Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Poems

Diam

Diam... Serupa jalan sunyi yang akan kutempuh Karena tiap kompromi tak lagi jadi pilihan Karena hati ini tak pernah sanggup lupa Biarkan diam yang membungkam ingatan Berkelebat ia dan ku tak hirau Seperti waktu, biarkan diam menyembuhkan luka

Dan Akhirnya

Dan akhirnya Malaikat kecil itu beranjak terbang Sayap kecilnya mengepak cepat Rasanya perih sesaat Tapi rasanya begitu melegakan "Akan kubawa cinta ini pergi Hingga akhirnya aku kembalikan padamu kelak"

Balada Putri Penggembira

Hanya diundang kala sepi datang menghadang Pada pesta penghujung malam, ketika para tetamu telah beranjak pergi Yang tersisa untuknya hanyalah lelah yang menggantung Namun tak pernah ia berhenti hadir Karena pangeran adalah bahagianya Meski hanya tersisa sedikit menit untuknya hingga ia berucap "Tidurlah, tubuhmu begitu kuyuh" Dan ia tetap setia menunggu undangan pesta membunuh sepi itu Meski ia tahu sepi kian menipis dan kelak Ia akan dicampakkan dan tak diingat lagi sebagai putri penggembira

Diam

Biarkan diam yang bicara Menemani malam yang sepi Karena kata tak juga sanggup mewakili rasa Biarkan diam menemani jarak Mengisi ruang kosong dalam labirin waktu Karena waktu tak mampu mengisi kekosongan Kali ini biarkan diam mengambil alih....

Jangan Berjalan Waktu

Jangan berjalan waktu Ada rasa yang ingin abadi di sini Ada kenangan yang tak ingin melapuk dalam lemari waktu Ada hati yang tak rela untuk melepaskan Jangan berjalan waktu Tetap di sini dalam detik ini Ada takut untuk melihat matahari esok Ada sebuah rasa yang tak ingin lepas hari ini Jangan berjalan waktu Jangan beranjak Tetaplah di sini Beku dalam waktuku

Diam

Sebab diam adalah keangkuhan. Namun diam juga serupa tameng Membekapmu dalam rindu yang meledakkan dada Menemanimu menyulam rasa yang tak terbahasakan Sebab diam adalah perlawanan Dari mereka yang ribut akan segala carut marut Menemanimu sepi hatimu dalam hiruk pikuk pasar Membekapmu dalam ketakinginan berdebat Jangan diam padaku sebab aku menunggumu berucap...

Beku

Ada serupa beku di sini, meski matahari meranggas sepanas Sahara Ada sebuah detak yang berhenti di sini, serupa hidup yang terus kembali Tapi waktu tak pernah berhenti, Ia adalah sebuah keniscayaan Hingga tiap pendedah waktu lelah bekerja, ia akan tetap melaju Dan aku di sini masih terperangkap beku yang menghilangkan akal sehat...

Semesta Hujan

Mungkin ada yang salah dengan duniaku Disaat semua dunia lain basah oleh hujan dan tergenang oleh air Tak ada jejak hujan di sini Tanah masih kering, kerikil masih berdebu dan dedaunan menguning Dalam hujan selalu ada kasih Dalam hujan selalu ada rasa yang menyejukkan Dalam hujan ada dahaga yang terhapus Hujan mengalirkan duka Menyembunyikan isak tangis yang sesegukan Setelah hujan selalu ada pelangi yang menghiasi langit Selalu ada langit biru yang menetramkan Duniaku berdoa agar hujan turun di sini

