea hirata meyebutnya mozaik. mereka layaknya puzzle yang bercerai berai namun telah disatukan. disatukan oleh angkatan, sekosmik, gender, kemampuan macalla dan bergosip. semoga tetap bersahabat hingga anak cucu. tapi semoga tak menjadi besanan. semoga aktivitas gosip kita akan terus berjaya. di kemudian hari, akan tersedia kamar khusus di figur.hanya untuk kita. kita akan menidurkan bayi sambil terus bergosip. tapi yakinlah, kita adalah tukang pencerita yang cerdas lagi kritis. hahahahaha PS : masih ada yang mo dwi posting. tapi hari ini tulisan tela bertumpuk begitu banyak.esok toh masih menunggu untuk mendengar kisah yang lain.

waahhh aku senang, teman-teman nge-blog semua

terima kasih buat dra9ons atau spices atau bumbu dapur atau naga atau apalah yang selalu kusebut sebagai patahan imaji. aku tak pernah menyangka teras imaji yang telah kubangun hampir dua tahun ini memberi inspirasi bagi kalian. dulunya, kupikir blog ini hanyalah konsumsi pribadiku sendiri. tak ada orang yag mau singgah sekedar melihat sekilas atau salah alamat. tapi ternyata kalian membuatku terharu. aku tak menyangka berenang itu menjadi isu global di antara kita....(hehehehehe) semangat teman2.mari kita gerakkan fenomena citizen journalism. mari kita tumbuh kembangkan budaya menulis. mari berblog. kabarkan cerita kalian hari ini.kabarkan pada dunia bahwa kita pun punya kisah tentang dunia. tak hanya dunia yang perlu kita simak. duniapun perlu menyimak kita. ini daftar alamat teman-temanku yang udah nge-blog : 1. ema (roemahjiwa.blogspot.com) 2.darma(singikuzarathustra.blogspot.com) 3.echy (elektrakid.blogdrive.com) 4. santy (cintasangmustafa.wordpress.com) 5. were (lunaphilosopie.w...

HARUS MENANG

Menurut pada jiwa yang terus memahfumkan sebuah kemalasan adalah ketololan besar Dan hari ini aku tak boleh menjadi si TOLOL itu. Aku harus melawan. Bertarung, dan menjadi pemenang. Dunia telah menantangku. Dan aku akan menaklukkannya. Aku hanya perlu sedikit berani. Takut adalah musuh terbesar yang sumbernya pada diri. Aku harus bisa. HARUS MULAI!!!! SEMANGAT….!!!!!! Selasa, 7 april 2008 (07.58.59)

Querido (dedicated to ma ch`erie)

Seperti sebuah bom waktu yang akan segera menguncang, meluluhlantakan semua disekitarnya. layaknya pasir waktu yang semakin menipis dari cembung wadahnya. Tapi aku percaya pada malaikat. Pada tangan Tuhan yang selalu menuntun. Memberi jalan dan terus menyemangati. Pesimis selalu menjadi halangrintang. Ia terjal. Ia curam. Jika kamu salah dalam jejakmu, mungkin jurangnya akan menyambutmu dengan pelukan sayang. Tapi percayalah pada Tuhan. Seperti aku mempercayai kekuatan-Nya. Ia menyayangiku. Sangat meyayangiku. Terima kasih telah mengirimkan mata teduh. Hati sabar yang terus menyayangiku. Terima kasih telah mengirimkan paket terindah. Yang menjadi imamku. Menjadi selimut hangat saat badai. Menjadi tempat bersandar untuk semua asaku. Menjadi pohon untuk berteduh dari silau matahari semesta. Tak pernah berpaling saat ku berpaling. Tetap sabar kala ku tak sabar. Terus menyayangi kala ku jeda untuk menyayangi…… Pasir waktu itu akan kita lambatkan. Akan kita lumpuhkan le...

Sekeranjang Maaf

Aku pernah membaca sebuah petuah “sesuatu akan efektif jika dikerjakan dengan kepala kosong”…. Ya…dengan kepala kosong. Tanpa harus mencabangkan pikiran dan manut pada rasa. Pejamkan mata dan mulai berjalan. Melihatlah dengan hati…. Aku mengartikannya seperti itu. Mungkin tak seperti itu. Tapi bisa jadi seperti itu. Mumet rasanya. Bawaannya selalu saja menangis. Sedih, sedih, sedih, dan sedih. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjadi penyembuh. Hanya diriku. Aku harus mampu menguasai diri. Tapi hidup adalah pertarungan. Kalah atau menang adalah pilihan. Kadang aku putus asa dan memilih kalah. Namun, di sisi lain memaksaku untuk terus menantang hari. Mengangkat kepalaku, bertarung, dan menang. Itu sebuah pilihan yang lain. Aku seakan tak tahu kemana. Mata hati tak menunjukkan arahku untuk melangkah. Tak ada peta, tak ada kompas. Aku hanya punya diriku. Kosongkan pikiran….. Mungkin hati telah banyak melukai. Aku harus mengosongkan pikiran. Dan semua harus bermula pada h...

banyak yang mendukung...

