Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Book Review

Titian Kejahatan : Sebuah Review

Seminggu sudah saya menyelesaikan serial ketiga dari Comoran Strike, Career of Evil. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Titian Kejahatan. Saya belum memulai membaca buku lagi karena benar-benar sangat ingin menulis kesan saya tentang buku ketiga dari Robert Galbraith ini. Strike tidaklah sepandai   Holmes dalam mendeduksi petunjuk. Ia tidak pula sesempurna Poirot dalam memecahkan kasus. Namun yang pasti ia masuk dalam jajaran detektif fiktif dari Inggris yang mampu membuatmu betah membaca berlama-lama kisahnya. Rela menghabiskan beberapa lembar uang seratus ribu hanya untuk mengoleksi bukunya. Dan itu semua sebanding. Strike adalah detektif swasta yang pincang. Tak punya uang. Tinggal di kantornya. Berbadan besar dan menyedihkan. Ia tidak mau mengakui bahwa ia menyukai Robin Ellacott. Bahkan pada dirinya sendiri. Di buku ketiga ini, ia harus mendapat kiriman tungkai perempuan yang di potong. Paket itu dialamatkan kepada Robin. Namun, ia menganggap bahwa tu...

Diskusi Tentang Kematian Bersama Morrie

Setiap orang tahu mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya itu akan terjadi pada mereka sendiri. Kalau saja kita percaya, kita akan mengerjakan segala sesuatu secara berbeda. (Selasa Bersama Morrie, Mitch Albom) Manusia menerima bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan. Terjadi setiap hari di bebagai belahan dunia. Namun, seperti kata Morrie, manusia tak percaya itu akan terjadi pada mereka. Seminggu kemarin saya memikirkan tentang kematian. Bagaimana jika hidup tersisa hanya dalam hitungan tahun? Ya, mungkin kita akan mengerjakan segala sesuatu berbeda. Kita tidak akan menunda-nunda pekerjaan. Beralasan bahwa besok masih ada waktu. Kita akan melewatkan banyak waktu bersama keluarga. Mengucapkan kalimat aku mencintaimu berkali-kali. Lebih lembut dan penuh kasih. Rajin beribadah dan mengucap puja-puji pada Tuhan. Every second count. Setiap menit takkan dibuang dengan sia-sia. Morrie adalah profesor berusia 70an tahun yang divonis penyakit Amyothropic Lateral Scle...

Korean Cool : Resep Rahasia Korea Meracik Hallyu

Suatu waktu Emma Stone diundang ke Conan Show. Ia membincangkan tentang film terbaru, karir, hingga lagu favoritnya. Dengan penuh percaya diri ia menyanyikan sepenggal lirik lagu sambil berjoget-joget. Ia tidak menyanyi dalam bahasa Inggris. Ia malah menyanyikan satu hits dari girls’ generation yang sama sekali ia tak paham artinya. “Saya hanya mengulang pada bagian yang berbahasa Inggris. Selebihnya saya tidak paham. Tapi saya menyukai musik dan koreografinya”, katanya. “ It so addictive ” tambahnya.  Phenomena budaya Hallyu atau Korean Wave mewabah di seluruh dunia.   Pria-pria bercelak mata dan bergoyang penuh harmoni. Gadis-gadis dengan kaki jenjang yang putih dan tampak cantik. Drama-drama bertabur actor aktris rupawan dengan cerita cinta yang menggemaskan, serta hidangan sawi putih yang difermentasi.  Mari melihat ke belakang sejenak. Korea Selatan tahun 1980an tidak ada bedanya dengan Negara dunia ketiga lainnya.   Imunisasi di sekolah dengan j...

Eleanor & Park

Eleanor mempertimbangkan untuk menaiki bus sekolah yang mengantarnya pulang ke rumah. Ini adalah hari pertamanya di sekolah baru dan siswa baru selalu mendapatkan perlakuan tak menyenangkan. Namun pilihan selain tidak naik bus sangatlah tidak menguntungkan. Berjalan kaki pulang, ia belum tahu arah pulang ke rumahnya. Menelepon Richie adalah yang paling dihindarinya, sudah cukup ia berusaha tidak bertemu dengannya tiap hari di rumah. Naik bus adalah pilihan terbaik di antara terburuk. Namun itu berarti ia mengumpankan dirinya pada anak-anak populer yang hobbynya membully. Terlebih ketika satu-satunya kursi yang kosong hanyalah di bagian belakang. Bersebelahan dengan anak Asia yang seolah tak melihatnya berdiri di lorong bus. Ia memilih pilihan itu.  Park tak ingin membagi dua kursi kekuasaannya dengan siapa pun. Meski ia begitu muak dengan suasana bus dan teman-temannya yang begitu ribut. Tapi gadis itu tetap berdiri di sana. Sang supir bus menyuruhnya duduk. Ia tak punya pilihan se...

