Skip to main content

Dee's Coaching Clinic : Perjalanan Memotivasi Diri

     Pertama kali ketemu mbak Dee😊
      Saya hamil dua bulan (2010) 

Awalnya sekadar ingin berjumpa dengan Dee kembali. Berfoto bersama Dee dan Ara, anakku. Pertama kali saya bertemu Dee, di gramedia Teras Kota, saya mengandung dua bulan. Karenanya saya ingin memiliki foto bersama Dee dengan Ara ada di dalam frame. It will be Epic, I guess. 

Saya memberanikan diri mengirim review buku Gelombang yang sebelumnya telah pernah saya buat dengan beberapa perbaikan sebagai salah satu syarat agar bisa terpilih di Dee's Coaching Clinic. Saya memilih kota Solo? Mengapa Solo? Mengapa bukan Makassar yang adalah kampung halaman, atau Jakarta yang jaraknya cukup dekat dari Bogor? Tidak lain karena saya ingin sekalian mengunjungi kota Solo. Kota yang memiliki tagline "The Heart of Java". Jadi jalan-jalan ke Solo dengan bonus bertemu Dee adalah paket liburan yang sangat menggiurkan. 

Lebih Dekat dengan Dee


Ia memasuki ruang dengan senyum yang lebar. Wajahnya terlihat sangat bersemangat meskipun saya tahu ia baru tiba dari bandara dan pastinya mengambil penerbangan paling pagi. Kaos hitam polos  dan rok panjang biru tanpa motif. Rambutnya diikat sekenanya. Sebuah kalung bandul menyempurnakan penampilannya dalam simpul sederhana dan elegan.  

Ia memperkenalkan diri dan menyapa peserta. "Mengapa saya mengusulkan Coaching Clinic ini? Berangkat dari sebuah keinginan untuk memberikan kesempatan sebanyak-banyak bagi para penanya untuk mengetahui lebih jauh tentang proses kreatif penulisan buku saya. Ini adalah sebentuk eksperimen untuk bahan menulis buku panduan penulisan", katanya sambil menyeringai jenaka. Wow, jadi eksperimen dari Dee Lestari? Sebuah kehormatan. 

Straight to point, para peserta diberi kesempatan bertanya dan kejadian ajaibnya adalah Dee nyeker, pemirsa. Dicopotnya sepatunya kemudian sibuk mencatat pertanyaan-pertanyaan peserta. 

Jika dulunya saya menganggap Dee adalah penulis yang jaim, tutur katanya teratur, eits, ternyata saya salah besar. Dee sejatinya adalah pribadi yang lucu. Celutuk-celutuknya  yang   tidak diduga-duga. Ketika sedang serius-seriusnya menjelaskan tentang penulisan, eh tiba-tiba dia ngebanyol. 

Perjalanan Memotivasi Diri

Namun tak berarti yang disampaikannya kosong. Dee serupa motivator yang memberikan sangat kepada 20 orang peserta coaching untuk menulis. Tidak peduli karya apapun. Bagus atau tidak. Karena menulis adalah ketekunan. Semakin tinggi jam terbang menulis maka semakin baik sang penulis. Jangan takut untuk menghasilkan tulisan buruk, karena halaman yang buruk masih bisa diperbaiki daripada halaman yang kosong. Tidak ada tulisan yang sia-sia, meskipun ia tidak pernah selesai. 

Duh mbak Dee ini! Serasa menyalakan lagi api semangat untuk menghasilkan karya yang entah sejak kapan sudah padam. 

Seandainya saja mbak Dee membuat powerpoint sebagai pengantar singkat akan proses kreatifnya, mungkin akan lebih fokus dan beruntun. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang ada lebih detail lagi.   Hal ini mungkin bisa diperhatikan di Coaching berikutnya. 

     
Tapi, yang pasti mbak Dee was very awesome. Terima kasih untuk suntikan semangatnya, Mbak. Selamat menulis, Dwi! 

Bogor, 20 Maret 2015

Comments

  1. Oooo.... Jadi yg duduk di belakang agak kanan dikit saya itu kamu mbak? Wah, tau gitu say hello dong ya, padahal saya sering lihat blogmu :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu yang mana toh Mas Ilham Bachtiar? aku nda merhatiin para peserta,sibuk merhatiin anak jangan sampai bikin ribut. hahahhaa

      Delete
  2. halo mbak Dwi, saya mau tanya, apa Dee Coaching Clinic ini diperbolehkan membawa teman/kerabat ? saya juga dapet undangan sama seperti mbak Dwi :) mohon dijawab ya mbak. Terima kasih sebelumnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anakku ikut. Suamiku jg ada ikut. Hmmm...terus teman suamiku jg masuk ke ruangan. Sbnrnya nda pha2 bawa teman kali ya asal jgn semua bawa teman. Satu org mngkin bs ikut nyempil. Lol. Kmu coaching di kota mana?

      Delete
  3. ooo :)) saya sebenernya mau bawa teman, tapi siapa yang mau (soalnya acaranya hari Minggu), jadi sendirian ajalah hehe. Saya di kota Surabaya. salam kenal

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

jurnalistik siaran, pindah kost-kostan, dan "capek deh!"

Akhirnya, kembali bisa menyempatkan diri sejenak ke Teras Imaji. Sedikit berbagi kisah lagi dengan diri sendiri. Sekedar untuk sebuah kisah klasik untuk Saraswati dan Timur Angin kelak. Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa bertahan sampai saat ini.meski tugas kuliah menumpuk. Keharusan untuk pindah pondokan. Kewajiban lain yang belum terselesaikan.Problem hati yang menyakitkan. Serta kontrak yang tersetujui karena takut kehilangan peluang meski tubuh ini harus sudah berhenti. Siang tadi (15 nov 06) seharian ngedit tugas siaran radioku. Tak enak rasanya pada teman-teman, memberatkan mereka. menyita waktu yang seharusnya untuk hal lain. Tak enak hati pada Pak Anchu, penjaga jurusan. yang tertahan hanya menunggu kami menyelesaikan tugas itu. Dengan modal suara fals nan cempreng toh aku pun akhirnya harus sedikit PD untuk membuat tugas itu. Meski hanya menguasai program office di komputer, toh aku harus memaksakan belajar cool-edit (yang kata teman-teman yang udah bisa merupakan sesuatu...

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...

Indecent Proposal

sumber foto : tvtropes.org Seorang bilyuner menawariku one billion dollar untuk one night stand dengannya. Aku bingung. Aku dan suami sedang tidak punya uang dan satu juta dollar begitu banyak. Mampu membiaya hidup kami. Disisi lain aku  mencintai suamiku, rasa-rasanya ini tidaklah patut. Tapi kami benar-benar tidak punya uang. Aku ingin melakukannya untuk suamiku. Aku mencintaiku dan tidak ingin melihatnya terlilit utang. Kami memutuskan mengambil tawaran itu. This is just sex bukan cinta. Ini hanya tubuhku. Aku dan suami memutuskan setelah semalam itu, kami tidak akan mengungkitnya lagi. Setelah malam itu. Kami berusaha menebus  properti kami yang jatuh tempo. Sayangnya, bank telah menyita dan melelangnya. Seorang pengusaha telah membelinya. Kami putus asa. Suamiku tiba-tiba berubah. malam itu, Ia mempertanyakan apa yang saya dan bilyuner itu lakukan. Padahal kami sepakat untuk tidak mengungkitnya. Saya menolak menjawab pertanyaannya. Saya tidak ingin lagi menginga...