udah lama rasanya buka blog ini lag. tadi baru ngintip. ternyata banyak yang ngasih spirit. banyak yang trus berusaha menyemangati jiwa ini. meski itu hanya dari teman-teman kampus. tapi merekalah yang palinh berarti. yang telah menemani mengarungi samudra kampus selama hampir empat tahun ini. menemani menapaki jejak-jejak jalan kami sendiri di kampus merah ini. menghirup udara dan debu yang terkadang menyejukkan dan kadang menyesakkan. merekalah yang terus ada saat senang, sedih, marah dan menangisku. kita sama-sama belajar berenang sekarang, kawan. echy, belajarlah untuk membuat pelampungmu sendiri. gerakkanlah sedikit kakimu hingga engkau dapat benar-benar mengapung. aku yakin kamu pun bisa berenang. darma, berenanglah dilautan teori itu. temukan kata terindah yang bisa kau jadikan teman terbaik ketika mengarungi samudra konseptual. kau akan samapi di pula yang indah nantinya. percayalah. (aku telah memilih kawan, dan aku yakin kau pun memilih hal yang sama) ema, aku tau kau mampu ...

berenang atau tenggelam?

aku telah menyelesaikannya. sebuah prestasi yang cukup baik. mengingat telah huampir tiga bluan saya telah merencanakannya. fajar aja bilang "kok masih berkutat pada bab I. itu sudah sejak berbulan-bulan lalu deh". yaaaahhhhhh..... seperti itulah keadaan bab I-ku. padahal semua teman2ku sebagian besar telah melakukan pembimbingan. bab I meembuatku terseok-seok. sedih rasanya memikirkannya. bahkaan hingga saat ini pun dwi masih belum mengeprintnya dan masih terus dirombak dan makin tak seperti diriku. ya...hanya itu kemampuanku.dwi bukanlah orang yang begitu cerdas yang kemuadian menghasilkan sebuah karya yang begitu baik. relistis adalah berbuat terbaik di titik dimana kita berpijak. itu menurut andrea hirata. dan setiap orang bisa punya defenisi sendiri. bahkan orang kalah sekalipun yang tak mampu lagi berbuat apa-apa. dan hanya mampu menyerah pada keadaan. mungkin saat ini aku berada di titik itu. meski dwi blum sampai pada titik menyerah. tapi aku akan berdamai dengan kead...

perjuangan itu masih berlanjut

so far so good. itulah komentar yang aku pakai untuk BAB I ku. so far telah ada lima halaman untuk latar belakang. dan so goodnya dwi bingung dengan keragka konseptual dan defenisi operasional. k yusra juga tak memberi bantuan yang begitu besar. ia cuma sekedar menjelaskan secara permukaan. tanpa benar-benar duduk dan memberi masukan yang begitu signifikan. ah... kakaka jelaskan kodong. tanggal deadline makin dekat. dan aku tak melakukan progres yang begitu jauh. sebegitu susahkah yang namanya skripsi???? tidak juga mungkin. tadi toh temaku bernama Basri sudah seminar proposal. dan ia hanya mengerjakannya tak kurang seminggu. aku kah yang menuntut ini nuntut tugas akhir ini begitu bagus?????? yah mungkin..... namun aku tak ingin meyerah dan berdamai pada keadaan. perjuangan masih terus berlanjut.

goes to field

hari ini ada pelatihan penelitian di elsim. kami sampai terkantuk-kantuk membahas kuesioner yang ada. besok kami akan turun ke lapangan. menjelajahi kecamatan makassar. ini kali kedua dwi jadi enumerator. pengalaman kemarin, dwi berkali-kali ditolak responden. badanku meulai lemas rasanya. kemarin siang berpanas-panas dan malamnya kehujanan. semoga dwi tetap sehat hingga survey ini berakhir. semoga besok bisa lebih mudah. kalo susah. semoga Tuhan mempermudah. amien semangat!!!!

aku menulis ini untukmu (sebuah obituari untuk pak Mansyur)

Pak mansyur. Begitu kami menyapanya. Beliau Salah satu dosen di jurusan ilmu komunikasi unhas yang begitu akrab dengan mahasiswa. Tubuh tinggi tegap.bahkan terkesan tegas. Kaca mata hitam selalu bertengger di wajahnya. Tongkat penuntun jalannya tak pernah lepas. Mata beliau tak berfungsi total sejak tahun 2001. Saya adalah salah satu dari banyak mahasiswa yang begitu dekat dengan beliau. Pertama aku mengenal beliau ketika aku baru mengenal dunia mahasiswa, kampus,dan dunia literatur. Saat itu aku belumlah cukup setahun mengecap rasa menjadi mahasiswa. Beliau memintaku menuliskankan opininya untuk sebuah koran local. Ia mendiktekan tiap kalimat yang ada dalam benaknya. Saya pun menulisnya di atas kertas putih. Terkadang pula harus mencoret banyak kalimat yang telah didiktekan ketika ada ide kalimat lain yang lebih cemerlang hadir di benaknya. Saat itu saya tak berani menanyakan kenapa beliau bisa buta. Namun, ia pun menuturkan bahwa kebutaan yang dialaminya disebabkan oleh malprakte...