Osana, Nenek Hebat Dari Saga

sumber foto di sini “Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. Kita ini miskin ceria. Selain karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, jadi kita tidak perlu cemas. Tetaplah percaya diri. Keluarga kita memang turun temurun miskin. Pertama, jadi orang kaya itu susah. Selalu makan enak, pergi berpelesir, hidupnya sibuk. Dan karena selalu berpakaian bagus saat bepergian, bahkan di saat jatuh pun   mereka harus tetap memeperhatikan cara jatuh mereka. Sedangkan orang miskin kan sejak awal selalu mengenakan pakaian kotor. Entah saat hujan, saat harus duduk di tanah, , mau jatuh, ya bebas, terserah saja. Aah, untung kita miskin”. (Hal 63 – Saga No Gabai Bachan) Nenek Osana adalah nenek yang hebat dari Saga. Ia miskin. Ia ceria. Ia tak pernah memandang sedih hidupnya. Ia bangga menjadi orang miskin dan mensyukuri keadaannya. Ia selalu memandang segala sesuatu sangat positif. Ia adalah kaum miskin garis keras yang tegar dan memandang hidup penuh j...

Dunia Anna, Sebuah Pengandaian Tentang Bumi di Masa Depan

Manusia menyadari dunia makin memanas hari demi hari. Es-es di kutub mencair. Namun pola hidup dan konsumsi kita tak pernah benar-benar melakukan tindakan serius untuk mencegah suhu semakin memanas dan es tetap membeku. Berapa emisi karbon yang kita produksi tiap hari? Berapa banyak plastik, kertas yang kita pakai? Berapa tumpuk sampah yang kita hasilkan tiap hari? Pola hidup manusia secara langsung memberi kontribusi pada upaya "pembunuhan" planet bumi di masa depan. Jostein Gaarder mengajak pembaca berada pada posisi manusia masa depan yang mendapat warisan planet bumi dari kita, manusia masa kini, yang tak lagi biru. Suhunya memanas. Flora dan fauna yang punah. Hutan hijau menjadi gurun-gurun pasir gersang. Seorang anak bernama Nova begitu marah pada nenek buyutnya dan manusia pada masa silam yang mewariskan alam raya yang begitu gersang kepada mereka, anak cucunya. Yang mereka miliki hanyalah citra-citra hologram tentang indahnya bumi dan keanekaragaman h...

Sepeda Merah : Mengelilingi Yahwari bersama Sepeda Merah Tukang Pos

Sepeda merah itu milik tukang pos. Tiap hari dia akan berkeliling dari rumah ke rumah di desa Yahwari. Dengannya kan kamu temui jalan-jalan desa penuh bebatuan. Panjang. Terjal hingga mendaki bukit. Hamparan sawah dan perkebunan milik para petani. Bunga-bunga liar di sepanjang jalan. Bersamanya kamu akan mengantarkan surat-surat ke rumah-rumah tanpa nama jalan. Namun ke alamat-alamat unik yang menggambarkan ciri khasnya rumah yang dituju. Rumah dengan semak-semak warna khaki, rumah bertepi bunga-bunga liar, rumah kuning dalam kehijauan, rumah yang bisa dilihat di antara pohon pinus siam, rumah tempat kita menanam bunga di kebun kol cina, rumah tempat burung beristirahat, rumah nenek yang berkata-kata kotor, rumah berkilau, hingga rumah paling indah di bawah langit berbintang. Dimana di dunia kamu akan menemukan alamat rumah yang begitu unik? Hanya di desa Yahwari lah alamat-alamat itu berada   (yang bahkan direktur pos pun pusing dibuatnya). Dan bersama tukang pos bersepeda me...

Paper Towns : Kota Kertas Margo

Adalah Margo Roth Spiegelmen yang menjadi pujaan hati Quentin Jacobsen. Berdua hidup bertetangga di Jefferson Park, Orlando,   sejak usia mereka 2 tahun hingga menginjak tahun akhir di SMA. Keduanya berteman cukup dekat pada usia 10 tahun hingga mereka menemukan sebuah tubuh yang menjadikan mereka berjarak.  Quentin yang lebih akrab dipanggil Q hanya mampu menatap dari jauh perempuan paling keren dengan ide-ide dan petualangan paling ajaib yang pernah ditemuinya itu. Melihatnya dari jendela kamar, mengintipnya dari balik pintu loker sekolah. Hingga suatu malam, Margo membangunkannya dan mengajaknya bertualang mengelilingi pemukiman mereka. Membobol masuk ke rumah orang, menyiapkan perangkap ikan lele, membantunya membalas dendam, hingga mengarungi parit di Sea World.  Q yakin malam yang memacu adrenalin   tersebut mampu mengubah pagi mereka di sekolah. Sayangnya Margo tak pernah hadir di sekolah sejak   pada pagi yang memisahkan mereka. Tak ada ...