Aku dan Tuhanku

Tuhan, Kau lahirkan aku tak pernah kuminta Dan aku tahu, sebelum aku Kau ciptakan Berjuta tahun, tak berhingga lamanya Engkau terus menerus mencipta berbagai ragam Tuhan, pantaskah Engkau memberikan hidup sesingkat ini Dari berjuta-juta tahun kemahakayaan-Mu Setetes air dalam samudra tak bertepi Alangkah kikirnya Engkau, dengan kemahakayaan-Mu Dan Tuhanku, dalam hatikulah Engkau perkasa bersemayam Bersyukur sepenuhnya akan kekayaan kemungkinan Terus menerus limpah ruah Engkau curahkan Meski kuinsyaf, kekecilan dekat dan kedaifanku Di bawah kemahakuasaan-Mu, dalam kemahaluasan kerajaan-Mu Dengan tenaga imajinasi Engkau limpahkan Aku dapat mengikuti dan meniru permainan-Mu Girang berkhayal dan mencipta berbagai ragam Terpesona sendiri menikmati keindahan ciptaanku Aahh, Tuhan Dalam kepenuhan terliput kecerahan sinar cahaya-Mu Menyerah kepada kebesaran dan kemuliaan kasih-mu Aku, akan memakai kesanggupan dan kemungkinan Sebanyak dan seluas itu Kau limpahkan kepadaku ...

Dua Sisi Koin

Seperti dua sisi koin yang saling menyebelah Berbeda tapi saling bersisihan Padanya mungkin akan kau serahkan nasibmu Kepala atau ekor Aku menyukai semuanya Nasib baik tidak selalu pada gambar kepala Aku menemukan dua cerita yang sama-sama menyenangkan Pada kepada atau pun pada ekor

Putri....

Apa yang kau cari di semalaman ini putri? Terjaga dalam dingin malam yang sepi Menjelajahi maya yang tak bertepi Ada sunyi yang kau cari di gelap malam Ada detak waktu yang menemani sendirimu Apa yang sedang kamu tunggu dalam pasung waktu itu? Adakah hati mencari jalan untuk mengangkasa? Adakah ia terobati dari penawar rindu yang terus kau telan? Tubuhmu kian resisten terhadap penawar itu Kau masokis,putri Surealis adalah gapaianmu Kabut itu tak tergapai oleh jemari kecilmu Akan kubuatkan kembali kau obat penawar itu Sekalipun itu mematikan hingga sistem sarafmu Agar aku mampu menarikmu kembali ke fana Sekali pun itu membuatmu tertidur selamanya Tapi itu menyembuhkanmu....

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. "Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, "Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit." Sapardi Djoko Damono 1982

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Sapardi Djoko Damono (Meski ini September, tetap aja hujan)

Melihat Bulan

Semalam aku melihat bulan Aku melihat awan berarak tipis menutupinya Aku berbaring di bawah kolong langit Aku merasa sangat kaya Semesta malam menjadi milikku Aku menghitung bintang Mencari yang paling terang Tak ada batas teriotori di langit Ia luas dan begitu bebas Aku ingin mengajakmu kelak melihat bulan Seperti peribiru dan kesatria putih yang menyenangi bulan Aku tak ingin memilikinya langit berselimut bintang itu sendiri Aku ingin membaginya bersamamu Dan kita akan sangat kaya karena memiliki langit malam

(Untitled)

The day I notice you is the day that my world make sense Everyday I think about you makes my heart felt so intense How's that possible, one women turn my world upside down. How's that possible, one women keeps me up all night long. If you're willing, I like to get to know you more. What makes your heart sing, what make keeps your heart warm. If you are willing... -R- Dari seorang kawan yang telah mencari ilham dan menemukannya di "Teras" menuliskan puisi romantis ini untuk seseorang karena permintaanku... Tapi sepertinya aku menyimpannya untuk diriku sendiri... Sorry...:)

My Favorite Poems

Ada dua puisi yang memenjarakan hatiku karena kaimat-kalimatnya. Aku mencatatnya hingga menghapalnya. Dua puisi ini selalu aku persiapkan untuk hukumanku jikalau aku terlambat breefing. Tapi Lucky me, jarang terlambat. Pertama dari Sapardi Djoko Darmono Aku ingin Mencintaimu dengan Sedehana Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu pada api yang menjadikannya tiada Aku ingin Mencintaimu dengan sederhana Seperti isyarat yang tak mampu disampaikan hujan pada awan yang menjadikannya tiada Kedua dari Dee dalam buku Supernova –Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh- Engkau adalah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama dalam cakrawala aksara Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian Gerakmu tiada pasti, Namun aku terus di sini.Mencintaimu. Entah kenapa.