Skip to main content
Here i am. Sitting on the sofa with gloomy heart.  Hari senin saat ini. Saya menatap layar laptop sesekali merefresh halaman web yang saya kunjungi. Pagi ini sedikit lebih santai dari hari-hari sebelumnya. Pekerjaan rumah selesai lebih cepat. Ara berangkat ke sekolah dengan mobil jemputan. Suami berangkat kerja lebih pagi. Anna memakan sarapan buburnya yang aku pesan di tetangga rumah. Beberes lebih cepat dari biasanya karena minus mengepel. I started my leyeh-leyeh very early yang kemudian berujung pada galau yang membuncaH.

Disebabkan oleh sebuah senin yang harusnya mengobati. Too bad senin kali ini episode terakhir dari Game of Thrones musim ke tujuh. Virus drama ini sukses ditularkan oleh Emma. Dia memaksa saya untuk menontonnya.  Di beberapa episode awal saya hampir menyerah. Selesai menonton musim pertama pun saya masih belum tertarik. Baru di musim-musim selanjutnya saya menemukan keseruan.

Telat? banget. Nyesel? Ga juga sih. Ada yang bilang orgasmenya pas di season 7 ini,tapi buatku telat orgasme ga papa yang penting tetap orgasme. Hahahaha. Musim ke tujuh ini cukup membuat penasaran. Cerita makin seru dan naga-naga sudah muncul. Sayangnya episodenya sangat singkat. Ini kayak LDRan sama pacar, baru ketemu bentar udah mo pergi lagi. Tapi musim 8 bakal paling tragis. Soalnya serial ini bakal tamat, jadi rasanya bakal seperti putus ama pacar padahal lagi sayang-sayangnya.

"Setelah serial ini selesai atau episode terakhir musim ini selesai, bagaimana saya melanjutkan hidup?",, pertanyaan ini selalu menjadi bercandaan saya sama Emma. Segala opsi sudah dipertimbangkan, mulai dari punya pacar, menikah, sampai hamil lagi sudah dimasukkan. Tapi kalo buat aku sih sederhana, cukup mencari serial drama lain yang seru juga. Sama halnya seperti cari odo-odo'baru. Efek kupu-kupunya bakal beda sih, tapi sekurang-kurangnya bisa bikin move on lah.

Anyway, demikianlah curhat tak jelas ini...saya mau cek web streaming dulu. Kali aja udah update, mumpung Anna lagi lelap.

Comments

Popular posts from this blog

Setelah Setahun

Sore ini saya menyempatkan diri ke Watampone. Ibukota kabupaten Bone tempat saya tinggal.Berjarak 20 km dari kampungku. Tak ada maksud lain. Hanya sekedar menemani orang rumah ke sana. Melihat-lihat keramaian. Awalnya sempat kuurungkan niatku untuk ikut. Sendirian mungkin baik buatku untuk menulis. Tapi rasanya aneh juga untuk sendirian di rumah. Anggaplah sekedar jalan-jalan, pikirku. Aku tak punya kenangan masa kecil di kota ini. Selain sebuah toko di pusat kota (biasa disebut sentral) bernama Naga Sari tempatku membeli majalah bobo dan majalah remaja. Yang disampingnya dulu entah sebelah mana ada toko kaset tempat kakakku membeli kaset dari Kahitna hingga Bon Jovi. Selain itu aku tak punya lagi kenangan tentang kota ini. Saat SMA kelas dua bersama teman mengikuti sebuah lomba tingkat kabupaten. Aku pun mulai mengenal lebih jauh lagi tentang kota ini. Ada sisi kota lain selain sentral. Sisi yang lebih ramai kala malam. Yang lampunya lebih banyak dan belum tidur saat jam 9 malam. Si...

Megamind : Ketika Penjahat Menjadi Pahlawan

Bayangkan jika bayi superman tidak jatuh di lahan pertanian Mr. Kent di Amerika. Bayangkan jika bayi super itu jatuh di Rusia (Cinemags,November 2010)? Berangkat dari imajinasi itu dreamworks terilhami untuk membuat film animasi Megamind. Siapa Megamind?  Dia adalah makhluk planet lain berwarna biru sekujur tubuhnya dan memiliki ukuran kepala yang sangat besar. Seperti kepala anak pederita Hidrosepalus. Dia adalah penjahat paling keji kota Metro. Memiliki lawan tangguh bernama Metroman yang juga makhluk planet lain yang berbeda dengan Megamind. Film diawali dengan jatuhnya Megamind dari gedung tertinggi. Ia pun kemudian memikirkan bahwa itu adalah akhir hidupnya. Scene berganti dan ia pun menuturkan latar kehidupannya. Megamind kecil dimasukkan dalam rocket kapsul  bersama seekor ikan, penjaganya, bernama minion. Planet tempatnya tinggal tersedot oleh black hole di ruang angkasa.Rocket kapsulnya melesat ke angkasa. Ternyata tak cuma ia sendiri, seorang bayi dari planet ...

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yan...