Skip to main content

Suka Duka Tinggal di Apartemen

        Margonda Residence Tahap 1 

Tinggal di apartemen. Kedengarannya keren ya. Apartemen identik dengan iklan-iklan property yang dibawakan oleh Feny Rose dengan konsep ala bintang lima ditambah pesan "besok harga naik. Tapu  tidak semua yang kedengaran keren adalah keren. 

Pertama kali mengunjungi apartemen dan melongok ke dalam ruangannya, waktu saya mengunjungi adik ayah saya di apartemen Kalibata City. Lorong-lorong sempit dengan akses yang hanya bisa digunakan oleh pemilik apartemen. Privasi sangat dijaga dan ini menjadi salah satu sisi positif tinggal di apartemen. 

Awalnya saya membayangkan ruang luxury dengan jendela kaca yang besar dan beranda yang luas. Tapi kayaknya bayangan saya akan apartemen terlalu merujuk pada acara Feny Rose yang tadi. Yang saya temui hanyalah ruang tengah ukuran sempit dengan dua kamar plus satu kamar mandi kecil. Sejak itu apartemen luxury dalam bayanganku pupus sudah. 

Di Athens, kami menempati gedung tinggi dengan konsep apartemen. Nah, apartemen yang bernama Riverpark ini pun jauh dari acara Feny Rose. Namun, ruang tengahnya cukup luas dengan jendela lebar, pada tingkat yang lebih atas ada beranda untuk menikmati sore. Dapur dengan kompor empat mata plus oven, serta kamar mandi ber-bathtub. Kamarnya pun ada tiga, cukup menyimpan satu tempat tidur ukuran super king dan satu tempat tidur single plus satu meja belajar. Lumayan luas lah. Tapi bayarnya $500/bulan persatu ruang kamar yang disewa. Sewanya harus full. Jadi kalo nda ada roommate ya bayarnya dua kali lipat. Mahalnya!!!

Nah, di Depok ini kami pun tinggal di apartemen. Tapi saya lebih suka menyebutnya rumah susun. Kamar yang kami sewa bentuk studio. Kamar tidur, ruang tengah, ruang makan, dan ruang tamu digabung dalam ukuran 3 x 4 m. Dapur kecilnya cuma muat saya kalo di tambah Ara, rasanya sudah sesak. Kamar mandinya pun sesempit dapurnya. 

Sekalipun sempit-sempitan tapi rasanya cukup menyenangkan tinggal di sini. Saya bisa eksperimen di dapur, bersihin rumahnya cepat karena sempit, tetanggaan sama empat mall, dan bisa berenang setiap hari karena ada fasilitas kolam renang. 

Nda enaknya adalah mencuci harus tergantung laundry. Hiks. Mengakalinya dengan menyicil cucian baju. Sayangnya ini pun penuh tantangan. Tidak ada balkon untuk menjemur baju, yang ada hanya jendela yang terbuka di bagian atas. Gantung jemurannya pun penuh resiko. Bajunya bisa jatuh ke balkon sempit tempat mesin AC yang sangat susah buat diambil atau jatuh di jalan. Apalagi apartemenku berada di lantai ke lima dari lantai dasar. Kalo Fira Basuki dalam novel Jendela-Jendela menggambarkan kibaran-kibaran cuciannya tergantung di bambu-bambu yang melintang, maka cucianku dicantol di jendela-jendela. Yang harus dicek tiap beberapa menit takutnya sudah ilang karena ketiup angin. Hmm..berikutnya tak ada halaman yang bisa ditanami sayur. Padahal saya sangat ingin bercocok tanam. Satu lagi akses masuk ke apartemen begitu dijaga privasinya sehingga kunci akses untuk membuka pintu otomatis hanya diberikan kepada satu orang untuk satu kamar. Jadinya kalo nda punya kunci nunggu di depan pintu sampai ada orang yang mau masuk atau nunggu orang mau keluar. Ribetlah. 

Yang asyik juga di Apartemen Margonda ini adalah banyak orang-orang luar negeri. Dari orang Asia hingga bule pirang. Jadi berasa seperti di lingkungan  internasional hanya saja nda pernah bertukar sapa sih. Hahahahaa.

