Skip to main content

Mengapa Teras Imaji?

Imaji adalah kata indah dalam kamusku.
Ada coretan kecil yang mengawali tentang teras ini.
Ini tentang seseorang...


“Melihatmu di setiap hariku...
Mengisi tiap halaman-halaman waktuku
Bermain diterasteras fantasiku
Kau hadir ditiap lelahku membukukan detik
Menjilid rapi tiap memori...”


Teras-teras fantasi itu telah menjadi teras imaji-ku

Comments

  1. Anonymous10/04/2006

    teras imaji, memang indah, kamu pernah membawaku menikmati waktu sejenak di sana. bersama merajut sepenggal kisah lalu. Ya, hanya sepenggal kisah, namun menorehkan kesan yang cukup dalam.
    cukup untuk membuat sebuah "beranda" di hatiku, di rumah singgah itu, yang suatu saat dapat kita bercengkrama lagi di dalamnya.
    pada sebuah beranda itu, imaji kita bertemu.
    terima kasih untuk "sepenggal kisah"

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Make Over Yang Aneh

Aku sudah mencoba. Semampuku. Tapi masih saja tampak aneh menurutku. Mataku sudah tak bisa berkompromi.Aku sudah harus tidur. Besok masih ada kerja yang menunggu diselesaikan. Mungkin minggu depan lagi aku utak atik lagi blog ini. Maafkan aku...

mau posting tapi bervirus

sedihnya...padahal dwi mau memposting tulisan tentang kampanye matikan tv di losari kemarin. tapi apa daya filenya tak bisa terbuka. jadi untuk kali ini, dwi hanya mamapu memberi foto.... aaahhhhhrrrrrrgggggg....foto pun tak bisa terupdate. ish..ish..ish....

Terseret Hunger Games

sumber : www.imdb.com Boleh dibilang saya agak telat kena demam Hunger Games. Saya belum membaca bukunya yang kabarnya masuk dalam jajaran best seller luar negeri. Ketika filmnya keluar, saya tidak antusias untuk menontonnya. Beberapa hal yang membuat saya tidak terlalu tertarik pada Hunger Games ini pertama ceritanya yang terlalu adventure. Saya tipe pembaca serial romance dan berkaitan dunia sihir. Tak heran saya tertearik pada Harry Potter, Twilight, dan serial buku karya Rick Riordan. Kedua, saya tidak begitu memperhatikan rekomendasi yang menulis tentang buku ini. Saya termasuk tipe pembaca yang tidak berpatokan pada review. Bagi saya, buku dan saya saling menemukan. Meski kadang saya berujung pada kekecewaan. Tapi bagi saya disitulah letak seni membaca. Selanjutnya, saya kurang tertarik pada sinopsis yang dituliskan di buku Hunger Games. Ya, seperti saya bilang tadi saya tipe orang yang lebih menitiberatkan pada serial romantis. Pandangan awal saya, Hunger Games terlalu ...