Tiap kali masak dan Ara selalu meminta ditemani main, atau diambilkan barang-barang miliknya, saya bisa merasakan darahku naik ke wajah hingga ke ubun-ubun. Saya selalu memintanya bersabar menunggu sebentar jikalau saya sedang sibuk memotong-motong sayur atau mencuci piring. Tapi karena adrenaline kanak-kanaknya yang tidak mampu menunggu lama, maka ia akan berteriak kencang hingga saya lari terbirit-birit menghampirinya dan memenuhi permintaannya. Kadang ia terdengar menangis, tapi yakinlah itu hanya strategi yang dia pake untuk menarik perhatiaan. Jika berada disituasi ini ( baca : teriakan Ara) ada emosi saya mulai naik. Kemudian membentak. Suami pun akan berkata "jangan marah-marah kalo masak, nanti masakannya Nda enak". Saya pun harus menurunkan tensi emosiku secepat mungkin. Tapi paling maksimal adalah cemberut. Saya mempercaya perkataan suami saya. Bukan karena dia suami saya, tapi karena saya memang menyakini elektron-elektron negatif dan positif memberi pengar...
Enormous World in My Mind