      Margonda Residence Tahap 2 

Nah, kalo apartemenku kedengaran keren, maka apartemen tahap II di samping apartemenku ( tahap I) keliatannya lebih keren lagi. Lobbynya luas dengan sofa dan pintu-pintu kaca. Terus kolamnya lebih luas dan cantik. Rumput tetangga memang selalu lebih ijo dan lebih mahal. Eh, tapi entah apartemen yang mana antara tahap 1 atau tahap 2, Margonda Residence ini pernah masuk berita kriminal tentang kasus pembunuhan dan mutilasi. Kasus si Ryan itu. Saya tidak pernah menggoggleing untuk cari tahu di apartemen nomor berapa si Ryan pernah tinggal. Jangan-jangan di kamar yang saya sewa lagi. Hih!!!!!

Depok, 26 Juli 2014

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Solo dan Cerita Tentangnya

               Saya membayangkan Solo sebagai kota kabupaten yang sederhana. Kental unsur Jawa dan batik menjadi sumber penghidupan bagi para warganya. Ketika berkunjung ke kota ini pekan lalu saya menemukan cerita yang lain.  Solo menjadi kota yang sangat ingin saya kunjungi setelah beberapa tahun lalu mengunjungi Yogyakarta. Yogyakarta yang sangat Jawa, warung di sepanjang jalan, padat, dan penuh bule. Saya membayangkan Solo adalah kebalikan dari segala hingar bingar Yogyakarta.  Saya, suami, dan anak merencanakan berangkat hari jumat sore.  Sayangnya, kami kehabisan tiket kereta di stasuin gambir. Catatan penting, jangan merencanakan melakukan perjalanan dengan membeli tiket kereta perjalanan jauh di stasiun di menit terakhir akan berangkat. Tiket habis. Bahkan untuk tiket kereta eksekutif yang harga sekitar 450ribu perorang. Kami lantas memilih untuk menggunakan moda transportasi pesawat terbang yang harganya relatif sama dengan...

Chinese New Year's Story (Just For Fun)

Amani : Si Ne Er Kuai Le Ara : Gong xi Gong Xi  Ara : Let's ask for angpao Amani : That's a great idea                                 After a while....... Ara  : i got cellphone Amani  :  i just got rundown program of chinese new year Ara : maybe there's money inside the paper Amani : I hope so Amani : What are you doing? Ara : I'm Checking my facebook Amani : Do you have facebook? Ara : Absolutely  Amani : let me see Ara : Wait, i wanna twit our picture   Amani : Do u also have a twitter? Ara : Sure. Do you have?  I will follow u Amani : i should ask for cellphone instead of  piece of paper Ara : Yes, you should...hahaha Ara : Anyway, let's play around. I don't know how to use cellphone Amani : oke...

Stoples Bekas Selai Untuk Jar of Heart

Jar of heart :D Sebuah ide tiba-tiba muncul ketika membaca postingan mbak Winda Krisnadefa tentang toples bekas (baca disini ). Idenya sederhana, yaitu menuliskan best moment yang kamu alami sepanjang tahun 2013. Tulis singkat-singkat di kertas kecil kemudian masukkan dalam toples atau wadah apa saja yang kamu mau. Maksud dan tujuannya adalah biar selalu mensyukuri hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Nah, mumpung Januari belum berlalu maka tidak ada salahnya untuk memulai kegiatan ini. Menuliskan setiap best moment yang kita alami. Saya pribadi mendefinisikan best moment bukanlah hal-hal glamor yang terjadi sekali seumur hidup. Bagi saya best moment adalah moment-moment sederhana yang membuat kita bersyukur akan hidup. Misalnya menyelesaikan satu tulisan yang telah lama tidak selesai. Menemani anak bermain-main. Hal-hal sederhana yang membuat saya selalu bersyukur. Saya menyimpan toples bekas selai beberapa waktu lalu. Awalnya saya tidak tahu hendak menggunakannya ...